foto La Mela

Andonohu, Kendari — sore itu langit terlihat bersahabat. Mendung tipis bergelayut di atas perbukitan, angin membawa wangi tanah basah dan daun sirih yang baru saja disiram. Di kediaman La Mela, bekas mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo angkatan 1985 itu, suasana justru hangat seperti kopi tubruk buatannya.

La Mela kini 62 tahun. Rambutnya sudah memutih di pelipis, tapi matanya masih sama seperti ketika ia kuliah dulu: menyala-nyala kalau berbicara soal tanaman. Bersama istrinya yang sesekali muncul membawakan pisang goreng, ia mengajak saya berkeliling halaman rumahnya yang sempit tapi padat.

“Ini sahabat sejati saya,” katanya sambil menepuk batang pohon cabai rawit yang menjulang di dalam pot besar. …

La Mela dan Halaman Yang Tak Pernah Sepi: Syukur di Balik Pot dan Polybag

Andonohu, Kendari – Pagi itu langit cerah menunggu bahagia. Di sebuah rumah sederhana namun rimbun oleh tanaman, La Mela (62) tampak sibuk menyapa kerabat yang datang silih berganti. Besok, tanggal 11 Juni 2026, putri kesayangannya akan menikah. Akad nikah pagi hari, lalu dilanjutkan perjamuan di Hotel Claro Kendari.

La Mela adalah alumni Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo angkatan 1985, juga teman lama penulis sejak di SMAN 1 Baubau. Meski usianya sudah senja, semangatnya masih seperti petani muda. Halaman rumahnya di Andonohu dipenuhi pot dan polybag — tomat, terong, cabai, serai, hingga jambu kristal. "Sahabat sejati saya ini," katanya sambil menepuk pundak sahabantya, Sahirsan. "Hidup saya tak lepas dari bertani. Teman kita H. Jamadu bahkan lebih serius dengan urban farm-nya."

Suasana pagi itu makin hangat ketika putra kelimanya tiba dari Bandung. Ransel besar, rambut gondrong, kulit putih — lulusan Fisika Teknik ITB yang kini bekerja di perusahaan otomotif ternama. Ia bercita-cita melanjutkan studi ke Universitas Harvard, atau menjadi dosen di ITB maupun di Kendari. La Mela memeluknya lama, lalu berkelakar:

"Anak bungsu pulang dari Bandung,

rambut gondrong sedikit bingung.

Besok adiknya ria bersanding,

bapak cuma pesan: jangan ikut menangis tersedu-sedu."

La Mela tertawa lepas. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih. Syukur, katanya. Syukur karena anak-anak bisa berkumpul. Syukur karena halaman yang tak pernah sepi ini kini akan menyaksikan pesta pernikahan.

"Besok akadnya di rumah, Bapak?" tanya seorang kerabat.

"Tidak, nak. Akad di mesjid. Resepsi di Hotel Claro. Rumah ini hanya jadi saksi doa dan tanaman-tanaman yang tetap setia menemani masa lansia saya."

Penulis adalah teman lama La Mela, alumni SMA Negeri 1 Baubau 1985. Cerita ini ditulis atas izin beliau di sela persiapan pernikahan putrinya, dengan secangkir kopi dan satu pantun jenaka sebagai penutup:

"Jambu kristal berbuah lebat,

disiram rutin setiap pagi.

Anak putri menikah makin semangat,

besok mertua baru mulai bergadang sedikit lagi."

Selamat, La Mela. Dari halaman yang tak pernah sepi, doa terbaik untuk putrimu dan seluruh keluarga.