foto niar2

Baubau, malam itu seperti menyisakan energinya khusus untuk keluarga besar Sabangka. Sejak pukul enam sore, kendaraan mulai berjajar rapi—bahkan agak memaksa—di halaman Hotel Mira. Jalan menuju lokasi perjamuan berubah jadi jalur kepadatan yang mengingatkan orang pada macet di kota Jakarta sendiri, hanya saja di sini lebih banyak senyum dan klakson ramah.

Undangan Niar, yang diumumkan beberapa hari lalu lewat grup WA Sabangka, ternyata membawa efek bola salju. "Kawan-kawan Sabangka kembali berkumpul," begitu katanya. Tapi siapa sangka, jumlah yang hadir melebihi ekspektasi. Ruangan perjamuan yang sebenarnya cukup lega, tiba-tiba terasa sempit layaknya gerbong kereta ekonomi waktu jam pulang kantor rute jurusan Jakarta Kota - Bekasi.

Kaleidoskop hijriah yang terukir indah: akad nikah keponakan Niar, si gadis bernama Anggun—putri ketiga pasangan Pak Abdul Hajar dan Bu Asriyanti—berlangsung pada tanggal 4 Juni 2026, yang bertepatan dengan 18 Muharram 1448 H. Sebuah malam yang istimewa dalam kalender Islam, menjadi awal bahagia bagi kedua mempelai. Akad nikah dilangsungkan di rumah mempelai perempuan di kawasan Medibrata, Bukit Wolio Indah, sejak pagi hari sebelum keramaian malam dimulai.

"Tamunya datang terus, tapi yang pulang juga belum gerak," keluh Abau sambil tersenyum kecut. Setiap kali berdiri untuk memberi selamat dan berjabat tangan dengan kedua mempelai, ia hampir selalu bertabrakan dengan tamu lain yang lalu-lalang. Ada yang baru datang, ada yang sudah pamit—semua berdesakan di lorong yang sama. "Kalau halaman kosong itu juga dipakai, maka suasana sesak akan berkurang," usul Abau sambil melirik ke luar ruangan. Inilah siasat penataan ruang perjamuan yang ia tawarkan di tengah jumlah undangan yang membludak.

Di sela-sela desak-desakan yang justru mengundang tawa, seorang kerabat melantunkan pantun riang:

Buah mangga dari Kendari,

Dibawa naik perahu lalu.

Sesak begini tak usah risau,

Tanda silaturahmi begitu erat meru.

Ke pantai Wameo jalan berliku,

Pohon beringin rindang daunnya.

Walau bersimpuh di ruang sempit itu,

Hati bahagia, doa mengalir untuk kedua mempelai kita.

Semua yang mendengar tersenyum. Keramaian yang sesak itu seketika terasa lebih ringan. Saling bertabrakan dan berjabat tangan dalam ruang yang penuh bukan lagi masalah, melainkan bagian dari tawa bersama.

Sementara itu, Niar sendiri tentu merasa berterima kasih. Bahagia bercampur haru. Di tengah riuhnya suasana, ia sempat berbisik pada kerabatnya Sabangka, dan menunjuk keluarganya "Mereka juga datang dari Makassar, jauh-jauh, bahkan anak saya, putra tercinta yang bertugas di Kota Balikpapan Kalimantan harus datang ke Baubau demi anak kemenakan saya ini."

Sekitar pukul sembilan malam, kerumunan mulai melonggar. Seperti air surut, tamu-tamu satu per satu menarik diri. Dan saat itulah, kawan-kawan Sabangka mulai bergerak gesit mengatur posisi. Kamera HP diacungkan. Senyum lebar dipasang. Foto kenangan bukan sekadar dokumentasi, tapi bukti bahwa mereka hadir—bahwa keramaian ini layak dikenang, terutama di malam 18 Muharram yang penuh berkah ini.

Di sela-sela pengambilan gambar, Abau tertawa kecil. "Besok kalau ada undangan lagi, minta tempatnya di lapangan saja. Atau stadion." Semua tertawa. Hari itu, di pelataran Hotel Mira, yang sempit bukan hanya ruang, tapi juga waktu bahagia yang terus mendesak untuk diabadikan.

Dan sekali lagi, pantun penutup mengudara dari seorang nenek tua yang duduk di pojok ruangan:

Pisang emas di atas talam,

Dimakan kera sambil bergelayut.

Selamat menempuh hidup baru, kedua mempelai yang salam,

Semoga cinta kalian tak pernah putus.