Baubau, 9 Agustus 2025, akan menjadi saksi momen sakral pernikahan Emirmawati (Emi) dan Dedi Suhendro, yang akan mengikat janji suci dalam balutan tradisi adat Tomia. Akad nikah akan berlangsung pukul 10.00 WITA, diwarnai prosesi adat yang kaya simbolisme dan kebersamaan. Yuk, simak keseruan rencana pernikahan mereka yang penuh makna!
Tauraka: Mahar Bergengsi ala Bangsawan Tomia
Dalam tradisi Tomia, mahar atau Tauraka untuk keluarga bangsawan seperti Dedi mencapai 300 real atau setara 45 bhoka (1 bhoka = Rp60.000), total Rp6.000.000 ditambah cincin emas. Mahar ini terbagi menjadi:
Tauraka Kecil: Cincin emas 10 gram sebagai simbol ikatan suci, ditambah Kalempesi/Katandui dan tambahan masing-masing 3 bhoka (total Rp360.000).
Tauraka Besar: Meliputi Kalambhoko (30 bhoka = Rp1.800.000), Kaphobhiangi (10 bhoka = Rp600.000), Bhakena Kau, Katandui, dan Katolosi masing-masing 3 bhoka (total Rp2.700.000).
Maskawin: Elegansi Perhiasan Emas
Dedi menyiapkan maskawin berupa satu set perhiasan emas yang memesona, sesuai saran tokoh adat Tomia Timur. Set ini mencakup kalung rantai dengan gantungan, sepasang anting, gelang lengan, cincin pelengkap, dan satu cincin tambahan, melambangkan cinta dan komitmen abadi.
Tobha: Seserahan yang Meriah
Acara akan semakin semarak dengan tiga jenis Tobha (seserahan adat):
Tobha Nu Kalasara: Seserahan utama penuh makna.
Tobha Nu Ema: Seserahan dari pihak Dedi untuk Eimi.
Tobha Nu Kela: Seserahan khusus untuk pengantin perempuan.
Pembagian Kalasara juga dilakukan secara adil: 6% (Rp270.000) untuk keluarga Dedi dan 6% untuk keluarga Emi, memperkuat semangat kebersamaan.
Prosesi Akad Nikah: Momen Sakral dan Khidmat
Akad nikah akan digelar dengan urutan acara yang sarat makna:
Pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.
Sambutan serta nasihat pernikahan.
Khutbah nikah, diikuti pembacaan istighfar dan syahadat.
Ijab kabul yang menggetarkan hati.
Doa nikah, penandatanganan dokumen, dan penyerahan buku nikah.
Ucapan selamat untuk Emi dan Dedi, ditutup dengan doa penutup.
Pihak keluarga juga menyiapkan perangkat adat, seperti Anakoda (juru bicara adat) dan Pande Karu untuk seserahan dari Dedi, serta Pande Buka dari keluarga Emi.
Manga Hala-Hala: Pesta Sukaria
Usai akad, acara Manga Hala-Hala akan menghadirkan suasana bahagia dengan hidangan khas. Emi dan Dedi akan bersanding di depan kande’a, menikmati Karasi (hidangan untuk pengantin laki-laki) dan Cucuru (hidangan untuk pengantin perempuan), plus nasi dan telur yang didoakan untuk keberkahan, umur panjang, dan rezeki halal.
Injak Tanah dan Rihu Hosa: Simbol Langkah Baru
Ritual Injak Tanah akan menjadi momen haru, di mana Emi mencuci kaki Dedi tiga kali untuk setiap kaki, melambangkan pembersihan dan langkah baru. Dilanjutkan dengan Rihu Hosa (mandi tobat), pengantin dijalin dalam kain merah dan putih, melambangkan persatuan abadi. Dedi duduk di kampak (simbol tanggung jawab mencari nafkah), sementara Emi di batu asah (simbol pengelolaan keluarga). Air suci dari kendi didoakan, diminum tiga teguk, dan diakhiri doa syukuran.
Sirau dan Henuntu’a: Transisi Menuju Kehidupan Baru
Setelah akad, Dedi akan tinggal di rumah keluarga Eimi selama 1-4 malam, lalu diantar ke rumah orang tua laki-laki (Sirau), sebelum akhirnya Emi dijemput kembali dari rumah laki-laki ke rumah orang tuanya dalam prosesi Henuntu’a untuk memulai kehidupan baru bersama Dedi.
Doa untuk Keberkahan
Pernikahan Emi dan Dedi bukan sekadar perayaan, tetapi perwujudan nilai-nilai kesucian, tanggung jawab, dan kebersamaan dalam adat Tomia. Semoga pernikahan mereka pada 9 Agustus 2025 di Baubau dipenuhi keberkahan, kebahagiaan, dan cinta yang langgeng hingga ke Baitullah. Selamat berbahagia, Emi dan Dedi!