
Bau tanah dan belerang masih membekas di sela-sela jari tangan saya. Seminggu penuh di Mahameru, bergulat dengan dingin yang menusuk sumsum dan angin kencang yang hampir menerbangkan tenda, terasa seperti mimpi panjang yang akhirnya usai. Kini, perjalanan turun membawa saya menyusuri kota-kota di kakinya.
Alih-alih segera meluncur ke tol, saya memilih menyusuri jalan setapak menuju Desa Amadanon, sebuah dusun kecil yang tersembunyi di lereng, masih dalam kawasan dingin kaki gunung. Udara di sini menusuk tulang, bahkan lebih dingin dari yang saya bayangkan. Tepat di pagi hari yang masih diselimuti embun tebal, saya melihat sesosok nenek tua duduk di kursi bambu di depan rumah papan sederhana. Wajahnya keriput namun matanya masih jernih dan bersinar.
Saya mendekat, dan beliau menyapa dengan suara parau namun lembut. "Nak, dari mana? Badanmu menggigil kedinginan." Saya ceritakan tentang pendakian Semeru dan rencana ke Surabaya. Nenek itu menggeleng-geleng kasihan. Tanpa diminta, ia beranjak pelan ke dapur, lalu kembali dengan dua cangkir kopi tubruk hangat. "Minumlah," katanya. "Kasihan sekali perjalananmu di bawah suhu dingin Amadanon ini. Badan muda, tapi kalau tak dirawat, masuk angin nanti."
Saya tersentuh. Nenek itu ternyata berusia tepat 100 tahun! Usianya sudah seabad, namun ketulusannya masih segar. Saya melantunkan pantun untuk menghormati beliau:
"Kain batik bermotif parang, Dipakai nenek di hari tua. Seratus tahun usianya masih bugar, Kasihan melihatku, 'Mari minum kopi dulu saja.'"

Nenek tertawa kecil, memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa. Aroma kopi tubruk bercampur jahe dan gula aren langsung merambat ke seluruh pori-pori. Hangatnya bukan hanya di tenggorokan, tapi juga di dada. Saya tambahkan pantun sambil menyeruput perlahan:
"Gula jawa manis dan legit, Dicampur jahe hangat rasanya. Hangatnya kopi bukan dari api, Tapi dari kasih nenek tua nan bijaksana."
Setelah perut hangat dan hati tersenyum, saya pamit pada nenek. Beliau meremas tangan saya lembut. "Hati-hati di jalan, Nak. Surabaya memang panas, tapi bawalah dingin Amadanon ini sebagai kenangan." Saya mengangguk, menahan haru.
Singgah sebentar di Pasuruan, saya memesan kopi pahit, ditemani nasi goreng dan telur dadar sederhana di sebuah rest area. Hangatnya kopi itu jadi obat penat pertama setelah berhari-hari hanya mengandalkan air hangat dari termos. Perut terisi, semangat pun merangkak naik.
Dari Pasuruan, saya belum langsung memburu tol menuju Surabaya. Ada hasrat kecil untuk mengabadikan keindahan gunung-gunung yang menemani perjalanan. Di kaki Gunung Arjuna, saya berhenti. Hamparan hijau dan kabut tipis menyelimuti puncaknya. Tak jauh dari situ, Gunung Anjasmoro yang kembar tampak gagah, sementara Gunung Penanggungan yang unik dengan puncak miringnya berdiri anggun di kejauhan. Saya berlari kecil mengatur sudut kamera, dan klik—abadilah!

Sambil tersenyum, saya melantunkan pantun kecil untuk diri sendiri:
"Burung camar terbang ke utara, Singgah sebentar di pohon beringin. Kaki Arjuna kuambil foto bersama, Anjasmoro dan Penanggungan turut tersenyum riang."
Lalu pantun kedua mengalir begitu saja, mengingatkan betapa indahnya ciptaan Tuhan:
"Pohon pinus rindang menghijau, Di kaki bukit kabut berarak perlahan. Tiga gunung kokoh menyangga langit, Semua kuabadikan dengan penuh kegembiraan."
Memasuki jalan tol menuju kota Surabaya, suhu mulai berubah drastis. Kaki Gunung Arjuna yang tadi dingin kini perlahan terpengaruh oleh sengatan kota pahlawan. Kota Surabaya di siang itu terasa sangat hangat—bahkan gerah—dibandingkan dingin membeku di Ranu Pani atau desa Amadanon. Menyusuri jalan-jalan metropolitan, kota terbesar kedua setelah Jakarta ini terasa semrawut, tapi justru di situlah letak pesonanya.
Sebagai pejalan pack bagger kantong tipis, saya segera menggulirkan ponsel mencari penginapan murah. Alhamdulillah, dapat kamar seratus ribu rupiah, bersih, dengan kipas angin tua yang berputar pelan meniupkan angin sepoi-sepoi. Cukup nyaman untuk meregangkan otot-otot yang kaku.
Malam harinya, saya turun ke warung rawon dekat penginapan di kawasan Gubeng. Seorang ibu penjual menyapa saya dengan senyum lebar. "Mas, habis dari mana? Mukanya kusam banget, kayak orang kurang tidur." Saya ceritakan tentang Semeru, tentang Arjuna, Anjasmoro, Penanggungan, dan tentang nenek 100 tahun di Amadanon. Ibu itu ternganga kagum, lalu tanpa diminta, ia menambahkan ekstra daging dan kuah hitam pekat ke dalam mangkuk rawon saya. "Makan, Mas. Dingin di sana, panas di sini. Biar adaptasi," katanya sambil terkekeh.
Di trotoar, seorang bapak tua penjual gorengan menyodorkan segelas teh jahe hangat. "Nih, buanget. Buat ngilangin pegal," katanya. Kami ngobrol tentang anaknya yang kuliah di Malang dan tentang betapa ramainya Surabaya meski cuacanya menyengat.
Saya melantunkan pantun terakhir untuk menutup hari:
"Surabaya kota pahlawan, Panasnya terik membakar kulit. Tapi hati hangat karena keramahan, Penginapan murah dengan kipas yang berputar pelan."
Di situlah kehangatan itu benar-benar menghantam dada saya. Selama seminggu di gunung, saya hanya berbicara dengan alam. Saya mendaki menjauh dari manusia, mencari kedamaian di ketinggian. Namun justru di kota sekota Surabaya yang paling padat dan panas ini—ditambah kenangan akan secangkir kopi dari nenek seratus tahun di Amadanon—saya menemukan kehangatan manusiawi yang tulus dan berlapis.
Saya teringat dinginnya puncak Mahameru yang menyisakan rasa kaku di ujung jari. Namun Surabaya, dengan segala kepadatan dan panasnya yang terkenal, justru mengembalikan denyut kehidupan ke tubuh saya. Bukan hangat karena terik matahari, melainkan hangat karena sapaan, tawa, segelas teh jahe, dan kenangan kopi tubruk dari seorang nenek yang usianya hampir menyentuh langit.
Seminggu di Semeru mengajarkan saya tentang ketahanan. Dua malam di Surabaya mengajarkan saya tentang kerendahan hati. Dan satu pagi di Amadanon bersama nenek 100 tahun mengajarkan saya bahwa kehangatan sejati tidak pernah terbaca di termometer, melainkan di detak jantung orang-orang yang peduli pada kita.
Saya tertidur di kamar losmen sempit itu dengan kipas angin yang berputar lambat, dan untuk pertama kalinya dalam sepekan, saya tidak merasa kedinginan. Perut kenyang, hati hangat, dan Surabaya—sekeras apapun cuacanya—terasa seperti rumah yang ramah bagi seorang pendaki yang lelah.