Langit Kendari masih gelap ketika Subuh usai. Hujan deras mengguyur Kota Kendari, seolah ikut merasakan haru yang menggantung di dada. Di teras rumah kos Hanum Padaleu, Poasia, saya duduk berdua dengan anak kedua. Ponselnya sesekali ia lihat—Maxim yang dipesan belum kunjung datang. Kami harus ke Bandara Haluoleo. Ada pernikahan anak ketiga tercinta yang menanti di Lampung.
Saya menarik napas panjang. Anak ketiga, sang putra kesayangan, akan menikah. Bukan perasaan kehilangan, tapi ada sesak yang tak mudah dijelaskan. Rumah nanti akan lebih sepi.
Mengejar Waktu di Dua Transit
Penerbangan Lion Air membawa kami singgah dua kali: Makassar dan Jakarta. Di Makassar, transit hanya 30 menit untuk sekadar meregangkan kaki. Tapi Jakarta... delapan jam transit. Delapan jam. Berjam-jam duduk di bandara sambil menanti—antara degup tidak sabar dan rasa lelah yang mulai menggerogoti.
Memasuki umur diatas 60 tahun perhatian kesehatan perlu diperhatikan, dokter spesilis THT di RS Bahteramas Kendari, menyarankan agar setiap bulan periksa kebersihan telinga, setiap 6 bulan sekali datang kontrol karena lubang telinga akan semakin menyempit dengaan bertambahnya usia, menghindari adanya gangguan pendengaran.
"Setidaknya nanti ada Anak yang ke empat yang akan bergabung," gumam saya saat menikmati kopi hitam di Longue ruang tunggu bandara. Anak keempat akan bergabung di Cengkareng. Benar saja, saat di Bandara Soekarno-Hatta, sang anak keempat turut bergabung. Kini kami bertiga di bandara Cengkareng: saya, anak kedua, dan anak keempat. Satu keluarga yang siap berangkat ke Lampung pada pukul 18.25 WIB.
Goyang dan Mual di Jalan ke Pringsewu
Mendarat di Bandara Lampung, seorang Bapak muda dengan mobil Avanza sudah menunggu. Pak De'—paman dari calon mempelai perempuan—tersenyum lebar. "Selamat datang, Pak... Kami menjemput dengan Anak Bapak dan sudah siap."
Perjalanan darat menuju Kabupaten Pringsewu dari bandara memakan waktu hampir dua jam. Awalnya mulus, jalanan lintas Sumatra yang ramai dan terawat. Saya sempat bernapas lega dimalam itu. Tapi begitu memasuki Kecamatan Pringsewu, jalanan mulai berlubang. Mobil Avanza yang tadinya melaju mulus kini bergoyang-oyak.
Rasa mual muncul. Pusing. Mabuk darat, sambil memejamkan mata. "Sabar," dalam hati. "Ini untuk anakku."
Tiba di Rumah Singgah
Sampai juga akhirnya. Rumah singgah yang sederhana, tempat menginap selama rangkaian acara pernikahan. Besok, tanggal 9 Mei malam, keluarga calon mempelai perempuan mengundang tokoh tokoh adat kampung—sekitar 40 orang—untuk baca yasinan. Bagi orang dewasa, ini bukan sekadar doa. Ini adalah ritual melepas: bahwa anak yang dulu digendong, kini akan memulai hidup baru.
Rangkaian Acara yang Telah Disiapkan
Pihak keluarga perempuan sudah menyusun agenda dengan rapi. Ada Dua agenda sambutan akan menjadi momen.
Sambutan Penyerahan (Dari Keluarga Mempelai Pria)
"Kami keluarga mempelai pria, dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, menyerahkan putra kami untuk dinikahkan dengan putri Bapak/Ibu. Terimalah ia dengan baik, bimbinglah ia, dan anggaplah ia sebagai anak sendiri..."
Di titik itu, suara mungkin bergetar. Sebab 'menyerahkan' terasa seperti 'melepas' tanpa pernah benar-benar rela. Tapi itulah Sunnatullah.
Sambutan Penerimaan (Dari Keluarga Mempelai Wanita)
"Kami terima dengan hati terbuka... Putra Bapak/Ibu kini jadi bagian dari keluarga kami."
Perasaan yang Sulit Diucapkan
Menjelang acara pernikahan, saya duduk sendiri di pojok ruang tamu rumah singgah. Tanggal 9 malam hari ini, akan digelar yasinan.
Teringat saat anak masih kecil—lari-lari di halaman, jatuh, lalu bangkit lagi. Sekarang, anak itu akan berjalan ke pelaminan, menggandeng tangan seorang perempuan, dan memulai babak baru.
Bukan kesedihan. Tapi rasa haru yang menggenang di dada setinggi samudra.
"Selamat ya, Nak... saya ikhlas. Sekali lagi, ikhlas."
Air mata jatuh perlahan. Berbaur dengan rintik hujan yang setia menemani sejak dari Kendari.
Akad nikah akan dikumandangkan pada hari Minggu tanggal 10 Mei 2026, jam 9 sampai selesai di rumah calon mempelai perempuan. Tenda biru sudah terpampang rapi dengan aneka sajian makanan pra-nikah yang cukup sambil menanti hari H yang suci.