Hari ini, langit Kendari cerah, tapi hati saya berdesir dua rasa: tenang dan haru. Saya masih dalam masa menunggu keberangkatan menuju Lampung—sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya soal mengganti kota, tapi mempertemukan dua babak penting dalam hidup.
Sebelum berangkat, saya sempatkan diri kontrol kesehatan ke dokter spesialis THT di Rumah Sakit Bahteramas. Duduk di ruang tunggu RS, saya merenung betapa badan harus tetap sehat untuk mengantarkan anak ke pelaminan. Dokter ramah, pemeriksaan berjalan lancar, aman. Petugas kesehatan melaporkan bahwa tinggi badan Bapak 174 cm, berat badan 73 Kg, tekanan darah 110/79, Nadi 81 dan health scale 160
"Pak, untuk selanjutnya bisa ambil rujukan di puskesmas Lepo-Lepo atau Poasia, ya." Saya hanya mengangguk, mencatat dalam ingatan. Tapi hari ini terasa lain. Tiba-tiba saya tersadar—sistem dan prosedur kesehatan berputar begitu teratur, sementara hidup saya sendiri sedang menuju sebuah lompatan besar: pernikahan anak.
Putra ketiga saya, yang sejak kuliah di Makassar telah memilih seorang gadis untuk menjadi teman hidupnya, kini sudah berangkat lebih awal ke Lampung. Ia didampingi ibunya—istri saya, perempuan tangguh yang selalu sigap mengatur segalanya. Kata terakhir dari mereka, si anak dan calon menantu kini sedang menjalani bimbingan pranikah di kantor KUA setempat. Materi disampaikan, doa-doa dipelajari, dan dua hati muda itu dibimbing menapakkan langkah ke jenjang yang lebih serius.
Informasi dari petugas kesehatan hari ini di Kendari tentang rujukan puskesmas baru terasa seperti simbol kecil: Tapi hari ini, di sela-sela jadwal kontrol THT dan catatan medis, ada satu hal yang lebih kuat daripada segalanya: doa seorang ayah.
Saya bersiap terbang ke Lampung untuk menyaksikan anak saya memulai bahtera baru. Besok 8 Mei jadwal keberangkatan dengan lion, tapi hati saya merasa sudah terbang. Semoga semua urusan lancar dan yang terpenting, pernikahan itu berjalan penuh berkah yang terselenggara tanggal 10 Mei 2026, jam 9 Pagi di rumah orang tua mempelai perempuan Pringsewu Lampung Sumatera, sesuai undangan Walimatul Ursy yang sudah diedarkan pada kalangan keluarga dan tetangga mempelai perempuan.
Lampung menanti saya. Di sana, bukan hal lain, tapi panggung kebahagiaan yang akan menjadi kenangan seumur hidup.