
Kendari 17 Mei 2026 - Langit Kendari sore itu mendung tipis, tapi tak mengurangi hangatnya pertemuan di sebuah warung sederhana di area MTQ. Di sanalah, beberapa orang alumni SMP Usuku angkatan 1982 duduk lesehan, ditemani segelas es jeruk dan gorengan panas. Mereka bukan sekadar teman sekolah—mereka adalah saksi bisu masa-masa polos penuh tawa, pisang dan ubi goreng di warung wahida, dan mimpi-mimpi besar di bangku kelas kayu SMP Usuku.
Pertemuan yang dimulai di warung itu akhirnya berpindah ke rumah makan di sekitar Pasar Baru Andonohu karena obrolan semakin seru. Ada yang tertawa mengingat kenakalan masa lalu, ada pula yang menghela napas saat menyebut nama-nama teman yang sudah berpulang. Tapi satu suara bulat: reuni harus digelar!
Oktober di Tomia: Laut Tenang, Hati Riang
Setelah diskusi panjang—dengan sesekali canda dan dag digdung—mereka sepakat: reuni akan digelar pada bulan Oktober. Alasannya logis sekaligus sentimental. Oktober adalah puncak musim kemarau di Tomia. Laut akan tenang, ombak tak menggulung tinggi, sehingga perjalanan penyeberangan dari Kendari atau Wanci ke Tomia terasa aman dan nyaman.
"Ini penting," kata salah seorang alumni yang kini jadi nelayan, dulu PNS sekarang sudah pensiun. "Kita tak mau reuni terganggu mabuk laut atau kapal batal berangkat."
Para alumni yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Merauke hingga Ternate, diharap bisa meluangkan waktu pulang kampung ke Tomia. Reuni direncanakan berlangsung tiga hari penuh. Setelah itu, masing-masing akan melanjutkan kegiatan sendiri di kampung halaman: ada yang ziarah ke makam orang tua, ada yang silaturahmi ke sanak saudara, dan tak sedikit yang ingin memancing di pantai Selatan P. Tomia.
Dompet Persaudaraan: 4 Juta Jadi 6 Juta
Masalah klasik selalu soal biaya. Tapi di pertemuan itu, tak ada yang cemberut. Dari sisa anggaran reuni sebelumnya, masih tersisa Rp4.000.000. Angka itu tentu belum cukup untuk tiga hari reuni yang meriah.
Namun, sebelum dingin, sumbangan mengalir hangat. Siti Hajra, wanita tangguh yang dulu paling rajin membuat catatan ringkasan, menyumbang Rp1.000.000. Disusul Sahirsan, si pendiam yang dulu jago matematika, dengan nominal sama: Rp1.000.000.
"Anggap saja ini investasi untuk ketawa bareng lagi," ujar Sahirsan polos.
Saldo sementara menjadi Rp6.000.000. Masih tipis, tapi mereka yakin setelah Pak Ketua Rusdin Haludin di Jakarta menyetujui, sumbangan lain akan mengalir deras.
Bukan Sekadar Reuni, Tapi Berbagi untuk Masjid Raya
Diskusi kemudian berubah arah ke sisi yang lebih dalam—bukan hanya nostalgia, tapi juga kontribusi. Mereka sepakat bahwa reuni kali ini tak hanya untuk bersenang-senang, tapi juga bersedekah untuk pembangunan Masjid Raya.
Ide muncul: para alumni akan menyumbang dalam bentuk bantuan makanan—memasak untuk para tukang yang bekerja membangun masjid. Tentu ini butuh biaya lagi. Tapi semangat mereka tak surut.
"Kita dulu belajar ngaji di surau surau kecil, sekarang mari kita ikut membangun rumah Allah," ujar seorang alumni yang kini tinggal di Kendari.
Selain itu, ada agenda lain yang juga tak kalah penting: mengunjungi masjid-masjid lama yang telah dibina oleh keluarga-keluarga dekat alumni. Dua masjid yang masuk daftar:
· Masjid di Kelurahan Bahari Timur — tempat masa kecil mereka bermain petak umpet selepas magrib.
· Masjid di jalan atas Kelurahan Tongano Timur, yang dikenal sebagai Masjid Hijir Ismail — masjid tua dengan kubah hijau yang selalu rimbun dengan jamaah.
Kunjungan ke masjid-masjid ini akan menjadi pengingat bahwa akar mereka di Tomia tak pernah putus, meski badan sudah jauh merantau.
Penantian Izin dari Pak Ketua
Semua rencana ini masih menggantung di angin Tomia, menanti restu dari Pak Rusdin Haludin di Jakarta. Dialah ketua alumni yang disegani, yang dulu selalu membawa kita menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara parau tapi penuh semangat.
"Kita tunggu kabar beliau," kata salah seorang peserta pertemuan. "Kalau beliau mengangguk, maka Tomia akan bergema dengan tawa dan doa alumni SMP Usuku."
Penutup: Oktober Menjadi Saksi
Matahari sore itu mulai turun di ujung Pasar Baru Andonohu. Sejumlah alumni itu pulang dengan hati berbunga-bunga. Mereka sadar: reuni ini tak hanya tentang bertemu teman lama. Tapi tentang menyulam kembali benang-benang persaudaraan yang sempat kendur oleh waktu.
Di bulan Oktober nanti, laut Tomia akan tenang. Masjid-masjid tua akan menerima kunjungan penuh cerita. Dan di antara debur ombak yang ramah, para alumni SMP Usuku 1982 akan bernyanyi lagi—tentang masa lalu yang manis, masa depan yang penuh berkah, dan persahabatan yang tak pernah mati.
Tomia, Oktober, dan kenangan. Tak ada yang lebih indah dari itu. MAI TOPOAWA AWA karaka