1000521571

Pagi 13 Oktober 2026, langit Kota Wanci—ibukota Kabupaten Wakatobi—terselimuti kabut abu-abu tipis. Banyak yang semula mengira itu embun pagi biasa. Tapi cerita beredar cepat: ini bukan kabut air, melainkan asap dari kebakaran hutan yang menjalar dari Papua dan Maluku. Badan Meteorologi Baubau bahkan menghimbau warga untuk memakai masker jika berada di luar rumah. Saya menghela napas, mengenakan masker, lalu menaiki Yamaha legendaris tahun 1990-an dari Endapo Mandati II menuju Patuno Resort.

Aspal licin karena kelembapan asap, tapi jalan tetap bersih dan rata. Mesin motor tua itu bergetar setia, membawa saya menyusuri jalur yang seolah membelah kabut misterius. Di kejauhan, siluet pepohonan dan atap rumah muncul samar. Uniknya, meski asap menyelimuti, keindahan Wakatobi tetap merayap masuk ke hati. Slogan “Underwater Paradise” dan gelar “10 Bali Kecil” dari era Jokowi terasa semakin relevan—bahkan di tengah kondisi yang tidak biasa ini.

Di tengah perjalanan, sebuah puskesmas megah berdiri gagah di tepi jalan. Saya singgah, penasaran. Ternyata dokter gigi dan seluruh pegawai sudah berada di tempat, tepat waktu. Suasana tenang. Hanya satu pasien yang menunggu: seorang yang ingin diganti kapas di lobang gigi yang pernah dirawat di Baubau. Tidak ada antrean panjang. Tidak ada kesan kacau. Di destinasi wisata kelas dunia ini, pelayanan kesehatan tetap profesional dan bersahaja—sebuah bukti bahwa Wakatobi siap menyambut siapa saja, kapan saja.

Tiba di area acara Patuno Resort, pengurus Partai Kebangkitan Bangsa dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Wakatobi sudah berkumpul. Semangat pagi tetap hangat meski asap masih menggantung di udara. Sambil menunggu kedatangan Bang Jae—Pak Jaelani, Ketua PKB Provinsi Sulawesi Tenggara sekaligus Anggota DPR RI—saya duduk bersama La Ode Risto, Ketua PKB Kabupaten Wakatobi, juga Anggota Legislatif Kabupaten Wakatobi yang mewakili PKB di Wakatobi, satu kursi.

“Minimal tiga kursi,” ujar Pak Risto dengan tenang namun tegas. Target itu bukan sekadar angka. Itu harapan agar suara masyarakat Wakatobi mewakili PKB benar-benar terdengar di legislatif, agar pulau-pulau di Wakatobi ini terus dijaga, dibangun, dan dilestarikan sesuai keinginan warga.

Asap perlahan menipis. Matahari mulai menembus. Dari Patuno, laut Wakatobi yang biru jernih mulai terlihat jelas di kejauhan. Saya membayangkan terumbu karang yang masih utuh di bawah permukaan, ikan-ikan berwarna-warni yang menari bebas, dan pasir putih yang menunggu jejak kaki para pengunjung.

Wakatobi tidak pernah kehilangan pesonanya. Bahkan di pagi yang diselimuti asap dari jauh, ia tetap mampu memikat. Datanglah. Kenakan masker jika perlu, tapi jangan biarkan kabut atau asap menghentikan langkahmu. Karena di balik lapisan abu-abu itu, “Underwater Paradise” tetap menanti—siap memeluk siapa saja yang berani datang dan merasakannya sendiri.