(6 Juni 1932 – 21 September 2021)
Profesor Jacob Elfinus Sahetapy adalah salah satu sosok yang tak pernah ragu menyuarakan kebenaran di tengah carut-marut hukum dan politik Indonesia. Tulisan ini diadaptasi dari artikel mendalam yang ditulis Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif pada 2012, menjelang ulang tahun ke-80 Sahetapy.
Dua Anak Bangsa yang Berani
Jika tanah Mandar-Sulawesi Selatan melahirkan Baharuddin Lopa—pakar hukum pemberani yang dikenal karena nyali rajawali—maka dari Saparua, Maluku, lahir Sahetapy. Keduanya adalah manusia saleh sesuai keyakinan agamanya masing-masing. Lopa meninggal lebih dulu pada 2001 di usia 66 tahun. Sahetapy, yang lebih panjang umurnya, terus “menerjang” berbagai kebobrokan hingga akhir hayatnya. Namanya selalu dikaitkan dengan perjuangan menjadikan hukum sebagai panglima di negeri ini.
Perjalanan Hidup yang Penuh Rintangan
Sahetapy lahir dari pasangan guru: ayahnya Aspenas Adriaan Sahetapy dan ibunya Constantina Athilda Tomasowa. Orang tuanya berpisah saat ia masih kecil, sehingga ia mengalami broken home. Pernah ada keinginan menjadi pendeta, tapi dilarang ibunya.
Masa kecilnya tak mudah. Invasi Jepang tahun 1942 membuat pendidikannya tertunda; ia baru menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di usia 15 tahun. Dari ibunya, Sahetapy belajar arti nasionalisme dan pembelaan terhadap rakyat kecil—nilai yang membentuk karakternya sejak dini.
Karena pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan), ia harus meninggalkan kampung halaman dan bergabung dengan kakaknya di Surabaya. Di sana ia menyelesaikan pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (dulu bagian dari UGM Surabaya).
Ia sempat melanjutkan studi S-2 di Universitas Utah, Amerika Serikat, bidang hubungan bisnis dan industri. Namun, saat kembali ke Indonesia di era Demokrasi Terpimpin, ia dituduh sebagai “agen Amerika” oleh golongan kiri dan sempat menjadi pengangguran. Setelah situasi membaik, ia kembali mengajar di almamaternya. Pada 1979, ia terpilih menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Sebelumnya, ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana.
Karier dan Kiprah yang Luas
Karier Sahetapy sangat gemilang. Ia pernah membantu Gubernur Jawa Timur sebagai anggota Badan Pemerintahan Harian, menjadi anggota DPR dari PDIP, dan menjadi guru besar tamu di Universitas Leiden (Belanda) serta Universitas Katolik Leuven (Belgia). Ia juga aktif di berbagai organisasi hukum dan kemasyarakatan.
Namun, yang paling menonjol adalah sikapnya sebagai pendidik dan penjaga nurani bangsa: lurus, konsisten, dan tidak takut menyampaikan kritik tajam.
Kritik Tajam terhadap Kondisi Bangsa
Sahetapy tak segan mengkritik korupsi yang sudah menggurita. Ia pernah berkata, “Jangan menggunakan nama Tuhan untuk korupsi.” Baginya, kebohongan mungkin berlari cepat, tapi kebenaran pasti akan menang pada akhirnya—mungkin di 2014 atau tahun-tahun berikutnya.
Ia juga sangat vokal soal kenaikan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, hal itu lebih banyak dipengaruhi permainan konglomerat hitam, termasuk pihak asing, daripada kepentingan rakyat. Ia menyarankan agar DPR lebih baik membahas UUD 1945 Pasal 33 daripada ribut-ribut tanpa solusi.
Metaforanya seringkali pedas dan menggelitik. Ia menggambarkan Indonesia seperti Rumah Sakit Gila yang dihuni orang-orang yang “gila kekuasaan, KKN, pangkat, dan jabatan”. Sebagian lainnya sudah setengah gila karena ambisi yang tak tercapai. Rumah sakit itu, katanya, diawasi oleh kekuatan besar yang telanjang. Sang Raja berjalan tanpa busana, tapi semua orang pura-pura menghormatinya—padahal mereka hanya malu dan gemas melihat ketelanjangannya.
Bagi Sahetapy, moralitas dan etika politik sudah “hilang tak berbekas, seperti disambar kilat”. Ia sering mengutip Mahatma Gandhi:
“Hal-hal yang akan menghancurkan kita adalah: politik tanpa prinsip, kesenangan tanpa hati nurani, kekayaan tanpa kerja keras, pengetahuan tanpa karakter, ilmu tanpa kemanusiaan, dan penyembahan tanpa pengorbanan.”
Ungkapan ini terasa sangat relevan dengan realitas politik dan hukum Indonesia.
Warisan Seorang Penjaga Nurani
Dengan penguasaan bahasa Belanda dan Inggris yang aktif, serta Jerman dan Prancis secara pasif, Sahetapy memiliki wawasan yang luas. Di usia senja, ia tetap garang karena “urat takutnya sudah lama putus”. Ia tak segan menggunakan bahasa langsung, tajam, dan tepat sasaran untuk menembus dinding kekuasaan.
Publik menyebutnya sebagai penjaga nurani hukum dan politik Indonesia. Meski telah berpulang pada 21 September 2021, semangat dan pemikirannya tetap relevan hingga kini.
Postscript:
Tulisan Syafii Maarif yang ditulis 14 tahun lalu kini terasa semakin relevan. Semoga kita semua tergerak untuk menjaga nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan nasionalisme yang diperjuangkan para pendahulu seperti Prof. J.E. Sahetapy.
Semoga perjuangannya diteruskan oleh generasi muda yang masih memiliki hati nurani. Selamat jalan, Profesor. Beristirahatlah dengan tenang.