Pagi itu, mentari Bandar Lampung baru saja menampakkan sinarnya yang hangat. Sebuah bus DAMRI eksekutif berwarna biru langit berdiri gagah di terminal, siap mengantarkan kami menembus Sumatra hingga berujung di Stasiun Gambir, Jakarta. Aroma kopi dari termos penumpang di kursi belakang bercampur dengan semerbak hutan yang kelak akan kami lintasi.

Bus mulai melaju. Persis satu jam perjalanan dari Bandar Lampung, kami tiba di Terminal Bakauheni. Namun, keindahan sesungguhnya bukan di terminal, melainkan di sepanjang jalan lintas Sumatra yang kami lewati. Tol mulus terbentang bagai permadani hitam. Di kiri kanan, pepohonan rindang berdiri sejajar, seolah memberi hormat kepada kami para musafir yang lelah.

Di tepian jalan, sebelum benar-benar meninggalkan Pulau Sumatra, tampak megah Gedung Institut Teknologi Sumatra (ITERA) berdiri dengan arsitektur modernnya. Kontras namun serasi dengan hijaunya hutan yang meramaikan suasana. Daun-daun bergoyang lembut ditiup angin Selat Sunda, membuat perjalanan terasa seperti melayang di antara kemajuan dan alam.

Seorang bapak paruh baya di kursi depan tersenyum sambil berkata pada teman di sampingnya, "Perjalanan begini nikmatnya. Tak kerasa waktu bergulir diiringi pemandangan."

Ketika bus mendekati dermaga Bakauheni, udara laut mulai tercium. Kami semua bersiap pindah ke kapal very roro yang akan membawa kami menyeberang. Bus DAMRI yang sama tetap setia menemani kami, ikut naik ke atas kapal, dari awal hingga akhir.

Tiba-tiba, dari sudut belakang, seorang penumpang tua bersenandung merdu, melantunkan pantun Melayu yang membuat suasana semakin syahdu:

"Anak merpati terbang ke laut,
Singgah sebentar di bibir pantai.
Perjalanan jauh terasa dekat,
Bila hati selalu damai."

Kami semua tersenyum mendengarnya. Pantun itu begitu membumi, mengingatkan bahwa waktu 2,5 jam menyeberang dari Bakauheni ke Merak terasa bukan beban, melainkan jeda yang nikmat. Di geladak kapal, kami melihat ombak kecil membasuh lambung feri, sementara burung-burung camar terbang mengikuti arah mata angin.

Begitu tiba di Pelabuhan Merak, bus DAMRI eksekutif yang sama kembali melaju. Kini giliran tanah Jawa yang menjadi latar perjalanan kami. Meski waktu tempuh 3 jam menuju Stasiun Gambir terasa cukup panjang, tak satu pun dari kami yang mengeluh. Kami larut dalam cerita masing-masing, mengenang kembali hutan rindang di Sumatra, gedung ITERA yang futuristik, lalu perlahan berganti dengan pemandangan kota Jakarta yang mulai sibuk.

Ketika bus akhirnya merapat di Stasiun Gambir, senja mulai turun. Langit Jakarta berwarna jingga. Kami turun satu per satu dengan raut tenang, seolah baru saja menjalani meditasi berjalan yang nyata.

Biaya tiket DAMRI sebesar Rp305.000 per orang — harga yang tak terasa mahal bagi kami, karena kenyamanan, pemandangan, dan kedamaian di sepanjang jalan ternyata tak ternilai.

Perjalanan usai, tapi kesan tentang hutan, lautan, dan sederet singgahan indah itu akan terus hidup dalam ingatan kami.