Kota Baubau - Pada tanggal 14 Juni 2025, suasana intelektual yang hangat dan penuh inspirasi menyelimuti Universitas Muslim (UMU) Buton, Kota Baubau. Sebuah dialog publik bertema Era Digitalisasi digelar, menghadirkan Prof. Masihu Kamaludin sebagai narasumber utama, yang membawa angin segar dalam wacana pendidikan di tengah transformasi digital yang kian pesat. Acara ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga panggung untuk merenungkan bagaimana pendidikan tinggi harus beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Dalam paparannya, Prof. Masihu Kamaludin menyoroti pentingnya penyesuaian kurikulum perguruan tinggi agar relevan dengan era digital. Beliau menekankan bahwa mahasiswa saat ini harus dipersiapkan untuk menguasai empat kompetensi utama yang menjadi pilar dalam menghadapi dinamika zaman:

Pemahaman Digital: Mahasiswa harus memiliki literasi digital yang kuat, memahami cara kerja teknologi, dan mampu menggunakannya secara efektif.

Pengelolaan Website: Kemampuan untuk membuat dan mengelola website dianggap sebagai keterampilan esensial untuk menjangkau audiens global.

Keterampilan Editing dan Produksi Video: Mengingat konten visual kini mendominasi dunia komunikasi, mahasiswa perlu mahir mengedit atau menciptakan video yang menarik.

Kemampuan Mainstreaming: Mahasiswa harus mampu memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan ide atau karya mereka agar relevan dan berdampak luas.

“Keempat komponen ini bukan lagi sekadar kelebihan, melainkan kebutuhan mutlak,” tegas Prof. Masihu. Beliau menggarisbawahi bahwa di era digital, nilai seseorang tidak lagi ditentukan oleh gelar akademis atau angka indeks prestasi. “Bukan ijazahmu apa atau IP-mu berapa yang ditanya, tetapi kamu bisa buat apa?” ujar Dr. Amijaya Kamaludin, yang turut memperkuat pandangan tersebut dengan nada penuh semangat. Pernyataan ini menggugah hadirin untuk merenungkan pentingnya keterampilan praktis di tengah persaingan global.

Sesi diskusi semakin hidup dengan kehadiran berbagai pandangan dari peserta. Salah satu momen menarik datang dari Sahirsan, yang berbagi refleksi tentang perubahan paradigma pendidikan dari masa ke masa. Ia mengenang bahwa dulu, gelar master sudah dianggap prestasi luar biasa, sementara gelar doktor masih langka dan dianggap puncak pencapaian akademik. Namun, Prof. Masihu, bahkan sejak dulu, telah mendorong generasi muda untuk mengejar gelar doktor, dengan keyakinan bahwa kebutuhan akan intelektual berkualitas akan tetap relevan hingga 25 tahun ke depan. Testimoni ini tidak hanya memperkaya diskusi, tetapi juga mengingatkan hadirin akan pentingnya visi jangka panjang dalam pendidikan.

Diskusi semakin berwarna ketika La Januru, seorang dosen UMU Buton, mengusulkan agar Kota Baubau dikembangkan sebagai Kota Pendidikan. Gagasan ini mendapat dukungan antusias dari Sahirsan, yang mengajak peserta dialog untuk menandatangani petisi mendukung pembentukan Dewan Pendidikan Kota Baubau. Langkah ini diharapkan menjadi tonggak awal untuk memperkuat ekosistem pendidikan di wilayah tersebut, menjadikan Baubau sebagai pusat keunggulan akademik yang berdaya saing.

Acara ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam, tetapi juga menyalakan semangat untuk terus beradaptasi dan berinovasi. Dialog publik ini menjadi pengingat bahwa di era digital, pendidikan bukan lagi sekadar tentang mengejar gelar, tetapi tentang membekali diri dengan keterampilan yang relevan, visi yang jauh ke depan, dan komitmen untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kota Baubau, dengan semangat kolaboratif yang ditunjukkan dalam dialog ini, tampaknya siap melangkah menuju masa depan pendidikan yang lebih cerah dan dinamis.

Penutup

Dialog publik di UMU Buton ini menjadi cerminan bagaimana pendidikan harus terus berevolusi. Dengan panduan dari tokoh seperti Prof. Masihu Kamaludin dan dukungan komunitas akademik, harapan untuk menjadikan Baubau sebagai Kota Pendidikan bukan lagi mimpi, melainkan visi yang dapat diwujudkan bersama.