
Di tepi pantai barat Makassar, berdiri megah sebuah benteng berbentuk seperti penyu yang hendak merangkak ke lautan. Itulah Benteng Rotterdam, atau yang dulu dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang (Jumpandang). Benteng ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan saksi bisu perjuangan, pengkhianatan, dan keteguhan hati bangsa.
Awal Mula: Benteng Kerajaan Gowa
Pada tahun 1545, Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, memerintahkan pembangunan benteng ini dari tanah liat dan putih telur sebagai perekat. Nama Jumpandang diambil dari pohon pandan yang tumbuh subur di sekitarnya, yang kelak menjadi asal usul nama Ujung Pandang.
Pada masa Sultan Alauddin (Gowa XIV) tahun 1634, benteng diperkuat dengan batu padas hitam dari pegunungan karst Maros dan Takalar. Dinding kedua dibangun tahun berikutnya. Benteng ini menjadi simbol kekuatan maritim Kerajaan Gowa-Tallo, pusat pertahanan dan perdagangan rempah-rempah yang ramai.
Namun, datanglah ancaman dari barat. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda menginginkan monopoli perdagangan. Perang Makassar meletus. Dipimpin Cornelis Janszoon Speelman, VOC menyerang hebat. Sultan Hasanuddin memimpin perlawanan gagah berani, tapi pada 18 November 1667, ia terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya. Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda. Banyak benteng Gowa lainnya dihancurkan.
Speelman membangun ulang benteng yang rusak dengan gaya Eropa, menggunakan batu kapur dari Selayar dan kayu jati dari Tanete-Bantaeng. Ia mengganti namanya menjadi Fort Rotterdam, mengenang kota kelahirannya di Belanda. Benteng ini pun menjadi pusat kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi dan Indonesia Timur — markas militer, gudang rempah, kantor pemerintahan, dan penjara bagi para pemberontak.
Kedatangan Sang Pangeran: Pengasingan di Ruang Tahanan
Tahun demi tahun berlalu. Benteng Rotterdam tetap berdiri kokoh, menyaksikan naik turunnya kekuasaan. Hingga pada suatu hari di tahun 1833, sebuah kapal tiba di pelabuhan Makassar membawa seorang tawanan istimewa.
Ia adalah Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengkubuwono III dari Yogyakarta, pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang mengguncang kekuasaan Belanda. Setelah ditangkap melalui tipu daya Jenderal De Kock di Magelang pada 1830, ia pertama kali diasingkan ke Manado. Kemudian, Belanda memindahkannya secara diam-diam ke Makassar dengan kapal Circe, bersama keluarga dan pengikut setianya.
Di Benteng Rotterdam, Pangeran Diponegoro ditempatkan di sebuah ruang tahanan kecil di sudut kanan benteng (dekat Bastion Bacan). Ruangan itu sempit, berbentuk setengah lingkaran, tanpa jendela lebar, hanya dua jeruji besi dengan ketinggian berbeda sehingga ia harus menunduk saat masuk-keluar. Di dalamnya hanya ada alas tidur kayu sederhana dan tempat untuk membaca Al-Qur’an.
Meski terpenjara, semangatnya tak padam. Ia menghabiskan hari-harinya dengan berdoa, merenung, dan bercerita tentang perjuangan kepada keluarga dan pengikutnya yang diizinkan tinggal bersamanya dalam batas tembok benteng. Belanda menjaga ketat: tak ada kontak bebas dengan penduduk lokal. Namun, keteguhan iman dan martabatnya Diponegoro membuat bahkan beberapa perwira Belanda menghormatinya.

Selama lebih dari 21 tahun (1833–1855), Pangeran Diponegoro menjalani pengasingan di sini. Ia menolak tawaran Belanda untuk dipindah ke tempat lain dan memilih menghabiskan sisa hayat di Makassar. Pada 8 Januari 1855, di usia 69 tahun, sang pahlawan mengembuskan napas terakhir di dalam ruang tahanan itu. Jenazahnya dimakamkan di Makassar, dan keluarganya kemudian diberi kemerdekaan sesuai permintaannya.
Warisan Abadi
Hari ini, Benteng Rotterdam berdiri sebagai museum dan cagar budaya. Pengunjung dapat berjalan di atas rampart setinggi tujuh meter, melihat bastion-bastion bernama Bonie, Boeton, Mandassar, Amboina, Batjang, dan Ravelin. Di sudut ruang tahanan Pangeran Diponegoro, banyak orang berziarah, merenungkan perjuangan melawan penjajah.

Benteng Rotterdam mengajarkan kita: dinding batu dapat ditaklukkan, tapi semangat perlawanan dan martabat seorang pemimpin tak pernah bisa dipenjara selamanya. Dari perlawanan Sultan Hasanuddin hingga pengorbanan Pangeran Diponegoro, benteng ini menjadi simbol ketangguhan bangsa Indonesia.
Jika kamu berkunjung ke Makassar, singgahlah ke sana. Rasakan angin laut yang sama yang menyaksikan sejarah itu berlalu. Benteng Penyu ini akan terus berdiri, menceritakan kisah keberanian kepada generasi mendatang.