Sabangka4

Sore itu angin laut di Pantai Kota Mara berhembus pelan, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau kayu bakar dari warung-warung kecil di tepi pantai. Langit mulai berubah menjadi oranye keemasan, seolah sengaja memberikan latar sempurna bagi pertemuan persahabatan yang sudah lama dinanti.

Dian dan Ety sudah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tak ada meja-meja kayu yang berdiri kaku. Sebagai gantinya, Ety membentangkan karpet-karpet bersih yang baru saja dicucinya pagi tadi. Warnanya masih segar, baunya wangi sabun, dan teksturnya lembut di bawah kaki. Di atas karpet itulah mereka duduk bersila, saling berhadapan, menciptakan suasana yang jauh lebih akrab dan santai. Makanan ringan ditata sederhana di tengah, tanpa formalitas yang membatasi. Hasilnya terasa sekali. Para peserta arisan Sabangka merasa nyaman, tertawa lepas, dan saling bercerita tanpa beban. Suasana terbuka di tepi pantai, ditambah kehangatan duduk bersama di atas karpet bersih, membuat semua orang merasa lega—seolah beban harian ikut terbawa ombak.

Sabangka3

Di sela-sela itu, muncul satu wajah yang sempat memantau pertemuan dari kejauhan. Ia bergabung dengan langkah santai, disambut riuh rendah. Panggilan sekolahnya masih melekat: La Puini, bukan nama sekolahan resmi, dia Syafrin, tapi julukan yang sudah akrab di lidah sejak dulu. Kehadirannya langsung menambah warna.

La Puini, yang kini dikenal sebagai saudagar dengan jaringan luas, mulai bercerita tentang Timor Leste. Ia menceritakan suasana di sana dengan detail yang hidup—bagaimana hubungan dagang tetap terjalin meski sejarah pernah memisahkan. Ceritanya membuka ruang kenangan lama.

Muzdalifah ikut menyahut. Ia mengingat kunjungannya ke Timor Timur sebelum kemerdekaan Timor Leste. Saat itu ia sempat berdialog dengan putri gubernur setempat. “Caras Calaos, kalau tidak salah nama gubernurnya waktu itu,” ujarnya sambil mencoba mengingat. Semua orang tertarik mendengar.

Belum selesai, Sahirsan menambahkan kisah yang lebih pribadi. Ia mengaku pernah tinggal serumah dengan istri Xanana Gusmão di Kota Baubau, jauh sebelum Timor Leste merdeka. Kirsty Sword sempat datang ke Baubau sebelum kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Saat itu, Kirsty sering makan bubur bersama Sahirsan. Kisah sederhana itu terasa hangat—gambaran kebersamaan manusia di tengah sejarah yang sedang bergolak.

Matahari sudah semakin rendah. Cahaya senja memantul di permukaan laut, sementara suara ombak menjadi latar belakang percakapan yang semakin dalam. Di atas karpet bersih yang dibentangkan Ety, mereka duduk semakin akrab, seolah jarak waktu dan sejarah bisa dipendekkan hanya dengan duduk bersama di tepi pantai.

Namun seperti biasa, waktu berjalan terlalu cepat saat kebersamaan terasa hangat. Di tengah tawa dan kenangan masa sekolah yang mulai mengalir, suara azan Magrib tiba-tiba berkumandang dari masjid tidak jauh dari pantai. Suara itu lembut namun tegas, memotong nostalgia yang sedang memuncak. Beberapa orang langsung tersenyum paham. Pertemuan harus diakhiri sebentar. Maklum, bagi yang Muslim, shalat Magrib tidak bisa ditunda.

Pertemuan arisan sore itu memang singkat, terpotong oleh azan Magrib, namun justru karena itu terasa istimewa. Di antara tawa, kenangan, dan cerita lintas batas, terasa jelas bahwa persahabatan Sabangka tidak hanya soal arisan. Ia adalah ruang di mana masa lalu, sejarah, dan rasa kebersamaan bisa duduk berdampingan dengan santai—di atas karpet bersih yang masih wangi sabun.

Dan ketika akhirnya mereka beranjak untuk shalat atau pulang, angin pantai masih berhembus pelan, seolah menyimpan sisa-sisa cerita yang baru saja terucap di atas karpet itu.

Latar Belakang Arisan Sabangka

Arisan Sabangka bukan sekadar arisan biasa yang hanya berfokus pada uang dan undian. Ia adalah wadah persahabatan yang tumbuh dari ikatan lama antar anggotanya—ikatan yang sudah terjalin sejak masa sekolah, lalu terus terpelihara meski jarak, waktu, dan kehidupan masing-masing semakin berbeda.

Nama “Sabangka” sendiri menjadi penanda kebersamaan mereka. Julukan dan sebutan akrab seperti “La Puini” masih dipakai hingga kini, menandakan bahwa hubungan di antara mereka tidak pernah benar-benar putus dari masa remaja. Anggota-anggotanya berasal dari lingkungan yang sama, saling mengenal dekat, dan memiliki banyak kenangan bersama. Karena itu, setiap pertemuan selalu diwarnai nostalgia, tawa lepas, dan cerita-cerita masa lalu yang masih hidup.

Selain memperkuat silaturahmi, arisan ini juga menjadi ruang untuk saling mendukung. Di dalamnya ada kebiasaan menabung bersama melalui sistem arisan, namun yang lebih menonjol adalah kehangatan dan rasa kekeluargaan. Pertemuan biasanya digelar di tempat-tempat yang santai dan terbuka, seperti tepi pantai, agar suasana tetap ringan dan akrab.

Beberapa anggota bahkan memiliki kisah yang bersinggungan dengan sejarah yang lebih besar. Ada yang pernah menjalin hubungan dengan orang-orang di Timor Timur sebelum kemerdekaan Timor Leste, ada yang pernah tinggal serumah dengan tokoh terkait, dan ada pula yang masih menjaga jaringan hingga kini. Cerita-cerita itu sering muncul secara alami di sela-sela pertemuan, menambah kedalaman kebersamaan mereka.

Sabangka5

Dengan demikian, Arisan Sabangka bukan hanya tentang bergiliran menerima uang arisan. Ia adalah ruang aman untuk bertemu, mengenang, dan memperkuat tali persahabatan yang sudah berusia puluhan tahun—persahabatan yang tetap hangat meski waktu terus berjalan.