Baubau, 27 Juli 2025 – Pasangan calon pengantin, Emi dan Hendro, bersiap menyambut hari bahagia mereka pada 9 Agustus 2025 dengan menggelar prosesi Pasombo (pingitan), tradisi adat khas masyarakat Tomia, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Prosesi ini menjadi langkah awal menuju pernikahan yang sarat makna spiritual dan budaya, sebagaimana dijelaskan dalam tradisi Adab Pasombo.

Makna Mendalam Pasombo

Pasombo adalah ritual pingitan bagi calon pengantin perempuan sebelum akad nikah, bertujuan untuk menyucikan diri dari noda dan dosa masa lalu melalui Rihu Sombo (Mandi Tobat). Ritual ini melambangkan komitmen untuk memulai kehidupan rumah tangga baru dengan hati yang bersih dan sesuai ajaran Islam. Emi, sebagai calon pengantin perempuan, akan menjalani serangkaian adab mandi yang penuh simbolisme, dipandu oleh seorang pemandu berpengalaman, biasanya kerabat dekat yang masih hidup.

Tahapan Adab Mandi

Prosesi Pasombo untuk Emi akan mengikuti tiga tahap adab mandi sesuai tradisi:

  1. Mandi Biasa: Emi akan duduk di bangku menghadap timur, dengan pemandu perempuan di belakangnya memberikan santan pada rambutnya, melambangkan pembersihan awal.

  2. Mandi Sabun: Rambut Emi akan diperas dari ujung hingga digulung ke atas, menandakan penyucian menyeluruh.

  3. Rihu Hoosa (Mandi di Tempat Khusus): Air mandi disiapkan oleh istri seorang tokoh adat atau imam, dilengkapi aneka rempah dan doa-doa khusus, seperti doa Rihu Sombo 1 dan Rihu Sombo 2, untuk memohon keberkahan pernikahan.

Persiapan Prosesi

Saat ini, keluarga Emi dan Hendro sedang sibuk menyiapkan perlengkapan prosesi, termasuk gendang, gong, dan alat musik tradisional lainnya untuk mengiringi ritual. Suasana di kediaman keluarga dipenuhi antusiasme, dengan warga sekitar turut membantu memastikan kelancaran acara. "Kami ingin menjaga tradisi leluhur ini dengan penuh khidmat. Gendang dan gong akan menghidupkan suasana, sementara doa-doa akan memohon keberkahan untuk Emi dan Hendro," ujar salah satu kerabat.

Menyambut Hari Bahagia

Prosesi Pasombo ini bukan hanya ritual adat, tetapi juga wujud kearifan lokal Tomia yang mengajarkan pentingnya kesucian dan komitmen dalam pernikahan. Setelah Pasombo, Emi dan Hendro akan melangkah ke acara akad nikah pada 9 Agustus 2025, diiringi doa dan dukungan keluarga serta masyarakat Tomia.

Tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya Wakatobi yang terus dilestarikan, menggabungkan nilai spiritual Islam dengan kearifan lokal. Mari kita nantikan momen indah ini, saat Emi dan Hendro memulai lembaran baru dengan restu tradisi leluhur!