
Baubau, Sultra – Suasana khidmat dan haru menyelimuti kediaman pengantin wanita di Lorong Taksi Lama, Kota Baubau, saat berlangsungnya akad nikah Maulana Imam Makruf, S.Pd dengan Hajrahwati, S.H., MH. Prosesi sakral yang berlangsung Kamis (25/6) ini menjadi perpaduan sempurna antara nilai-nilai keagamaan dan kekayaan adat Tomia yang sarat makna.
Kemeriahan Adat Tomia di Tengah Kota
Sebelum akad nikah digelar, prosesi adat pernikahan khas Tomia terlebih dahulu memukau para hadirin. Tutur bahasa Tomia yang kental mengalun indah, membuat ibu-ibu yang hadir terpaku menyimak setiap rangkaian adat yang berjalan dengan lancar. Kehangatan budaya Tomia terasa begitu kental meski acara berlangsung di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
"Pantun dulu kami sampaikan,
Sebelum akad kita mulai,
Adat Tomia kami junjung tinggi,
Agar pernikahan berkah abadi."
Prosesi Akad yang Menggetarkan Hati
Dipandu oleh Ustaz H. Zainudin, S.Pd, akad nikah diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Selanjutnya, Bapak Hamizu, S.Ag yang mewakili Kantor Kementerian Agama Kecamatan Murhum memandu jalannya proses akad nikah hingga tuntas.
Meskipun berlangsung selama satu setengah jam, para hadirin tak henti-hentinya terpukau menyaksikan kelancaran prosesi ijab kabul. Sebuah momen menarik terjadi saat Wali nikah sempat terbata-bata dalam pengucapan, namun dengan sigap mendapat arahan perbaikan dari pihak KUA Kecamatan maupun H. Zainudin, S.Pd selaku Nakoda Adat dari pihak mempelai pria.
"Bata-bata walinya bicara,
Tapi niatnya tulus semata,
Dibimbing ustaz dengan sabar,
Ijab kabul jadi sempurna."
Nasihat Penuh Air Mata dari Kiyai Ahmad Syarif
Puncak haru terasa saat Kiyai Haji Ahmad Syarif S.Sos.I., M.Pd dari pondok pesantren ternama di Kota Baubau memberikan nasihat pernikahan. Dengan suara terbata-bata dan air mata yang mengalir, beliau menyampaikan kesaksiannya:
"Yang kawin hari ini adalah putra-putri kami. Hajrah telah mengabdi kepada saya selama 5 tahun, dan Maulana telah mengabdi selama satu tahun. Hari ini saya berikan nasihat dalam perkawinan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada keluarga baru ini."
Doa keberkahan yang dipanjatkan Kiyai Ahmad Syarif membuat seluruh hadirin larut dalam haru dan tak kuasa menahan air mata.
Sungkeman: Momen Penuh Makna
Di akhir acara akad nikah, digelar prosesi sungkeman yang mengharu-birukan suasana. Kedua mempelai bersimpuh di hadapan orang tua masing-masing, memohon restu dan maaf. Tangis haru pecah saat kedua orang tua memeluk erat putra-putri mereka yang kini telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Manga Hala-hala dan Injak Tanah: Syukuran Penuh Kebahagiaan
Puncak acara ditutup dengan prosesi Manga Hala-hala, yaitu syukuran kedua pengantin yang dipandu oleh tetua adat. Suasana semakin meriah dengan dilanjutkannya prosesi injak tanah sebagai simbol bahwa kedua mempelai siap mengarungi bahtera rumah tangga.
"Sudah sah jadi suami istri,
Dengan adat Tomia yang sakral,
Manga Hala-hala kita rayakan,
Injak tanah jalani kehidupan."
Kebahagiaan yang Terpancar
Seluruh rangkaian acara yang berlangsung khidmat ini membuat para hadirin merasa puas dan terharu. Perpaduan adat Tomia yang kental, prosesi keagamaan yang sakral, serta nuansa kekeluargaan yang hangat menciptakan momen pernikahan yang tak terlupakan bagi kedua mempelai dan seluruh keluarga.
"Tomia adat kita jaga,
Di tanah rantau tetap lestari,
Maulana dan Hajrah bersatu,
Semoga rumah tangga sakinah abadi."
Selamat kepada pasangan baru, Maulana Imam Makruf, S.Pd dan Hajrahwati, S.H., MH. Semoga Allah SWT memberkahi pernikahan ini dan menjadikan kalian keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.