1. Paradoks Rasa: Ketika Luka dan Cinta Berdampingan

yeyet 5

Ketika orang yang kita cintai pergi, kita tidak serta-merta kehilangan mereka. Yang terjadi justru paradoks: mereka menjadi sangat dekat di dalam pikiran, tetapi sangat jauh dalam kenyataan. Kesedihan datang seperti ombak—kadang surut, kadang menghantam keras tanpa peringatan. Sebuah lagu, aroma masakan, atau bahkan toko kelontong lama bisa tiba-tiba membangkitkan kembali intensitas rasa sakit yang sempat kita kira telah mereda.

Para ilmuwan saraf seperti Richard Bryant menjelaskan bahwa ini bukanlah kelemahan karakter. Ini adalah kerja sirkuit imbalan di otak yang mengalami disorientasi. Nukleus akumbens, pusat "kerinduan" biologis kita, masih menunggu kehadiran yang telah tiada—sebuah fenomena yang secara neurologis mirip dengan craving.

Sementara itu, Hugo Bottemanne menambahkan peran hormon oksitosin, yang biasanya mengikat kita pada orang terkasih. Ketika ikatan itu terputus secara fisik, —sulit menerima kenyataan baru, namun juga sulit melepas yang lama.

Paradoks ini juga terjadi dalam ingatan. Peneliti dari Harvard, Robinaugh dan McNally, menemukan bahwa mereka yang berduka mendalam kesulitan mengingat masa lalu secara spesifik, dan sulit membayangkan masa depan. Namun, ke dua kemampuan itu tetap utuh jika topiknya adalah almarhumah. Artinya, otak kita memonopoli memori untuk tetap mempertahankan almarhumah, bahkan dengan mengorbankan masa depan kita sendiri.

Model Stroebe dan Schut menyebut proses sehat dalam berduka sebagai osilasi, atau bergantian. Kadang kita tenggelam dalam kehilangan, kadang kita paksa diri mengurus hidup. Bergantian di antara keduanya—itulah jalannya.

2. Kearifan Kuno di Balik Tanggal Peringatan

foto2

Di sinilah sains modern bertemu dengan tradisi leluhur secara mengejutkan. Mengapa nenek moyang kita—apakah Islam, Jawa, Buddha, atau Kristen—merancang peringatan pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan tahunan (hari 1000)?

Ternyata, itu bukan sekadar ritual. Itu adalah "resep neurobiologis" yang jenius.

· Hari ke-3: Tubuh masih dalam syok akut. Berkumpulnya kerabat menjadi benteng sosial yang menstabilkan detak jantung dan amigdala (pusat ketakutan).

· Hari ke-7: Ingatan tentang almarhumah berada di puncak kejernihan. Menceritakan kenangan secara kolektif membantu memindahkan ingatan mentah dari pusat emosi ke narasi yang lebih tenang di korteks prefrontal.

· Hari ke-40: Otak mulai membentuk jalur saraf baru—neuroplastisitas awal. Doa' dan ritual di titik ini memberi otak "izin" untuk mulai beradaptasi dengan realitas baru.

· Hari ke-100: Ini adalah batas masa berkabung intensif. Tradisi menyebutkannya, dan sains setuju: setelah 3-4 bulan, osilasi emosi kita mulai stabil.

· Peringatan tahunan (Haul): Ini adalah anniversary reaction yang wajar. Rasa rindu hadir kembali, tetapi kali ini ia datang sebagai tamu—menyakitkan, tetapi tidak melumpuhkan.

Jika tradisi itu tidak bisa dilakukan karena jarak atau keadaan, kita dapat mengadaptasinya: menulis surat, memasak makanan favorit almarhum, atau membuat album digital. Tubuh kita tidak peduli apakah ritual terjadi di masjid besar atau kamar tidur; yang ia butuhkan adalah ritme dan makna.

foto4

3. Di Mana Mereka Berada? Menyusuri Alam Gaib

Jika kita berbicara tentang keberadaan mereka yang telah pergi, agama-agama besar memberi kita peta, sains memberi kita kejujuran. Secara ilmiah, kesadaran berakhir, energi tubuh kembali ke alam semesta—sebuah pulang yang agung. Namun secara spiritual, perjalanan belum usai.

Dalam pandangan Islam, setelah dunia, manusia memasuki Alam Barzakh, sebuah alam pembatas yang berarti "penghalang." Di sinilah ruh menunggu hari kebangkitan, merasakan nikmat atau siksa kubur sebagai bayangan dari amal dunia.

Namun, ada alam-alam lain yang dilalui:

· Alam Arwah: Ini adalah masa "sebelum dunia," di mana ruh-ruh bersaksi kepada Tuhan tentang keesaan-Nya. Ini adalah masa janji.

· Alam Rahim: Perpindahan ruh ke jasad di kandungan.

· Alam Dunia: Panggung utama kita untuk beramal.

· Alam Barzakh: Ruang tunggu dan penantian.

· Alam Akhirat: Kehidupan kekal yang abadi, tempat jasad dan ruh bersatu kembali untuk selama-lamanya.

Penting untuk membedakan Alam Arwah dengan Alam Akhirat. Alam Arwah adalah "masa lalu" metafisik kita; alam Akhirat adalah "masa depan" kekal kita. Di alam Arwah kita berjanji; sedang di alam Akhirat kita menerima hasil.

Malam Ketujuh: Ketika Rindu Mulai Berbicara

Tidak ada kepergian yang benar-benar memutus. Justru, ketika seseorang yang kita cintai tiada, ia hadir dengan cara lain: sangat dekat di dalam benak, meski sangat jauh dari jangkauan. Kesedihan datang seperti air laut—kadang tenang, kadang tiba-tiba menghantam tanpa aba-aba. Sepenggal lagu, aroma masakan lama, atau bahkan sudut rumah yang sepi bisa membangkitkan kembali rasa sakit yang sempat kita kira mulai mereda.

Para ilmuwan otak menyebut ini bukan kelemahan. Ini adalah kerja pusat kerinduan di dalam kepala kita—nukleus akumbens—yang masih setia menunggu kehadiran yang telah tiada. Sebuah fenomena yang secara ilmiah mirip dengan rasa haus akan sesuatu yang tak pernah datang. Hormon oksitosin, yang biasanya mengikat kita pada orang-orang terkasih, kini kehilangan pasangannya. Sistem kita menjadi kacau: sulit menerima kenyataan baru, tapi juga sulit melepas yang lama.

Di hari-hari awal, ingatan tentang almarhumah masih mentah. Namun pada malam ketujuh, sesuatu yang unik terjadi. Para peneliti menemukan bahwa di titik inilah ingatan tentang orang yang pergi berada di puncak kejernihannya. Syok akut hari ketiga mulai surut. Amigdala—pusat ketakutan di otak—mulai tenang. Dan kini, otak membutuhkan arahan baru.

Itulah mengapa tradisi leluhur merancang tahlilan ke-7 sebagai momen berkumpul. Bukan sekadar seremonial, tapi sebuah benteng sosial yang menstabilkan detak jantung dan menyusun kembali ingatan yang berserakan. Ketika keluarga dan sahabat duduk melingkar, saling bercerita tentang Wa Ode Sitti Hajar—tentang senyumnya di ruang kelas, tentang kelembutannya sebagai ibu, tentang dedikasinya sebagai pendidik—secara perlahan, ingatan-mentah itu dipindahkan dari pusat emosi ke narasi yang lebih tenang. Dari luka menjadi cerita. Dari kehilangan menjadi kenangan.

Maka, pada Minggu malam ini, di Jalan Anoa No. 11, Bure, ketika keluarga besar La Ode Asraru berkumpul, jangan hitung berapa banyak bacaan yang dilantunkan atau kursi yang terisi. Yang terpenting adalah kesediaan untuk duduk bersama, menahan tangis dalam doa, dan merangkai lagi nama Wa Ode Sitti Hajar Ningsih dalam narasi paling indah yang kita ingat.

Ini adalah awal dari adaptasi. Saat otak mulai memberi izin pada diri kita untuk menerima realitas baru—tanpa harus tercekat dalam rasa takut yang melumpuhkan. Rindu itu perlahan akan berubah menjadi cahaya. Dan detak jantung di dada Yeyet, suami, serta anak-anaknya, semoga kembali menemukan ritme ketenangan yang semestinya.

Selamat berproses, keluarga besar. Semoga malam ini menjadi jembatan antara kesedihan dan keikhlasan, antara doa dan penerimaan. Karena pada akhirnya, kematian mengajarkan kita satu hal yang sangat dewasa: kita tidak bisa mengontrol kapan kita pergi, tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita tinggalkan. Dan Wa Ode Sitti Hajar telah meninggalkan cinta, pengabdian, dan nama baik yang akan terus hidup di setiap doa yang dipanjatkan.

Untuk Yeyet dan keluarga:

yeyet1

Tetaplah berbagi cerita, tetap saling menguatkan. Semoga malam ke-7 ini menjadi pintu menuju ketenangan yang lebih dalam, dan semoga rindu itu menjelma menjadi amal yang terus mengalir untuk almarhumah.

CATATAN KENANGAN & DOA

Peringatan 7 Hari Kepergian
(Untuk Keluarga Besar Yeyet)

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada perjalanan ruh, ada tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir.”
(QS. Al-Ankabut: 57)

Mengenang Perjalanan Ruh Almarhumah

Menurut pemahaman Dr. Rusli Iru, M.Pd.I, perjalanan kesadaran manusia melewati empat tahap besar. Hari ini, kita mengenang salah satu di antaranya—tahap pasca-kematian, di mana jasad telah kembali ke tanah, dan ruh berada dalam alam barzakh, menunggu kepastian dari Allah SWT.

Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan, kenangan akan almarhumah tidaklah hilang. Ia tetap hidup dalam doa, dalam jejak kebaikan, dan dalam cinta yang tak terputus.

Empat Tahap Kehidupan yang Kita Renungkan

  1. Pra-eksistensi – Saat sel kelamin bertemu, membawa potensi kehidupan yang Allah kehendaki.

  2. Kehamilan – Saat janin tumbuh, dan pada usia 120 hari, ruh ditiupkan sebagai awal kesadaran.

  3. Kehidupan Duniawi – Saat almarhum/almarhumah menjalani hari-hari penuh suka, duka, tawa, dan air mata.

  4. Pasca-kematian – Kini, di alam barzakh, ruh menanti rahmat-Nya.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa almarhumah, lapangkanlah kuburnya, terangilah alam barzakhnya, dan pertemukanlah ia dengan orang-orang yang dicintainya dalam naungan rahmat-Mu. Ya Allah, kuatkanlah keluarga yang ditinggalkan, dan jadikanlah kesabaran mereka sebagai cahaya di hari-hari mendatang.”

Pesan Penghiburan untuk Keluarga Yeyet

Kepergian bukanlah akhir, melainkan perpindahan dari satu fase ke fase lainnya. Sebagaimana janin dalam rahim tidak mengetahui dunia yang akan ia masuki, kita pun tidak mengetahui alam setelah kematian. Namun, kita yakin bahwa Allah Maha Pengasih, dan setiap kebaikan almarhumah akan menjadi bekal di sana.

Teruslah mendoakan, merawat kenangan baik, dan menjalani hidup dengan makna—karena itulah cara terbaik untuk menghormati perjalanan yang telah selesai.

5. Penutup: Menjembatani Dua Dunia

Kematian mengajarkan kita satu hal yang sangat dewasa: kita tidak bisa mengontrol kapan kita pergi, tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita tinggalkan.

Itulah esensi menjadi dewasa sejati. Bukan tidak takut mati, tetapi begitu mencintai kehidupan sehingga kita rela mengaturnya dengan rapi untuk orang-orang yang kita cintai—baik yang masih di sini, maupun yang sudah di Barzakh.

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association (2022) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th edn, text revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing. doi:10.1176/appi.books.9780890425787.

Bottemanne, H., Charpentier, A., Tanguy, M., and Fossati, P. (2024) 'From love to pain: is oxytocin the key to grief complications?', L'Encéphale, 50(1), pp. 85-90. doi:10.1016/j.encep.2023.08.006.

Bryant, R.A., Andrew, E. and Korgaonkar, M.S. (2021) 'Distinct neural mechanisms of emotional processing in prolonged grief disorder', Psychological Medicine, 51(4), pp. 587-595. doi:10.1017/S0033291719003507.

Bryant, R.A., Korgaonkar, M.S., and Felmingham, K.L. (2026) 'A neurobiological perspective on prolonged grief disorder', Trends in Neurosciences, 49(3), pp. 173-184. doi:10.1016/j.tins.2026.01.001.

Klass, D., Silverman, P.R. and Nickman, S.L. (eds.) (1996) Continuing Bonds: New Understandings of Grief. Washington, DC: Taylor & Francis.

Lange, C. (2016) 'Barzakh', in Encyclopaedia of Islam, THREE. Leiden: Brill. Available at: https://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-islam-3/barzakh-COM_25208 (Accessed: 5 July 2026).

Robinaugh, D.J. and McNally, R.J. (2013) 'Remembering the past and envisioning the future in bereaved adults with and without complicated grief', Clinical Psychological Science, 1(3), pp. 290-300. doi:10.1177/2167702613476027.

Stroebe, M. and Schut, H. (1999) 'The dual process model of coping with bereavement: rationale and description', Death Studies, 23(3), pp. 197-224. doi:10.1080/074811899201046.

SUMBER PRIMER AGAMA (Dirujuk dalam Teks)

Al-Qur'an (tanpa tahun) Surah Al-Mu'minun [23]: 100. (Terjemahan dapat merujuk pada Kementerian Agama Republik Indonesia atau terjemah resmi lainnya).