Dinamika Pertumbuhan dan Penentuan Umur Rotasi Optimum Tegakan Jati (Tectona grandis L.f.) di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara


Growth Dynamics and Optimum Rotation Age Determination of Teak (Tectona grandis L.f.) Stand in South Buton Regency, Southeast Sulawesi


Penulis: SAHIRSAN
Afiliasi: LAKAMALI
Email: sahirsan123@gmail.com

Diajukan: Desember 2020
Diterima: Januari 2026
Diterbitkan: 23 Juli 2026


ABSTRAK

Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu komoditas kayu bernilai ekonomi tinggi yang banyak dikembangkan di hutan rakyat, termasuk di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pertumbuhan tegakan jati serta menentukan umur rotasi optimum berdasarkan riap volume. Data dikumpulkan melalui pengukuran tegakan jati pada bulan Oktober–November 2020 di wilayah Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Peubah yang diamati meliputi jumlah pohon per hektar, umur, diameter setinggi dada (dbh), tinggi total, faktor bentuk (form factor), volume total (Total Volume/TV), riap rata-rata tahunan (Mean Annual Increment/MAI), dan riap periodik tahunan (Periodic Annual Increment/PAI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume total meningkat dari 12,8 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun. MAI mencapai puncaknya sebesar 8,58 m³/ha/tahun pada umur 35 tahun, sementara PAI menunjukkan fluktuasi dengan tren menurun setelah umur 30 tahun. Titik perpotongan MAI dan PAI terjadi pada kisaran umur 33–35 tahun yang mengindikasikan umur rotasi biologis optimum. Penurunan jumlah pohon dari 380 menjadi 270 individu/ha mengindikasikan terjadinya proses self-thinning alami seiring meningkatnya kompetisi antarindividu. Faktor bentuk menurun dari 0,90 menjadi 0,62 seiring pertambahan umur, menunjukkan perubahan morfologi batang dari silindris menjadi meruncing. Umur rotasi optimum tegakan jati di Buton Selatan adalah ±35 tahun, yang direkomendasikan sebagai acuan dalam perencanaan panen guna memaksimalkan produktivitas biologis dan nilai ekonomi tegakan.

Kata kunci: Tectona grandis, Buton Selatan, MAI, PAI, rotasi optimum, dinamika pertumbuhan


ABSTRACT

Teak (Tectona grandis L.f.) is a high-economic-value timber commodity widely cultivated in community forests, including in South Buton Regency, Southeast Sulawesi. This study aimed to analyze the growth dynamics of teak stands and determine the optimum rotation age based on volume increment. Data were collected through stand measurements in October–November 2020 in Sampolawa District, South Buton Regency. Variables observed included number of trees per hectare, age, diameter at breast height (dbh), total height, form factor, total volume (TV), mean annual increment (MAI), and periodic annual increment (PAI). The results showed that total volume increased from 12.8 m³/ha at age 3 to 351.26 m³/ha at age 44. MAI reached its peak of 8.58 m³/ha/year at age 35, while PAI fluctuated with a decreasing trend after age 30. The intersection point of MAI and PAI occurred at around 33–35 years, indicating the biological optimum rotation age. The decrease in tree number from 380 to 270 individuals/ha indicated a natural self-thinning process due to increasing inter-tree competition. The form factor decreased from 0.90 to 0.62 with increasing age, indicating a change in stem morphology from cylindrical to tapering. The optimum rotation age for teak stands in South Buton is ±35 years, which is recommended as a reference for harvest planning to maximize biological productivity and economic value of the stand.

Keywords: Tectona grandis, South Buton, MAI, PAI, optimum rotation, growth dynamics


1. PENDAHULUAN

Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis kayu tropis unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis tinggi. Kayu jati dikenal karena kekuatan, keawetan, dan keindahan seratnya, sehingga banyak digunakan untuk berbagai keperluan konstruksi, mebel, dan kerajinan. Di Indonesia, jati telah lama dibudidayakan baik dalam skala industri oleh Perhutani maupun dalam skala hutan rakyat oleh masyarakat.

Kabupaten Buton Selatan merupakan salah satu sentra pengembangan hutan jati di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kawasan Kecamatan Sampolawa diketahui memiliki areal hutan jati tanam sekitar 494 hektar. Masyarakat petani jati di Buton Selatan memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan hutan jati karena nilai ekonominya yang lebih tinggi dibandingkan jenis kayu lainnya. Namun, praktik pengelolaan yang kurang terencana, termasuk ketidakpastian dalam penentuan waktu panen yang optimal, seringkali mengakibatkan produktivitas tegakan tidak maksimal.

Penentuan umur rotasi atau daur tebang merupakan aspek krusial dalam pengelolaan hutan tanaman. Umur rotasi optimum secara biologis dapat ditentukan melalui analisis riap pertumbuhan, yaitu Mean Annual Increment (MAI) dan Periodic Annual Increment (PAI). MAI merupakan rata-rata pertambahan volume per tahun, sedangkan PAI adalah pertambahan volume aktual pada periode tertentu. Umur rotasi optimum tercapai ketika MAI mencapai nilai maksimum atau ketika MAI dan PAI saling berpotongan.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis dinamika pertumbuhan tegakan jati meliputi jumlah pohon, diameter, tinggi, faktor bentuk, dan volume total; (2) menghitung dan menganalisis riap MAI dan PAI; serta (3) menentukan umur rotasi optimum tegakan jati di Kabupaten Buton Selatan berdasarkan analisis riap pertumbuhan.


2. METODE PENELITIAN

2.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober–November 2020 di areal hutan rakyat jati di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara geografis, Kabupaten Buton Selatan terletak di bagian selatan Pulau Buton dan berbatasan dengan Kabupaten Buton, Kota Baubau, serta Laut Flores.

2.2. Pengumpulan Data

Data pertumbuhan tegakan jati dikumpulkan melalui pengukuran pada petak contoh. Peubah yang diamati meliputi:

  1. Jumlah Pohon (pohon/ha): dihitung berdasarkan kerapatan tegakan pada setiap kelas umur.

  2. Umur (tahun): diperoleh berdasarkan catatan penanaman dan konfirmasi dengan pemilik lahan.

  3. Diameter (cm): diukur pada setinggi dada (1,30 m) menggunakan diameter tape.

  4. Tinggi Total (H) (m): diukur menggunakan clinometer atau hypsometer.

  5. Faktor Bentuk (f): dihitung berdasarkan perbandingan antara volume aktual pohon dengan volume tabung.

  6. Volume Total (TV) (m³/ha): dihitung menggunakan rumus:

TV = Jumlah Pohon × (π/4 × D² × H × f) / 10.000

  1. Mean Annual Increment (MAI) (m³/ha/tahun): dihitung sebagai:

MAI = TV / Umur

  1. Periodic Annual Increment (PAI) (m³/ha/tahun): dihitung sebagai selisih volume antara dua periode umur dibagi selisih umur:

PAI = (TV₂ - TV₁) / (Umur₂ - Umur₁)

2.3. Analisis Data

Data dianalisis secara deskriptif dan grafis. Grafik hubungan antara umur dengan volume total, MAI, dan PAI dibuat untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan dan titik perpotongan MAI-PAI sebagai indikator umur rotasi optimum. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan Python (Matplotlib).


3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Dinamika Jumlah Pohon dan Dimensi Tegakan

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa jumlah pohon per hektar mengalami penurunan seiring bertambahnya umur tegakan, dari 380 pohon/ha pada umur 3 tahun menjadi 270 pohon/ha pada umur 44 tahun (Tabel 1). Penurunan ini mengindikasikan terjadinya proses self-thinning alami, di mana pohon-pohon yang kalah dalam kompetisi akan mati dan tersingkir. Proses ini merupakan mekanisme alami untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang tumbuh dan sumber daya bagi pohon-pohon yang tersisa.

Seiring dengan penurunan jumlah pohon, diameter rata-rata meningkat secara konsisten dari 8,5 cm pada umur 3 tahun menjadi 45 cm pada umur 44 tahun. Tinggi total juga meningkat dari 6,6 m menjadi 13,2 m. Peningkatan dimensi ini menunjukkan bahwa pohon-pohon yang bertahan mendapatkan ruang tumbuh yang lebih luas dan kompetisi yang lebih rendah, sehingga pertumbuhan diameter dan tinggi berlangsung optimal.

3.2. Faktor Bentuk (Form Factor)

Faktor bentuk (f) menunjukkan penurunan dari 0,90 pada umur 3 tahun menjadi 0,62 pada umur 44 tahun. Faktor bentuk yang tinggi pada pohon muda mengindikasikan bentuk batang yang relatif silindris, sementara penurunan pada pohon tua menunjukkan bentuk batang yang semakin meruncing (tapering). Perubahan morfologi ini penting dipertimbangkan dalam pendugaan volume kayu, karena faktor bentuk yang lebih rendah berarti efisiensi bentuk batang menurun. Temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa jati konvensional memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda dengan jati unggul hasil pemuliaan.

3.3. Dinamika Volume Total

Volume total (TV) menunjukkan peningkatan yang sangat nyata seiring bertambahnya umur, dari 12,8 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun (Tabel 1). Peningkatan ini mengikuti pola kurva pertumbuhan sigmoid, di mana pertumbuhan volume sangat cepat pada fase muda hingga dewasa, kemudian melambat pada fase tua.

Tabel 1. Rekapitulasi Data Pertumbuhan Tegakan Jati di Buton Selatan

No.

Umur (th)

Jumlah Pohon

D (cm)

H (m)

f

TV (m³/ha)

MAI (m³/ha/th)

PAI (m³/ha/th)

1

3

380

8,5

6,6

0,90

12,80

4,27

-

2

5

360

12,0

7,8

0,90

26,98

5,40

7,09

3

7

330

15,0

8,35

0,87

42,34

6,05

7,68

4

10

320

18,0

9,4

0,86

65,79

6,58

7,82

5

13

310

21,3

10,0

0,81

89,43

6,88

7,88

6

15

300

23,0

10,6

0,80

105,64

7,04

8,11

7

17

290

25,8

10,5

0,77

122,51

7,21

8,44

8

20

290

28,5

11,0

0,75

152,55

7,63

10,01

9

25

290

33,0

11,4

0,72

203,49

8,14

10,19

10

30

280

37,3

12,0

0,70

256,88

8,56

10,68

11

35

290

40,0

12,3

0,67

300,17

8,58

8,66

12

40

280

43,0

12,7

0,65

335,49

8,39

7,06

13

44

270

45,0

13,2

0,62

351,26

7,98

3,94

 

3.4. Analisis Riap Pertumbuhan (MAI dan PAI)

MAI meningkat secara konsisten dari 4,27 m³/ha/tahun pada umur 3 tahun hingga mencapai puncak 8,58 m³/ha/tahun pada umur 35 tahun. Setelah umur 35 tahun, MAI mengalami penurunan menjadi 8,39 (umur 40) dan 7,98 (umur 44). Pola ini menunjukkan bahwa produktivitas kumulatif rata-rata tegakan mencapai titik optimum pada umur 35 tahun.

riap MAI PAI

Gambar 1. Grafik hubungan umur dengan volume total, MAI, dan PAI tegakan jati di Buton Selatan. Garis putus-putus vertikal menunjukkan umur rotasi optimum (±35 tahun) pada saat MAI mencapai puncak dan mendekati nilai PAI.

PAI menunjukkan fluktuasi yang lebih dinamis. PAI meningkat dari 7,09 m³/ha/tahun (periode 3–5 tahun) hingga mencapai puncak 10,68 m³/ha/tahun pada periode 25–30 tahun, kemudian menurun drastis menjadi 8,66 (30–35 tahun), 7,06 (35–40 tahun), dan 3,94 (40–44 tahun). Penurunan PAI yang tajam setelah umur 30 tahun mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan aktual tegakan mulai melambat secara signifikan.

3.5. Penentuan Umur Rotasi Optimum

Prinsip dasar penentuan rotasi optimum secara biologis adalah ketika MAI mencapai nilai maksimum atau ketika MAI = PAI. Berdasarkan data yang diperoleh:

  • MAI maksimum tercapai pada umur 35 tahun dengan nilai 8,58 m³/ha/tahun.

  • Titik perpotongan MAI dan PAI terjadi pada kisaran umur 33–35 tahun, di mana nilai PAI (8,66) mendekati nilai MAI (8,58).

Dengan demikian, umur rotasi optimum tegakan jati di Buton Selatan adalah ±35 tahun. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa jati di Indonesia mencapai riap maksimum pada kisaran umur 25–35 tahun tergantung pada kelas tapak dan teknik silvikultur. Perum Perhutani melaporkan MAI rata-rata sebesar 3 m³/ha/tahun pada rotasi 70 tahun, yang menunjukkan bahwa rotasi yang lebih pendek (35 tahun) dapat memberikan produktivitas tahunan yang lebih tinggi.

Perlu dicatat bahwa umur rotasi optimum ini merupakan acuan biologis. Dalam praktik pengelolaan hutan, pertimbangan ekonomi (seperti harga kayu berdasarkan diameter, biaya panen, dan suku bunga) serta pertimbangan ekologis (seperti konservasi tanah dan air) juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan waktu panen yang tepat.

3.6. Implikasi Manajemen

Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengelolaan hutan jati rakyat di Buton Selatan:

  1. Penjarangan (Thinning): PAI yang melonjak pada periode 15–25 tahun (dari 8,44 menjadi 10,68) mengindikasikan bahwa tegakan merespons positif terhadap pengurangan kompetisi. Penjarangan pada umur 15–20 tahun direkomendasikan untuk meningkatkan ruang tumbuh dan diameter pohon.

  2. Perencanaan Panen: Petani jati sebaiknya merencanakan panen pada kisaran umur 33–35 tahun untuk memaksimalkan produktivitas biologis. Panen sebelum umur 30 tahun akan kehilangan potensi volume yang masih tinggi (PAI > MAI), sedangkan panen setelah umur 35 tahun akan mengurangi efisiensi pertumbuhan tahunan.

  3. Pemilihan Klon Unggul: Penggunaan jati unggul hasil pemuliaan, seperti Jati Unggul Nusantara (JUN), dapat meningkatkan produktivitas dan memperpendek daur optimal.


4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dinamika pertumbuhan tegakan jati di Kabupaten Buton Selatan, dapat disimpulkan:

  1. Volume total meningkat dari 12,8 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun, mengikuti pola kurva pertumbuhan sigmoid.

  2. MAI mencapai puncak sebesar 8,58 m³/ha/tahun pada umur 35 tahun, sedangkan PAI menunjukkan fluktuasi dengan puncak pada periode 25–30 tahun (10,68 m³/ha/tahun) sebelum menurun drastis.

  3. Umur rotasi optimum secara biologis untuk tegakan jati di Buton Selatan adalah ±35 tahun, ditandai dengan tercapainya MAI maksimum dan titik perpotongan MAI-PAI.

  4. Faktor bentuk menurun dari 0,90 menjadi 0,62 seiring pertambahan umur, mengindikasikan perubahan morfologi batang dari silindris menjadi meruncing.

  5. Proses self-thinning alami terjadi seiring bertambahnya umur, ditandai dengan penurunan jumlah pohon dari 380 menjadi 270 individu/ha.

Rekomendasi: Petani jati di Buton Selatan disarankan untuk melakukan panen pada kisaran umur 33–35 tahun guna memaksimalkan produktivitas biologis dan nilai ekonomi tegakan. Penjarangan pada umur 15–20 tahun direkomendasikan untuk meningkatkan pertumbuhan diameter dan produktivitas tegakan secara keseluruhan.


DAFTAR PUSTAKA

Bhat, K.M. (1998). Heartwood initiation in teak trees. Journal of Tropical Forest Science, 10(3): 412-418.

Husch, B., Miller, C.I., & Beers, T.W. (1982). Forest Mensuration. John Wiley & Sons, New York.

Kandari, A.M. (2015). Land Suitability Evaluation for Plantation Forest Development Based on Multi-criteria Approach. Jurnal Penelitian Kehutanan.

Perum Perhutani. (2000). Laporan Tahunan Perum Perhutani. Dalam Pandey, D. & Brown, C. (2000). Teak: A Global Overview. FAO, Rome.

Prasetyo, E., et al. (2022). Predicting Tectona grandis Suitability to Evaluate Potential Plantation Areas under Future Climate on Java, Indonesia. JARQ, 56(3): 269-281.

Rahayu, S., et al. (2023). Biological Rotation Age of Community’s Teak (Tectona grandis) Plantation Based on The Volume, Biomass, and Price Growth Curve Determined through The Analysis of Its Tree Ring Digitization. MDPI Journal.


UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada masyarakat petani jati di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, serta kepada Pemerintah Kabupaten Buton Selatan atas dukungan fasilitas dan Yayasan Lakamali atas pendanaannya.