Sebuah Kisah Duka dari Sabangka Wolio

yeyet3

Langit Klaten masih kelabu saat pagi itu Yeyet menyesap kopi hangat di teras rumah sepupunya. Liburan di Yogyakarta selama seminggu terasa sempurna—candaan dengan sepupu, obyek-obyek di Malioboro, hingga senja di Tebing Breksi. Namun, keheningan pagi itu pecah oleh getaran ponsel yang bertubi-tubi.

Grup WhatsApp Sabangka Wolio mendadak berubah menjadi lautan kalimat pendek yang dingin. Satu nama, dua nama, bersamaan:

"Innalillahi wa innailaihi rajiun. Wa Ode Sitti Hajarningsih..."

"Innalillahi wa innailaihi rajiun. Rosmia binti Sappi..."

Keduanya pergi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Cangkir kopi di tangan Yeyet jatuh. Berderai. Dunianya berhenti berputar. Hajarningsih—adik kandungnya sendiri, buah hati yang dulu ia gendong, kini telah mendahuluinya menghadap Ilahi. Di sisi lain, sahabatnya Riah juga pasti sedang terpana, karena yang pergi adalah Rosmia, kakak kandung Riah, perempuan tangguh yang dulu pernah mengabdi sebagai prajurit di Kodim Baubau.

Air mata Yeyet jatuh, tetapi ia segera menegakkan dada. Bibirnya bergetar melafalkan doa yang diajarkan Rasul:

"Allahummaghfir lahumaa warhamhumaa wa 'aafihimaa wa'fu 'anhumaa."

(Ya Allah, ampunilah keduanya, sayangilah keduanya, sehatkanlah keduanya, dan maafkanlah segala dosa keduanya.)

Di sela isak tangis yang tertahan, Yeyet merangkai kata dalam hati—sebuah tradisi lisan Wolio yang mengalir di darahnya:

Pinang muda di atas para, Jangan dimakan sebelum masak; Adik kandung pergi selamanya, Hanya doa yang dapat kuutus dekat.

Pasrah dalam Hening

yeyet4

Yeyet dan Riah sama-sama meyakini bahwa kematian adalah jembatan menuju keabadian. Bagi keluarga besar Sabangka Wolio, dua kabar ini bukanlah "kebetulan", melainkan isyarat dari Allah agar mereka bersiap. Yeyet segera menghubungi kerabat di Baubau untuk memastikan prosesi pemakaman berjalan sesuai sunnah—jenazah dimandikan, dikafani, dan dishalatkan sebelum matahari tergelincir.

Rosmia, sang mantan anggota Kodim, pergi dengan membawa setumpuk kenangan pengabdian. Riah, adiknya, hanya bisa berbisik di setiap sujud: "Kakak, engkau dulu menjaga panglima di bumi, kini aku serahkan kepergianmu pada Sang Maha Penjaga di langit."

Peluru disimpan di gudang senjata, Seragam digantung penuh tanda jasa; Rosmia pergi, kakak Riah nan nyata, Jasamu abadi, wahai putri perkasa.

Solidaritas yang Menembus Jarak

Yeyet yang masih memiliki sisa cuti liburan, serta-merta membatalkan semua rencana. Ia tak peduli tiket pesawat mahal atau barang yang belum selesai dikemas. Yang ia pikirkan hanyalah: "Aku harus pulang ke Baubau. Aku harus melihat adikku sekali lagi, dan juga memeluk Riah yang kehilangan kakaknya."

Grup Sabangka Wolio berubah menjadi posko darurat. Keluarga dari Kalimantan, Sulawesi, bahkan Jakarta, saling mengirimkan pesan duka dan doa. Ini bukan sekadar grup, ini adalah tali tenun keluarga yang mengikat mereka meski terbentang lautan.

Riah yang berada di Baubau, meski patah hati, tetap menerima kenyataan dengan pelukan erat kerabat. Mereka bukan hanya berbagi duka karena satu peristiwa, tetapi juga berbagi kisah tentang dua perempuan hebat yang kini berdampingan di alam barzah.

Adat Sabangka Wolio dan Tanda Hormat

Saat Yeyet mendarat di Bandara Betoambari, Baubau, ia disambut oleh aroma kemenyan dan lantunan ayat suci dari rumah duka. Dalam tradisi Wolio, kematian dua kerabat di waktu yang sama akan diproses dengan Pobasa (perkabungan besar). Rumah-rumah tetangga bergantian mengirimkan hamba (makanan), sebagai simbol bahwa duka adalah tanggungan bersama.

Yang membuat suasana makin khidmat adalah kehadiran rekan-rekan kerabat di Baubau yang datang mengenakan pakaian hitam. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada Rosmia dan Wa Ode Hajar. Sebagai wujud "keluarga besar" yang peduli pada sesama.

Yeyet dan Riah kini di Baubau, ditemani ketua adat yang membacakan riwayat silsilah. Di antara hiruk-pikuk takziah, Yeyet kembali merangkai pelepas rindu, kali ini untuk mengingatkan semua hadirin:

Ombak menabrak karang di Bajo, Pecah tujuh lalu berpadu; Kematian datang mengajak kita semua, Maka perbaikilah hidup sebelum berlalu.

yeyet2

Epilog: Dua Bintang di Timur Baubau

Malam itu, usai semua pelayat pulang, Yeyet dan Riah beristrahat masing masing duduk di beranda rumah. Mata mereka menatap bintang di ufuk timur. Mereka percaya, di antara gemerlap itu, ada dua ruh yang sedang tersenyum—Wa Ode Hajarningsih, adik yang hangat, dan Rosmia, kakak yang gagah.

Hidup harus terus berjalan. Liburan akan datang lagi, tawa akan kembali terdengar. Namun, nama mereka akan abadi dalam setiap sujud doa, dalam setiap tradisi yang dijaga, dan dalam setiap pantun yang dilantunkan di grup Sabangka Wolio.

Selamat jalan, Hajarningsih dan Rosmia. Dari tanah kembali ke tanah, dari Yang Maha Kuasa kembali ke hadirat-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. 🌹