Disampaikan oleh: Dr. Ir. H. Sahirsan, MP
Masjid Al-Muktamar, Kelurahan Waruruma, Kota Baubau
13 Maret 2026 M / 23 Ramadan 1447 H
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعِلْمَ نُوْرًا وَالْإِيْمَانَ حَيَاةً وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ زَادًا لِلْمَعَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Khutbah Pertama
Hadirin, Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji milik Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat di masjid yang kita cintai, Masjid Al-Muktamar Kelurahan Waruruma Kota Baubau ini. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan—semua adalah anugerah yang tak terhingga. Dan nikmat yang kita dapatkan sudah sepantasnya digunakan memenuhi syariat yang telah ditetapkan-Nya. Kita gunakan nikmat ini untuk semakin taat kepada-Nya, bukan justru untuk bermaksiat.
Shalawat serta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua sebagai umatnya. Dan kelak mendapatkan syafaatnya. Amin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini, Jumat 13 Maret 2026, kita berkumpul di masjid yang mulia ini dalam suasana yang penuh kegelisahan menyaksikan apa yang terjadi di belahan dunia lain. Saudara-saudara kita di Timur Tengah sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan.
Sejak 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa yang tidak sedikit. Berita yang paling memilukan adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada hari pertama serangan. Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari. Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga telah mengganggu stabilitas kawasan dan bahkan berdampak pada ekonomi global.
Saudaraku, yang lebih menarik perhatian kita sebagai umat yang diajarkan untuk merenungkan tanda-tanda zaman adalah bentuk perang yang terjadi kini berbeda dengan perang-perang sebelumnya. Ini bukan lagi perang konvensional dengan tank dan artileri semata. Ini adalah perang yang juga menyasar infrastruktur digital, pusat-pusat data, dan menggunakan senjata-senjata elektronik canggih.
Ilmu di Era Perang Elektronik: Antara Kemajuan dan Kehancuran
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Baru-baru ini, kita mendengar kabar bahwa Iran mengancam akan menyerang pusat-pusat data di negara-negara Arab yang digunakan Amerika Serikat dalam operasi militernya. Bahkan, serangan dengan menggunakan pesawat nirawak atau drone telah menghantam pusat data milik Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Apa artinya ini, saudaraku? Artinya, perang kini telah memasuki ruang digital. Infrastruktur yang selama ini kita anggap aman—pusat data, jaringan serat optik, sistem komunikasi—kini menjadi sasaran militer. Akibatnya, layanan perbankan di Uni Emirat Arab terganggu. Masyarakat tidak bisa mengakses uang mereka. Platform pembayaran dan aplikasi investasi lumpuh. Bayangkan, saudaraku, betapa rentannya kehidupan modern yang sangat bergantung pada teknologi.
Peristiwa ini menunjukkan kepada kita sebuah pelajaran sangat penting: ilmu pengetahuan dan teknologi, jika lepas dari nilai-nilai iman, dapat menjadi alat penghancur yang dahsyat. Drone, rudal canggih, senjata elektronik—semua itu adalah hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi ketika digunakan tanpa kendali moral, tanpa bimbingan iman, ia hanya akan menambah derita kemanusiaan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan kita dalam QS. Al-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Saudaraku, kerusakan di darat dan laut yang kita saksikan hari ini—termasuk konflik berkepanjangan di Timur Tengah—adalah akibat dari tangan-tangan manusia yang menggunakan ilmu tanpa dibimbing iman.
Ironi Peradaban Modern
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Perhatikanlah ironi yang terjadi. Di satu sisi, manusia mampu menciptakan teknologi luar biasa: drone yang dapat terbang tanpa pilot, rudal yang dapat diarahkan dengan presisi tinggi, sistem pertahanan udara seperti THAAD dan Patriot yang disebar AS di kawasan Teluk . Di sisi lain, teknologi yang sama digunakan untuk saling membunuh, menghancurkan infrastruktur, dan menciptakan penderitaan.
Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia, kini diblokade total. Lebih dari 200 kapal tanker minyak dan LNG terdampar. Harga minyak dunia melonjak. Dan dampaknya? Kita di Indonesia pun merasakannya. Rupiah tertekan, subsidi energi membengkak, dan harga-harga berpotensi naik.
Inilah bukti nyata dari ungkapan yang kita kenal: "Ilmu tanpa iman adalah buta." Ia buta terhadap nilai-nilai kemanusiaan, buta terhadap penderitaan orang lain, buta terhadap tujuan penciptaan yang sejati.
Indonesia dan Panggilan untuk Jalan Tengah
Saudaraku, di tengah konflik global yang memanas ini, Indonesia terus bersuara. Ketua DPR RI, Ibu Puan Maharani, dalam pidatonya beberapa hari lalu mengangkat isu konflik Timur Tengah ini. Beliau menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer yang terjadi saat ini telah mengabaikan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara. Ini menunjukkan kegagalan sistem keamanan global dalam menjaga keseimbangan kepentingan antarnegara.
Dalam hal ini, Indonesia menegaskan komitmennya pada politik luar negeri bebas aktif. Kita tidak memihak kepada blok manapun, tetapi terus mendorong perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai. Inilah salah satu wujud dari konsep ummatan wasathan—umat pertengahan—yang Allah firmankan dalam QS. Al-Baqarah ayat 143:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
"Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia..."
Konsep wasathiyah ini mengajarkan kita tentang keseimbangan. Tidak ekstrem ke kanan, tidak ekstrem ke kiri. Tidak membabi buta membenci Barat, tetapi juga tidak serta-merta menelan mentah-mentah semua produk peradaban mereka. Kita mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk, sesuai dengan tuntunan iman.
Pusat Data dan Pertarungan Baru
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Ketika perang menyasar pusat data dan infrastruktur digital, ini menunjukkan bahwa di era modern, data adalah medan pertempuran baru. Siapa yang menguasai data, ia memiliki kekuatan. Siapa yang mampu melumpuhkan pusat data lawan, ia dapat melumpuhkan berbagai sektor: perbankan, transportasi, komunikasi, hingga militer.
Ini menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia, khususnya kita di Kota Baubau. Kita tidak bisa lagi berpikir bahwa kemajuan teknologi adalah urusan orang lain. Kita harus mempersiapkan diri. Anak-anak kita harus dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni. Tetapi yang lebih penting, mereka harus dibekali dengan iman yang kokoh, agar ilmu yang mereka miliki tidak menjadi bumerang bagi kemanusiaan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
Perhatikan, saudaraku! Ayat ini menggandengkan iman dan ilmu. Keduanya harus berjalan beriringan. Iman tanpa ilmu lumpuh, ilmu tanpa iman buta.
Pelajaran dari Hikmah: Iman dan Ilmu di Tengah Krisis
Hadirin, ungkapan "Iman tanpa ilmu adalah lumpuh, dan ilmu tanpa iman adalah buta" yang semangatnya sangat kental dalam pemikiran ulama besar kita, Prof. Dr. Hamka, menemukan relevansinya di tengah konflik hari ini.
Iman tanpa ilmu adalah lumpuh. Lihatlah, jika kita hanya memiliki iman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan tertinggal. Kita akan menjadi bangsa yang lemah, tergantung pada bangsa lain. Negara yang lemah dalam ilmu pengetahuan akan selalu menjadi objek, bukan subjek, dalam percaturan global. Di era perang elektronik seperti sekarang, ketertinggalan di bidang teknologi bisa berarti ketidakmampuan melindungi kedaulatan bangsa.
Ilmu tanpa iman adalah buta. Sebaliknya, jika kita memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tetapi tanpa iman, kita bisa menjadi seperti negara-negara adidaya yang dengan mudahnya menyerang negara lain, membunuh puluhan ribu orang, hanya demi kepentingan ekonomi dan politik. Ilmu tanpa iman melahirkan senjata pemusnah massal, penjajahan ekonomi, dan dehumanisasi.
Konflik di Timur Tengah hari ini adalah cermin bagi kita. Amerika Serikat dan Israel memiliki teknologi militer paling canggih di dunia. Namun, tanpa bimbingan moral dan spiritual yang benar, teknologi itu justru digunakan untuk agresi dan pendudukan. Iran pun membalas dengan teknologi rudal dan drone yang tidak kalah canggihnya. Akibatnya? Rakyat sipil yang menjadi korban. Perekonomian global terguncang. Dan kita semua, termasuk di Baubau yang jauh dari lokasi konflik, ikut merasakan dampaknya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita jadikan peristiwa di Timur Tengah ini sebagai pelajaran berharga. Indonesia, dengan segala potensi dan sumber dayanya, harus membangun paradigma pembangunan yang mengintegrasikan ilmu dan iman. Kita tidak boleh sekadar meniru pola modernisasi Barat secara membabi buta. Kita harus membangun peradaban kita sendiri, peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Qur'ani.
Visi Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Ia harus menjadi visi peradaban yang menampilkan wajah Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Kita ingin Indonesia maju secara teknologi, tetapi tetap bermoral. Kita ingin Indonesia kuat secara ekonomi, tetapi tetap adil dan beradab. Kita ingin Indonesia berdaulat secara politik, tetapi tetap menjadi bagian dari solusi perdamaian dunia.
Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
"Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Misi rahmat ini harus menjadi inspirasi bagi kita semua. Di tengah konflik global yang memanas, di tengah perang elektronik yang meluluhlantakkan infrastruktur digital, kita dipanggil untuk menjadi penebar rahmat, pembawa perdamaian, dan teladan dalam mengintegrasikan ilmu dan iman.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Saudaraku, Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Segala puji milik Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat pada hari yang penuh berkah ini. Di tengah saudara-saudara kita di Timur Tengah yang dilanda perang, di tengah rentetan rudal dan drone yang saling menghantam, kita masih diberikan ketenangan dan kedamaian di kota Baubau yang kita cintai. Nikmat yang kita dapatkan sudah sepantasnya digunakan memenuhi syariat yang telah ditetapkan-Nya. Syukurilah nikmat ini dengan meningkatkan ketaatan dan kepedulian kepada sesama.
Shalawat serta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua sebagai umatnya. Dan kelak mendapatkan syafaatnya. Amin.
Konflik Timur Tengah: Panggilan untuk Introspeksi
Saudaraku, konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang sedang berkecamuk saat ini bukanlah sekadar berita internasional yang jauh dari kehidupan kita. Ia adalah cermin bagi kita semua. Ketika kita menyaksikan bagaimana teknologi canggih digunakan untuk saling menghancurkan, bagaimana pusat-pusat data menjadi sasaran militer, bagaimana layanan perbankan lumpuh akibat serangan siber —semua itu menunjukkan betapa rapuhnya peradaban yang dibangun di atas fondasi material semata.
Peradaban modern yang mengabaikan nilai-nilai spiritual dan moral sedang menuai buahnya sendiri. Senjata pemusnah massal, perang saudara, krisis kemanusiaan, dan kerusakan lingkungan adalah bukti nyata bahwa ilmu tanpa iman akan membawa kehancuran.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Marilah kita gunakan momentum ini untuk melakukan introspeksi. Sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama? Sudahkah kita mempersiapkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual?
Peran Kita di Tengah Gejolak Global
Saudaraku, di tengah konflik global yang memanas, Indonesia melalui DPR RI telah menegaskan sikapnya: mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera bertindak dalam menjaga penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Kita juga terus mendorong penyelesaian damai dan menghormati kedaulatan setiap negara.
Namun, sebagai individu dan sebagai masyarakat, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, perbanyak doa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Doa adalah senjata orang mukmin. Kita doakan semoga konflik segera berakhir, korban jiwa tidak bertambah, dan perdamaian dapat segera terwujud. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golongan mereka." (HR. Al-Hakim)
Kedua, tingkatkan kepedulian sosial di lingkungan kita. Jika kita tidak bisa membantu saudara di Timur Tengah secara langsung, kita bisa mulai dengan membantu sesama di sekitar kita. Di kelurahan Waruruma ini, mari kita jaga silaturahim, bantu tetangga yang kesulitan, dan rawat kebersamaan sebagai umat dan sebagai bangsa.
Ketiga, persiapkan generasi muda dengan ilmu dan iman. Konflik ini menunjukkan bahwa masa depan akan sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi. Anak-anak kita harus menguasai sains, teknologi, dan inovasi. Tetapi yang tidak kalah penting, mereka harus memiliki landasan iman yang kokoh agar ilmu yang mereka miliki digunakan untuk kebaikan, bukan kehancuran.
Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Pesan untuk Generasi Muda Baubau
Hadirin yang saya hormati,
Kepada para orang tua, guru, dan pembina generasi muda, saya berpesan: jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa bekal ilmu dan iman yang seimbang. Dunia semakin kompetitif. Negara-negara maju terus berlomba menguasai teknologi. Jika kita hanya berpangku tangan, kita akan tertinggal.
Tapi ingat, saudaraku, kemajuan teknologi tanpa moral hanya akan melahirkan peradaban yang destruktif, seperti yang kita saksikan di Timur Tengah. Maka, tanamkan dalam jiwa anak-anak kita bahwa ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kehancuran. Bahwa teknologi harus menjadi rahmat, bukan laknat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)
Dan dalam hadits lain, beliau bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Gabungkan kedua hadits ini, saudaraku: Kita wajib menuntut ilmu, dan ilmu itu harus bermanfaat bagi sesama. Itulah ilmu yang dipandu iman.
Doa dan Harapan
Saudaraku, marilah kita panjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan cita-cita luhur ini, dan semoga saudara-saudara kita di Timur Tengah segera diberikan kedamaian dan perlindungan.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, jadikanlah negeri kami Indonesia ini negeri yang aman, damai, dan sejahtera. Limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, iman yang kokoh, dan amal yang diterima di sisi-Mu.
Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami di Palestina, di Iran, di seluruh Timur Tengah yang sedang dilanda konflik. Hentikanlah pertumpahan darah, berikanlah mereka kesabaran dan kekuatan, serta anugerahkanlah perdamaian yang abadi di muka bumi ini.
Ya Allah, bimbinglah para pemimpin kami untuk memimpin dengan adil dan bijaksana. Berilah mereka kekuatan untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Jadikanlah Indonesia sebagai teladan dalam mengintegrasikan ilmu dan iman, dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat.
Ya Allah, jadikanlah generasi muda kami, generasi muda Baubau, sebagai generasi emas yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Anugerahkanlah kepada mereka kecintaan kepada ilmu dan ketakwaan kepada-Mu. Jadikan mereka sebagai penerus bangsa yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur.
Ya Allah, rahmatilah kami dengan keberkahan dari langit dan bumi. Jauhkanlah kami dari bencana, perpecahan, dan segala bentuk kerusakan. Satukanlah hati-hati kami dalam ketaatan kepada-Mu dan kecintaan kepada tanah air.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk mengintegrasikan ilmu dan iman dalam kehidupan kami. Jadikanlah setiap langkah kami sebagai ibadah kepada-Mu, dan setiap karya kami sebagai kontribusi bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat."
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِمِ الصَّلَاةَ
Disampaikan di Masjid Al-Muktamar, Kelurahan Waruruma, Kota Baubau
Jumat, 13 Maret 2026 M / 23 Ramadan 1447 H
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ