Aku berjalan menyusuri trotoar Jalan Thamrin yang panas dan berdebu, menunduk sesekali menghindari ubin yang copot. Di telinga, klakson busway bersahut-sahutan dengan suara "kring" dari tukang bakso keliling yang macet di lampu merah. Jakarta, 2026. Metropolitan yang tak pernah tidur.
Hitungan tahun lalu, ada sekitar 10,66 juta jiwa yang tinggal di Jakarta. Tapi kalau dihitung kawasan metropolitan yang bergerak seperti satu jantung raksasa—termasuk Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi—populasinya menyentuh 11,8 juta jiwa. Bandingkan dengan tahun 1992. Waktu itu Jakarta baru saja berulang tahun ke-465, dan jumlah penduduknya tercatat sekitar 10 juta jiwa. Memang tidak terpaut jauh secara angka, tapi rasanya? Dulu 10 juta orang terasa begitu longgar. Kini 11 juta jiwa terasa seperti 20 juta karena semuanya bergerak di waktu yang sama, di jalan yang sama.
Seorang teman yang lahir di Jakarta pada 1992 pernah bercerita, "Dulu, suara di pagi hari itu suara ayam berkokok dan burung gereja. Sekarang, yang bangunin aku suara knalpot bising dari jalan raya dan padel—ya ampun, suara pantulan bola padel itu keras sekali, sampai jam 12 malam!" Memang, baru-baru ini pemerintah Jakarta sampai harus mengatur ulang izin lapangan padel karena warga di Cilandak, Jakarta Selatan, mengeluh "noise disturbance day after day" sejak jam 6 pagi hingga tengah malam. Sekarang aturannya ketat: untuk lapangan di zona pemukiman, kebisingan harus di bawah 70 desibel dan wajib kedap suara.
Itu baru suara olahraga. Bayangkan suara kota di tahun 1990-an. Belum ada suara deru MRT, belum ada suara pesawat Low Cost Carrier yang mendarat setiap 5 menit, belum ada suara notifikasi Gojek yang berdengung di 50 handphone sekaligus. Dulu, suara yang paling dominan mungkin suara becak, suara KRL yang masih unit bekas Jepang dengan kipas angin di langit-langit, dan suara teriakan "Baper!!" dari abang bakso.
Jakarta memang beda. Dari pelabuhan kecil Sunda Kelapa yang tenang di abad ke-16, berubah menjadi Jayakarta, lalu disulap Belanda menjadi Batavia dengan kanal-kanalnya yang mirip Amsterdam. Lalu Sukarno bangun monumen-monumen megah, Ali Sadikin bikin Taman Ismail Marzuki, dan tiba-tiba Jakarta menjadi primadona Asia Tenggara.
Kini, meskipun statusnya sudah tidak menjadi Ibu Kota Negara sejak 2024, Jakarta tetap "kota paling sibuk di tanah air". Gedung-gedung pencakar langit di SCBD berdiri rapat seperti sarden kaleng. Di bawahnya, para karyawan berlarian dengan kopi starbucks di tangan, berteriak ke ponsel karena sinyalnya putus-putus tertutup beton.
Tapi kalau aku boleh jujur, di sela-sela kebisingan itu, Jakarta masih menyisakan keindahan. Ada senja di kawasan Kota Tua ketika lampu-lampu temaram mulai menyala dan suara sepeda ontel menggantikan suara klakson. Ada pagi di kawasan TMII ketika burung-burung masih bernyanyi sebelum suara bedug dan lonceng gereja bersahutan.
Seperti kata orang-orang: Jakarta memang macet, panas, bising, tapi nggak ada kota lain yang semagis ini.
Kebisingan di Jakarta memang naik drastis. Yang paling kentara adalah suara transportasi dan hiburan malam yang sekarang diatur batas desibelnya. Tapi sebenarnya kalau mau jujur, dulu tahun 1992 juga masalah polusi udara dan kemacetan sudah menjadi "momok" bagi warga Jakarta. Bedanya, dulu polusi berasal dari asap pabrik dan knalpot mesin tua; sekarang dari debu proyek MRT dan asap kendaraan yang jumlahnya berlipat ganda.
Menariknya, meskipun Jakarta sudah resmi melepas statusnya sebagai ibu kota, denyutnya sebagai pusat ekonomi dan budaya malah makin kuat. Fenomena "jakarta sinkhole" (ambles) dan banjir masih jadi PR besar.