
Baubau, 10 Februari 2026 – Pekan ini, ada satu program nasional yang jadi buah bibir hangat di kalangan pengusaha dan petani di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara: Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan sekadar cerita pembagian makanan, program Presiden ini dinilai punya efek domino yang nyata hingga ke pelosok desa.
Seorang pengusaha kapal ternama asal Baubau, M. Nur, yang sehari-hari melayani perusahaan tambang di Morowali, secara blak-blakan memberikan apresiasinya. Dalam acara kumpul keluarga "Sabangka Gathering" di sebuah kafe setempat, M. Nur menyebut bahwa MBG adalah "instrumen ekonomi riil di tingkat akar rumput."
Mengapa? Ceritanya begini. Pagi harinya sebelum gathering, M. Nur mendengar langsung keluh kesah gembira dari para petani di Desa Wakalambe. Ternyata, hasil kebun sayur mereka sekarang sudah dipesan langsung oleh para pelaksana program MBG. Para petani itu tak perlu lagi pontang-panting membawa hasil bumi ke pasar dengan risiko harga anjlok atau tidak laku.
"Ini korelasi yang jelas, MBG membuka pasar pasti bagi petani lokal. Uangnya berputar di desa, bukan mengalir ke kota besar atau korporasi ritel," ujar M. Nur dengan semangat, disambut anggukan hadirin.
Tapi, ada syarat mutlak yang ditekankan pengusaha ini: Bahan baku harus tetap lokal. Selama MBG menggunakan pasokan dari petani, nelayan, dan UMKM desa, program ini akan terus relevan mendorong ekonomi pedesaan.
Namun, M. Nur juga memberikan catatan kritis yang patut menjadi perhatian. Ia memperingatkan, jika suatu saat bahan baku MBG justru disuplai dari minimarket besar seperti Alfamidi atau Indomaret, maka metodologi awal program akan melenceng. "Itu berbahaya. Dampak ekonomi ke desa akan hilang," tegasnya.
Menariknya, di akhir diskusi, M. Nur mengajak Dewan Pendidikan Kota Baubau untuk ikut mengawal program ini. "Dewan Pendidikan punya peran strategis. Beri penilaian objektif dan dorongan agar MBG tetap sesuai semangat aslinya," pungkasnya.
Kesimpulan Cerita Pekan Ini:
MBG di Baubau bukan hanya soal anak-anak kenyang, tetapi sudah berhasil menjadi mesin ekonomi desa yang nyata. Kuncinya sederhana: pastikan bahan baku dari lokal. Jika konsistensi ini dijaga, maka presiden tak hanya memberi makan gratis, tapi juga menghidupkan kantong petani di ujung-ujung daerah.