foto Badaruddin

Baubau - 7 Juni 2026. Pagi itu, langit membentang cerah, seolah ikut merestui pertemuan dua insan yang dinanti banyak pihak. Di Kelurahan Waruruma, Kecamatan Kokalukuna, suasana sudah ramai sejak pukul delapan. Jalan menuju Perumnas Waruruma yang sempit mulai dipadati kendaraan—motor, mobil, bahkan beberapa oplet tua yang mengangkut sanak saudara dari jauh.

Di dalam sebuah rumah sederhana namun dihias penuh warna krem dan putih, Rismayasari Badar—panggilan akrabnya Sari—duduk dengan anggun bersanding di pelaminan. Gadis kelahiran Baubau ini adalah putri kedua dari pasangan La Ode Badaruddin dan Ibu Musriati. Wajahnya berseri, sesekali menunduk malu ketika tetangga dan kerabat datang memberi ucapan selamat. Di sampingnya, Aan Rahmat Darmawan, putra kedua dari almarhum Hasan Ali dan Ir. Wa Nine, M.Kes., tampak gagah dalam balutan jas hitam kecoklatan. Senyumnya tak pernah pudar. Matanya sesekali melirik Sari, gadis pujaannya yang tinggal tak jauh di Waruruma sana.

Namun, yang paling menarik perhatian hari itu adalah sang ibu mempelai pria, Ir. Wa Nine, M.Kes. Seorang perempuan tangguh yang dikenal sebagai pejabat di Yayasan Pendidikan Kesehatan ternama di Kota Baubau. Dengan penuh haru sekaligus bangga, beliau melepas putra kesayangannya menikahi gadis pujaan hati dari kampung seberang, sama sama asal etnis Pulau Tomia Wakatobi yang sudah lama berdomisili di Kota Baubau. Ada kilatan air mata saat beliau merangkul Sari usai akad nikah—seolah berkata, “Anakku kini bertambah satu.”

Akad Nikah yang Sakral

Pukul sembilan tepat, penghulu datang. Suasana langsung hening. Hanya gemericik kipas angin dan suara lantunan doa yang memenuhi ruang tamu. Aan mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, meski tangannya sedikit gemetar. Sari menjawab dengan isyarat isyarat mata yang penuh makna. Semua tamu yang hadir, dari keluarga dekat hingga kerabat jauh, larut dalam haru. Sesekali terdengar isak tangis bahagia dari barisan ibu-ibu yang duduk di tikar.

Perjamuan yang Meriah

Setelah akad nikah usai, acara dilanjutkan dengan perjamuan pada pukul 12.30 siang. Dan di sinilah cerita sesungguhnya dimulai.

Mereka bilang, perjamuan di Waruruma terkenal dengan keramahannya. Tapi hari itu, keramaiannya meluap hingga ke jalan. Tidak ada yang menyangka antusiasme warga begitu besar. Tetangga, famili, sanak saudara, bahkan disaster—bukan bencana sungguhan, melainkan sebutan untuk tamu dadakan yang datang tanpa diundang—tumpah ruah. Mereka datang dari berbagai penjuru Kota Baubau. Ada yang naik motor bertiga, ada yang membawa anak kecil yang masih mengantuk, hingga rombongan ibu-ibu arisan yang rela berdesakan demi mencicipi hidangan.

Jalan sempit di lingkungan Perumnas Waruruma yang biasanya sepi, sore itu berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan. Para juru parkir sampai kewalahan. Tangan kanan mereka memberi kode, tangan kiri melambai untuk mengatur kenderaan masuk dan keluar, kendaraan silih berganti. “Maju lagi, Bu! Mundur dikit, Pak!” teriak seorang juru parkir dengan suara serak. Mobil dan motor lalu-lalang, sesekali bersitatap dengan tamu yang berjalan kaki sambil menggandeng pasangan dan menggendong anak anak yang dibawa serta dalam undangan ini.

Hidangan nasi khas perjamuan untuk pernikahan, lauk ayam goreng, ikan bakar, dan sayur khas Baubau ludes dalam sekejap. Para pelayan yang bertugas membagi makanan sampai berkeringat. Ibu-ibu dapur tak henti menyiapkan makanan yang masih mendidih di tungku. Anak-anak kecil sibuk rebutan permen dan minuman jus buah yang diberikan gratis di sudut rumah.

Hingga Sore Hari

Acara baru benar-benar berakhir sekitar pukul tiga sore. Tamu satu per satu berpamitan. Beberapa bahkan sempat mampir ke tenda parkir sambil bercanda dengan juru parkir yang mulai kelelahan. Sari dan Aan, sang pengantin baru, akhirnya bisa bernapas lega. Mereka berdiri di pintu rumah, melepas tamu terakhir yang melambai sambil tersenyum.

Dan ketika senja mulai turun di Baubau, kedua keluarga itu duduk bersama—La Ode Badaruddin dan Musriati di satu sisi, Ir. Wa Nine di sisi lain. Mereka tertawa, bernostalgia, dan sesekali menangis haru. Karena pernikahan bukan sekadar tentang dua insan, tapi tentang dua dunia yang hari itu bersatu dalam sebuah perjamuan sederhana di gang sempit Lapangan Volly belakang Polsek Perumnas Waruruma.

"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak kita tersenyum, meski harus berdesakan dengan ratusan orang di gang rumah sendiri."

— Ir. Wa Nine, M.Kes., sambil memeluk erat menantu perempuannya.