Di tengah hamparan laut biru Sulawesi Tenggara, terdapat Pulau Tomia—salah satu permata dalam rangkaian Kepulauan Wakatobi (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko). Sejarahnya adalah kisah tentang ketangguhan, akar budaya yang dalam, dan harmoni dengan alam.
Akar yang Menghujam ke Zaman Prasejarah
Sejak ribuan tahun silam, Tomia telah menjadi rumah bagi manusia. Masyarakat pertamanya berasal dari rumpun Austronesia yang mengarungi samudera. Dua suku utama kemudian membentuk jati diri pulau ini: Suku Bajo, sang pengembara laut yang mahir mengarungi ombak dan akhirnya menetap di pesisir, serta Suku Buton yang membawa pengaruh kuat budaya dan sistem sosial dari Kesultanan Buton.
Menjadi Bagian Kesultanan Buton (Abad ke-15)
Di sekitar abad ke-15, Tomia resmi bergabung dengan Kesultanan Buton. Pemerintahan di pulau ini mengadopsi sistem "Kadie" (setara distrik). Seorang "Lakina" (kepala wilayah) yang ditunjuk Sultan memimpin, didampingi penasihat (Bonto), pemimpin adat (Parabela), dan dukun/tabib (Bhisa) yang juga memimpin ritual.
Pengaruh Islam dan Struktur Sosial
Di bawah Sultan La Kilaponto (Sultan Buton VI, 1597-1631), ajaran Islam menguat di Tomia. Masyarakat tradisional terbagi dalam lapisan sosial: Kaomu (bangsawan tinggi), Walaka (bangsawan menengah), Papara (rakyat biasa), dan Batua (budak—status yang kemudian dihapus). Adat istiadat Tomia memadukan kepercayaan lokal dan Islam dengan indah, seperti:
Kabuenga: Ritual syukur menyambut musim tanam.
Posuo: Ritual peralihan bagi gadis remaja menuju dewasa.
Pakande Jin: Ritual memberi makan "jin laut" sebagai bentuk penghormatan pada kekuatan laut.
Derasnya Gelombang Kolonial
Pada 1906, Belanda mengambil alih. Mereka memerintah secara tidak langsung ("Indirect Rule"), mempertahankan struktur tradisional namun di bawah kendali mereka. Masa ini membawa sekolah rakyat pertama, sistem pajak, dan jalur perdagangan terorganisir—namun juga penjajahan. Pendudukan Jepang (1942-1945) membawa penderitaan lebih dalam: kerja paksa romusha dan eksploitasi sumber daya. Posisi strategis Tomia menjadikannya pos pengintai Jepang.
Berlabuh di Pelabuhan Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka (1945), Tomia menjadi bagian Negara Indonesia Timur sebelum akhirnya menyatu sepenuhnya dengan Republik Indonesia. Awalnya masuk Kabupaten Buton, pulau ini kemudian mengalami perkembangan administratif:
1959: Bagian dari Kecamatan Kaledupa.
1999: Menjadi kecamatan mandiri.
2003: Wakatobi resmi menjadi kabupaten terpisah (UU No. 29 Tahun 2003).
2005: Tomia dimekarkan menjadi Tomia dan Tomia Timur.
Era Modern: Menjaga Warisan, Menyambut Dunia
Tomia menemukan jalan baru di abad ke-21:
Taman Nasional Wakatobi (1996): Perairan memesana di sekitar Tomia ditetapkan sebagai taman nasional, rumah bagi lebih dari 750 spesies karang dan 942 spesies ikan—sebuah khazanah bawah laut yang mengagumkan.
Daya Tarik Wisata: Sejak awal 2000-an, Tomia berkembang pesat sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia. Resort selam pertama dibuka (2001), UNESCO menetapkan Wakatobi sebagai Cagar Biosfer Dunia (2005), dan Bandara Maranggo dibuka (2012), membuka akses lebih mudah ke keindahan pulau ini.
Jiwa Budaya yang Tak Lekang Waktu
Di tengah perubahan, jiwa budaya Tomia tetap hidup:
Kesenian: Tarian Lariangi yang menggambarkan kehidupan pesisir, syair Kabanti yang dilantunkan, dan seni bela diri Dhola-mbololo.
Mata Pencaharian Tradisional: Nelayan tangguh (penangkap ikan karang & teripang), petani jagung, ketela, dan kelapa, pembuat perahu tradisional, serta pengrajin tenun "Kain Mbola" dan "Sinanto" yang penuh makna.
Kearifan Lokal: Ilmu navigasi bintang dan arus yang luar biasa, arsitektur rumah panggung (banua) yang tahan gempa, serta hukum adat "Sara" yang menjaga kelestarian laut dan darat—seperti larangan menangkap ikan dengan racun.
Tokoh-Tokoh Pengukir Sejarah
Nama-nama seperti La Mboge (Kepala Distrik Tomia awal 1900-an), La Ode Ngkadiri (penjaga tradisi Patiya), para Sangia (pemimpin spiritual), serta pejuang anti-kolonial seperti La Ode Hadi, telah mengukir jejak mereka dalam memimpin, melestarikan, dan membangun Tomia.
Penutup: Sebuah Mosaik yang Berkilau
Sejarah Tomia bagai mosaik indah yang tersusun dari gelombang waktu. Ia adalah kisah masyarakat pesisir yang tangguh, yang telah beradaptasi dengan perubahan zaman—dari era kesultanan, kolonialisme, hingga modernitas—sambil tetap berpegang teguh pada akar budaya dan kearifan lokalnya. Tomia tak hanya sekadar pulau; ia adalah hidup yang berpadu dengan laut, tradisi yang bernapas, dan warisan yang terus mengalir untuk generasi mendatang. Di setiap ombak yang membelai pesisirnya, terdengar bisikan sejarah panjang yang penuh makna.