
Di sebuah Kecamatan Betoambari, Baubau—tepatnya di lereng bukit yang menghadap teluk Kadatua yang tenang—hiduplah seorang tua bernama Ingko. Rambutnya sudah putih, jalannya sedikit gontai, tapi semangatnya masih membara seperti api di tungku nenek-nenek penjual pisang epe.
Malam 1 Muharram, Ingko duduk di beranda sambil mengipas-ngipas perut buncitnya. "Ah, tahun baru lagi. Tapi umur ni makin lama makin terasa macam baju ketat—semakin sempit ruang geraknya," keluhnya sambil tertawa kecil.
Datanglah teman sepermainannya, Sahirsan, sambil membawa sepiring kue bolu, buras dan segelas kopi tubruk.
"Ingko oi, kenapa termenung seorang diri? Tahun baru Islam ni janganlah bersedih. Kita ni macam pohon jati—sekali berguguran daun, sekali tumbuh tunas baru. Tapi yang penting, masa tumbuh tu, hati suci!"
Ingko tersenyum. Belum sempat menjawab, terdengar langkah kaki dari arah pintu pagar. Ternyata Wa Ode Hulafa, jiran baik hati yang terkenal rajin mengadakan haroa—kenduri doa bersama—setiap kali datang bulan Muharram atau Maulid Nabi.
"Assalamualaikum, Ingko! Sahirsan! Kukira kalian berdua saja. Ini kebetulan aku baru selesai menata kue-kue untuk haroa besok," kata Wa Ode Hulafa sambil tersenyum lebar.
Ingko terkejut. "Eh, Wa Ode! Besok sudah mau haroa lagi? Belum lama rasanya Maulid kemarin."
Wa Ode Hulafa tertawa kecil. "Justru di awal Muharram inilah waktu terbaik untuk haroa, Ingko. Kami orang Buton punya keyakinan positif dalam penyelenggaraan haroa ini—bukan sekadar makan-makan, tapi doa bersama untuk menyucikan hati menyambut tahun baru Islam. Nanti akan kusajikan onde-onde, roko-roko, tuli-tuli, dan kue-kue lokal lainnya. Kamu dan Sahirsan harus datang!"
Sahirsan berseru kegirangan, "Wah, onde-onde buatan Wa Ode itu paling gurih! Tapi tunggu dulu, jangan sampai kita datang hanya karena kuenya. Ayo kita manfaatkan haroa itu untuk taubat jujur!"
Tiba-tiba Dian muncul dari balik pintu. "Ada apa ramai-ramai ni?"
"Ingko ni sedang termenung memikirkan dosa-dosanya," Sahirsan menjelaskan sambil tertawa.
Dian mengangkat alis. "Ingko, kau tahu tak? Jangan tertipu dengan indahnya sisa umur. Detik ini kita berada di awal tahun, namun boleh jadi kita sudah berada di akhir usia. Jadikan Muharram ini momentum mencuci hati dengan taubat yang jujur."
Ingko menghela napas. "Kata ustaz juga, orang yang beruntung bukanlah yang mendapati hilal bulan baru, melainkan yang mendapati hatinya jauh lebih takut dan rindu kepada Allah dibanding tahun lalu. Aku? Rindu itu ada, tapi takut tu... kadang-kadang macam pisang ijo—manis di awal, tapi lupa kalau ada bijinya."
Wa Ode Hulafa mengangguk penuh makna. "Itulah gunanya haroa, Ingko. Kita berkumpul, berzikir, berdoa, dan saling mengingatkan. Bukanlah tahun baru yang patut dirayakan, melainkan hisab diri yang harus diperketat. Hijrah yang sesungguhnya adalah saat hatimu berpaling dari bergantung pada makhluk, menuju ketundukan mutlak kepada Allah Azza Wajallah."
Dian menimpali, "Betul! Datanglah besok ke rumah Wa Ode. Kita makan onde-onde sambil muhasabah. Jangan sampai perut kenyang tapi hati kosong."
Sebelum bersurai, Ingko mendeklamasikan pantun ceria:
Buah langsat di atas para,
Pergi ke pantai beli ikan.
Tahun baru datang menjelma,
Jangan biar hati tersekat-sekatan.
Sahirsan menyambung:
Anak layang-layang terbang ke barat,
Hinggap sebentar di pohon randu.
Bukanlah tahun baru yang patut dirayakan,
Melainkan hisab diri yang harus diperketat.
Wa Ode Hulafa tersenyum lalu membalas:
Dari Buranga bunyi gendang,
Tanda haroa akan dimulai.
Onde-onde, roko-roko, tuli-tuli terhidang,
Doa bersama hati pun berseri.
Dian menutup dengan pantun penuh makna:
Di Betoambari beduk berbunyi,
Mengajak insan berbenah diri.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H, mari melangkah lebih bijak,
Hijrah hati menuju Rahman dan Rahim-Nya.
Ingko mengangguk-angguk, lalu berkata lirih: "Selamat Tahun Baru Islam 1448 H, Sahirsan, Dian, dan Wa Ode Hulafa. Besok kita haroa bersama. Jangan lupa, aku minta jatah onde-onde dua ya!"
Mereka tertawa riang, lalu pulang ke rumah masing-masing. Hati Ingko terasa ringan—bukan karena tahun baru, bukan pula karena kue-kue lezat—tapi karena ada niat untuk berubah ditemani sahabat-sahabat setia dalam ikatan doa haroa yang sarat keyakinan positif. Dan di Kecamatan Betoambari, Baubau itu, beduk magrib berbunyi lembut dari Masjid Agung Al-Munawwar, seolah-olah mengaminkan doa mereka yang ingin pulang kepada Allah dengan hati yang lebih jujur. 🌙