Di sebuah pulau kecil di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, berdiri TK Lakamali, sebuah taman kanak-kanak yang seharusnya menjadi tempat ceria bagi anak-anak belajar dan bermain. Namun, pada Agustus 2024, sekolah ini berubah menjadi arena pertempuran sengit antara yayasan pengelola, guru-guru, orang tua siswa, dan bahkan oknum kepala sekolah. Kisah ini seperti drama sinetron pedesaan: penuh intrik, ancaman, dan vandalisme, tapi dengan taruhan nyata berupa masa depan pendidikan anak-anak.

Semuanya bermula dari Herlina, kepala sekolah TK Lakamali yang sebenarnya sudah "dipindah tugaskan" sejak satu tahun sebelumnya. Sebagai pegawai negeri sipil (PNS), ia ditarik oleh Bupati Wakatobi untuk bertugas di sekolah negeri. Surat resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Wakatobi sudah jelas: tugasnya di TK Lakamali berakhir sejak setahun lalu. Tapi Herlina tak mau mundur begitu saja. Ia tetap ngotot memimpin, didukung oleh sekelompok orang tua siswa dan guru yang loyal padanya. Yayasan Lakamali, sebagai pemilik sah, geram. Mereka melaporkan hal ini ke Polsek Tomia Timur pada 22 Agustus 2024, lengkap dengan video rapat provokasi yang dipimpin Masardin, Kepala SMAN 2 Tomia—seorang figur misterius yang seolah menjadi dalang di balik kekacauan.

Laporan itu diterima, tapi polisi hanya memantau dari jauh. Tak lama, drama escalasi. Lurah setempat beserta stafnya datang ke TK Lakamali dengan rombongan, membawa hasil rapat kelurahan sebagai "senjata". Mereka berdemo di depan gerbang, lalu memasang pipa air besar untuk "menyegel" pintu pagar. Maksudnya? Menutup sekolah secara paksa! Yayasan marah, tapi tak bisa berbuat banyak saat itu.

Keesokan harinya, 23 Agustus, situasi makin panas. Pagi-pagi, tim yayasan kembali ke polsek. Polisi bilang sudah memantau: ada tenda acara joget anak muda di lokasi, tapi yang lebih parah, vandalisme sudah terjadi. Papan nama "TK Lakamali" dirusak—kata "Lakamali" ditimpa cat merah menjadi "Ceria", lengkap dengan huruf timbul dari semen. Siapa pelakunya? Belum ketahuan, tapi ini seperti pernyataan perang dari kelompok pro-Herlina.

Di dalam sekolah, kekacauan mencapai puncak absurditas. Anak-anak dibagi-bagi seperti tim sepak bola! Orang tua yang paham dan mendukung yayasan memisahkan anak mereka ke ruangan khusus. Sementara itu, kelompok lain membentuk "TK Ceria" dan bahkan "TK Nusantara Baru"—semua di gedung yang sama! Bayangkan: anak-anak kecil bingung, guru-guru saling pandang curiga, dan orang tua bertengkar soal siapa yang berhak atas ruangan. Polisi diharapkan turun tangan sebelum ada bentrokan fisik.

Masuklah babak baru pada 24 Agustus. Empat guru tiba-tiba mendeklarasikan: "Kami keluar sendiri dari TK Lakamali!" Mereka mengajar anak-anak dengan musik senam pagi itu, seolah tak ada masalah. Tapi tiba-tiba, spanduk sekolah sudah berjatuhan, pintu gudang dirusak, dan papan nama prasasti TK Lakamali ditutup dengan kertas. Keempat guru ini menghilang sebentar, lalu muncul lagi bergabung dengan orang tua siswa. Di situ, Ketua Komite Sekolah, Pak Alimahdir, menembak pertanyaan tajam: "Kenapa selama sembilan tahun pengelolaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tak pernah dilaporkan ke yayasan? Hanya kalian yang tahu?"

Jawaban guru-guru? "Itu urusan kepala sekolah, kami tak tahu." Mereka janji akan melaporkan dana BOS setelah bertemu Herlina—yang statusnya sudah bertugas di sekolah negeri. Yayasan tak tinggal diam: mereka langsung hapus data tiga guru dari Dapodik (sistem data pendidikan nasional) dan laporkan ke polsek. Surat resmi dikeluarkan: Niarwati, Fitri Ade Ningsih, dan Anisa Fitri dihapus sebagai guru tetap.

Puncak dramanya datang dari Pak La Onco, seorang orang tua siswa yang juga bendahara BOS di SMAN 2 Tomia. Di luar gedung, ia mengancam yayasan: "Kalian tak punya hak tahu pengelolaan dana BOS! Saya yang kelola dana BOS di SMAN 2, dan tak pernah lapor ke yayasan mana pun." Ancaman ini seperti bom waktu—mengungkap kemungkinan penyalahgunaan dana pemerintah yang seharusnya transparan.

Yayasan Lakamali, dipimpin Dr. Ir. H. Sahirsan, MP, akhirnya bertindak tegas. Mereka keluarkan berita acara penghapusan guru dan serukan investigasi polisi. Anak-anak tetap belajar, tapi di balik senyum mereka, ada pertarungan kekuasaan, uang, dan ego. Apakah ini akhirnya? Sampai akhir Agustus 2024, polisi masih memantau, tapi kekacauan ini mengingatkan kita: di balik dunia pendidikan yang polos, sering tersembunyi drama dewasa yang rumit.

Kisah TK Lakamali bukan sekadar gosip desa, tapi pelajaran tentang pentingnya transparansi dan aturan. Siapa yang menang? Masa depan anak-anak, semoga.