Sebelum akad nikah, calon pengantin perempuan menjalani proses pingitan yang disebut Pasombo. Salah satu ritual utamanya adalah Rihu Sombo (Mandi Tobat 1), yang bertujuan untuk membersihkan dosa, noda, dan perbuatan buruk di masa lalu. Ritual ini juga menjadi simbol pengakuan untuk tidak mengulangi perbuatan yang menyimpang dari ajaran Islam, sebagai persiapan memasuki kehidupan pernikahan yang suci.
Tahapan Adab Mandi
Terdapat tiga tahap dalam adab mandi:
Mandi Air Islam (Rihu Tee’ Nu Islamu), dilakukan menjelang usia dewasa.
Rihu Sombo (mandi untuk remaja perempuan) dan Rihu Lungku (mandi untuk remaja laki-laki).
Rihu Hosa (mandi di tangga), dilakukan menjelang acara Sirau.
Urutan Ritual Rihu Sombo untuk Remaja Perempuan
Calon pengantin perempuan duduk di bangku menghadap ke timur.
Seorang pemandu (biasanya keluarga dekat yang masih hidup kedua orang tuanya) duduk di belakang untuk menyisir rambut calon pengantin, memberikan rambut dengan santan kelapa.
Mandi spul dilakukan dengan sabun, rambut diperas dari atas ke bawah, kemudian dikuncir ke atas dan dirapikan.
Rambut disisir dengan hati-hati hingga rapi.
Sehelai emas diikatakan pada cerek sebagai simbol.
Air dalam cerek didoakan oleh istri hokumu dengan doa syukur dan berbagai doa lainnya sebelum digunakan untuk memandikan calon pengantin. Doa' yang dibacakan mencakup:
Doa Balaa: Memohon perlindungan dari bala dunia dan akhirat.
Doa Rihu Sombo-1: Niat mandi untuk menyucikan diri, diikuti dengan meminum tiga teguk air yang jatuh saat mandi
Doa Rihu Sombo-2: Niat mandi untuk membersihkan diri dari dosa.
Setelah mandi, rambut diperas hingga kering sambil dibacakan shalawat di atas kepala: “Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Ali Muhammad.”
Calon pengantin mengganti pakaian dengan sarung kering (No Hemaa).
Ritual di Dalam Kamar
Calon pengantin berdiri menghadap timur, berhadapan dengan pemandu, lalu membaca Surah Al-Fatihah secara lengkap.
Calon pengantin duduk untuk menerima rezeki, saling berhadapan dengan pemandu sambil mengucapkan, “Kedhe Wa Emi Ala Na Rajakiu.”
Calon pengantin diputar ke kanan dan kiri sebanyak tiga kali sambil dibacakan shalawat:
Shalawat pertama: “Allahumma salli ala Sayyidina wa Maulana Muhammad.”
Shalawat kedua: “Allahumma salli ala wa Maulana Muhammad.”
Shalawat ketiga: “Allahumma salli ala Sayyidina wa Maulana wa Habibina wa Shafii'na wa Maulana Muhammad.”
Sediakan lampu pelita diletakkan di sebelah kanan pemandu. Pemandu mengambil asap lampu dengan jari telunjuk kanan sambil membaca doa taubat: “Astaghfirullahal ‘azhim, alladzi la ilaha illallahul hayyul qayyum wa atubu ilaih.” Asap tersebut kemudian diusapkan di tengah alis calon pengantin.
Calon pengantin mengenakan pakaian lengkap dengan sempurna.
Doa Syukuran dan Sesajian
Doa' syukuran dilakukan dengan sesajian Kandé’a, yaitu satu piring nasi dan satu butir telur matang untuk dimakan calon pengantin, serta satu piring nasi dan satu butir telur mentah sebagai tanda terima kasih untuk pemandu yang membaca doa.
Selama pingitan, calon pengantin perempuan mendapat bimbingan dari istri hokumu atau tetua tentang kehidupan berumah tangga. Setelah proses Pasombo, calon pengantin tidak diperbolehkan keluar rumah secara bebas.
Sumber Air untuk Rihu Sombo
Air untuk mandi tobat diambil dari:
Istri moji.
Istri hatibi.
Istri imam atau istri P-3 NTR Desa/Kelurahan.
Penyiraman pertama dilakukan oleh istri moji dan istri hatibi sebagai pembuka ritual, sedangkan penyiraman terakhir oleh istri imam atau istri P-3 NTR Desa/Kelurahan sebagai pembersihan akhir, melambangkan bahwa dosa dan kesalahan telah disucikan.
Makna Rihu Sombo
Ritual ini bertujuan menyucikan calon pengantin dari sepuluh sifat buruk dan menggantinya dengan sifat positif, yaitu:
Menghilangkan darah kotor, menjaga kesucian.
Mengganti kegelapan dengan cahaya.
Menghapus kebodohan, menumbuhkan semangat belajar.
Menghilangkan kemiskinan, mendatangkan rezeki.
Mengatasi kesendirian, menemukan jodoh.
Menghapus kemalasan, menumbuhkan semangat kerja.
Menghilangkan penyakit, memberikan kesehatan dan umur panjang.
Mengganti penderitaan dengan kebahagiaan.
Menghapus sifat egois, menumbuhkan kesetiaan dan kebersamaan.
Pengiringan Prosesi
Setiap langkah calon pengantin, seperti makan, minum, mandi, atau ke kamar mandi, diiringi tabuhan gendang dengan irama “tabuh/rambi Lungku.” Satu hingga tiga pawang perempuan dari kalangan istri lebai, imam, khatib, atau modin mengawal prosesi ini.