foto NIAR

Di balik hiruk-pikuk persiapan pernikahan anak kemenakannya di Hotel Mira, Baubau, seorang wanita bernama Asniar Said—atau akrab disapa Niar—bergerak lincah. Ia alumni SMP dan SMA Negeri 1 Baubau, angkatan 1982 dan 1985, yang kini menetap di Makassar. Namun, jarak tak pernah memudarkan semangatnya untuk tetap dekat dengan sahabat-sahabat lamanya.

Di grup WhatsApp Sabangka Wolio, Niar adalah anggota paling aktif. Begitu ada kabar acara kumpul, matanya langsung berbinar. Dari Makassar, ia rela menempuh ratusan kilometer demi bisa hadir. Bahkan, ia sering menjadi tuan rumah yang paling antusias. Kenanglah suatu hari ketika Pak Sahirsan meraih gelar sarjana di Universitas Negeri Makassar. Niar, bersama Nina dan Dian, datang dengan senyum lebar. Mereka mendampingi Sahirsan saat acara Wisuda Sarjana, membawa doa dan rasa bangga. "Alhamdulillah, Sahirsan! Hari ini kau resmi jadi sarjana. Kami bangga sekali bisa ikut merayakan," ucap Niar hangat.

Ketika rombongan alumni bertandang ke Malino, Niar sudah menanti nanti di Kota Makassar. "Wah, akhirnya kalian tiba! Lama aku menunggu momen ini. Ayo kita istrahat, duduk santai sebentar kita akan meluncur bareng ke Malino. Hari ini aku masak banyak-banyak untuk bekal, jangan malu-malu ya!" ujarnya sambil tertawa riang. Begitu pula saat anak Muhaimin menikah di Makassar. Niar menyambut teman-teman Sabangka dengan hidangan istimewa: aneka ubi gorengan dan sambal spesial untuk disantap setiap sore secara bersama sama. "Ini kesempatan langka kita kumpul di Makassar. Jangan pulang sebelum kenyang dan cerita lama kita habis!" katanya dengan wajah sumringah.

Setiap kali pulang ke Baubau, jika ada hajatan keluarga, Niar pasti mengajak Sabangka. Ia menyiapkan masakan khas Makassar, konro, dengan bumbu rahasia yang membuat sahabatnya rela datang dari jauh. "Eh Sabangka-ku sayang, besok ada hajatan di rumah. Kalian wajib datang ya! Kalau tidak datang, aku marah lho!" candanya lewat telepon, disusul tawa renyah.

Kini, Niar sudah beberapa hari di Baubau, sibuk mempersiapkan rencana pernikahan anak kemenakannya yang akan digelar pada 4 Juni 2026 pukul 7 malam di Hotel Mira, Baubau. Para anggota Sabangka Wolio sudah dikabari. Rencananya, mereka akan hadir semua—bukan sebagai tamu biasa, melainkan sebagai keluarga kedua.

Seorang teman bertanya, "Niar, capek nggak ngurus hajatan sekaligus jamu kita-kita ini?" Niar tertawa bahagia. "Capek sedikit, tapi senangnya berlipat ganda! Kalian ini bukan tamu, ini keluarga kedua bagiku."

Untuk mencairkan suasana, ada teman dari Niar melantunkan pantun khas Melayu:

Burung pipit terbang ke padi,

Singgah sebentar di dahan mangga.

Persahabatan bagai air di kali,

Jernih mengalir, tak pernah surga.

Teman-temannya bertepuk tangan, dan kawan Sabangka itu melanjutkan:

Pisang emas dibawa pulang,

Dari kebun tetangga sebelah.

Walau jauh kita berpisah,

Hati tetap dekat, tak pernah goyah.

Di rumah kediaman calon mempelai mulai ramai dalam mendekor persiapan pesta pernikahan dan perjamuan anak kemenakan dari Niar, aroma kopi, kue-kue dan gorengan dalam mendukung kerja panitia mendekor untuk perjamuan nanti nampak bercampur dengan bahagia. Tawa dan cerita nostalgia kembali mengalun.

Bagi Niar, setiap acara bukan sekadar hajatan. Itulah kesempatan emas untuk merajut kembali benang persahabatan yang telah terjalin sejak bangku SMP dan SMA. Di usianya yang matang, ia menjadi teladan: persahabatan sejati pantas dirawat dengan keikhlasan, kehangatan, dan tentu saja—hidangan lezat yang dibuat penuh cinta.

Pada 4 Juni 2026 malam nanti, di Hotel Mira, Baubau, Sabangka Wolio akan kembali berkumpul. Bukan hanya untuk makan, tetapi untuk bernostalgia, tertawa, dan menghangatkan hati satu sama lain—seperti yang selalu diajarkan oleh Niar, sahabat yang tak pernah pudar.

Bersambung....