
Baubau, 28 Juni 2026 – Deretan pohon jati yang menjulang tinggi tampak asri di sebuah lahan di wilayah Baubau, Sulawesi Tenggara. Usianya tak lagi muda, sudah lebih dari 17 tahun. Namun menurut pemiliknya, justru sekarang saat kritis untuk perawatan: hutan ini butuh penjarangan.
Penjarangan adalah kegiatan menebang sebagian pohon untuk memberi ruang tumbuh lebih optimal bagi pohon yang tersisa. Tujuannya jelas, agar batang jati bisa tumbuh lebih besar, lurus, dan berkualitas tinggi saat masa panen tiba.
"Kalau dibiarkan rapat terus, pohonnya berebut sinar matahari dan hara. Batangnya jadi kecil-kecil, pertumbuhannya lambat," ujar pemilik lahan saat ditemui di lokasi, Sabtu pagi. Di belakangnya, tampak tegakan jati yang cukup rapat dengan diameter batang masih beragam.
Kenapa umur 17 tahun jadi waktu yang tepat?
Menurut praktik kehutanan rakyat, jati umur 8-17 tahun masuk fase pertumbuhan cepat. Pada umur ini, penjarangan pertama dan kedua sangat menentukan kualitas kayu. Pohon yang terlalu rapat akan tinggi tapi kurus, dan rawan tumbang. Dengan penjarangan, jarak antar pohon dibuat lebih lega, sekitar 4x4 meter atau 5x5 meter tergantung kondisi awal.
Selain meningkatkan kualitas kayu, penjarangan juga memberi manfaat tambahan. Kayu hasil penjarangan tetap bisa dijual untuk bahan bangunan ringan, tiang, atau kayu bakar. Jadi petani tetap dapat pemasukan sambil menunggu panen utama di umur 20-25 tahun.
Harapan Petani Jati Baubau
Pemilik lahan berharap pemerintah dan penyuluh kehutanan bisa lebih aktif mendampingi petani jati rakyat soal teknik penjarangan yang benar. "Salah tebang bisa rugi. Kita perlu tahu mana pohon yang dipertahankan, mana yang ditebang, supaya hasilnya maksimal," tambahnya.
Jati merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Tenggara. Dengan perawatan yang tepat, termasuk penjarangan berkala, nilai ekonomi hutan rakyat bisa naik signifikan. Satu pohon jati super berumur 20 tahun bisa bernilai jutaan rupiah.
Kini, deretan jati di Baubau ini tinggal menunggu sentuhan gergaji. Bukan untuk merusak, tapi justru untuk menyelamatkan masa depan hutan dan menyejahterakan petaninya.