image

BAB 1: JEJAK AWAL PERADABAN

Pulau Tomia, salah satu permata di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, telah menyimpan cerita panjang sejak zaman prasejarah. Temuan arkeologis dan kisah turun-temurun mengungkap bahwa pulau ini telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam. Para pendatang awal berasal dari rumpun Austronesia yang mengarungi lautan dan memilih Tomia sebagai tempat bermukim.

Dua kelompok etnis utama mewarnai wajah Tomia kuno: Suku Bajo dan Suku Buton. Suku Bajo, yang dijuluki "pengembara laut" (sea nomads), awalnya hidup mengambang di atas perahu sebelum akhirnya menetap di pesisir Tomia. Keahlian mereka dalam melaut luar biasa—mereka menjadi pemasok hasil laut bagi kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Sementara itu, Suku Buton membawa pengaruh besar dalam bahasa, budaya, dan sistem sosial yang kemudian melekat erat dengan Kesultanan Buton.


BAB 2: DI BAWAH NAUNGAN KESULTANAN BUTON

Memasuki abad ke-15, Tomia secara resmi bergabung dengan Kesultanan Buton. Sistem pemerintahan tradisional mengadopsi struktur "Kadie" (setara distrik), dengan seorang pemimpin bernama Lakina yang diangkat langsung oleh Sultan Buton. Lakina dibantu oleh perangkat adat, seperti Bonto (penasihat), Parabela (pemimpin adat), dan Bhisa (dukun sekaligus tabib yang menangani ritual).

Pada masa pemerintahan Sultan La Kilaponto (Sultan Buton VI, 1597–1631), yang bergelar Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin I, pengaruh Islam mulai menguat di Tomia. Ajaran Islam disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaan, termasuk ke pelosok-pelosok Tomia, membentuk perpaduan unik antara kepercayaan lokal dan nilai-nilai Islam.

Masyarakat Tomia kala itu terbagi dalam lapisan sosial yang jelas:

  • Kaomu (bangsawan tinggi),

  • Walaka (bangsawan menengah),

  • Papara (rakyat biasa),

  • Batua (budak/pekerja—status ini kemudian dihapuskan).

Berbagai ritual adat lahir dari perpaduan budaya dan agama, seperti:

  • Kabuenga — ritual menyambut musim tanam,

  • Posuo — upacara peralihan bagi gadis remaja,

  • Pakande Jin — ritual memberi "makan" jin laut sebagai bentuk penghormatan kepada samudra.


BAB 3: PANGERAN LA MBOGE DAN DISTRIK TOMIA

Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Tomia adalah La Mboge, yang hidup pada pertengahan abad ke-19 di Benteng Patua—sebuah perkampungan kuno. Sebelum distrik Tomia terbentuk pada 1913, pulau ini merupakan bagian dari Bharata Kahedupa yang terbagi menjadi tiga Kawati: Waha, Tongano, dan Timu. Masing-masing kawati dipimpin oleh La Mboge dengan gelar Meantu'u (untuk Tongano dan Timu) dan Bhonto (untuk Waha), dengan pusat di tiga benteng: Patua, Suosuo, dan Rambiranda.

Pada 1917, setelah kepala distrik pertama La Ode Taani wafat saat menunaikan ibadah haji, La Mboge diangkat sebagai kepala distrik Tomia. Ia kemudian dikenal dengan gelar Kapala Mansuana, yang konon diberikan karena ia mengundurkan diri di usia senja.

La Mboge adalah keturunan bangsawan Kesultanan Buton. Garis keturunannya menelusuri hingga La Ode Guntu, seorang bangsawan sakti dari Wolio, yang merupakan keturunan Sultan Murhum. La Mboge wafat di Onemai sekitar tahun 1940-an, dan kepemimpinan dilanjutkan oleh putra keduanya, La Masinae (H. Ismail), sebagai Kapala Mansuana II pada 1935. Kemudian, pada 1966, keponakannya H. Muhammad Isa (Yaro Yi Bonto) menjadi kepala distrik terakhir hingga jabatan ini berakhir pada 1970, digantikan oleh sistem kecamatan dengan camat pertama La Ode Rahiki.


BAB 4: ZAMAN KOLONIAL DAN PENDUDUKAN

Era Belanda (1906–1942)

Setelah Kesultanan Buton mengakui kedaulatan Belanda pada 1906, Tomia masuk dalam wilayah Hindia Belanda. Belanda menerapkan sistem Indirect Rule—pemerintahan tidak langsung—di mana struktur tradisional tetap dipertahankan namun di bawah pengawasan kolonial. Pada masa ini, Tomia mulai mengenal sekolah rakyat (Volkschool), sistem pajak resmi, dan jalur perdagangan yang lebih teratur.

Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Perang Dunia II membawa penderitaan bagi rakyat Tomia. Mereka dipaksa menjadi romusha (pekerja paksa) untuk kepentingan perang Jepang. Sumber daya alam dieksploitasi besar-besaran, dan beberapa titik di Tomia dijadikan pos pengintaian militer Jepang karena posisinya yang strategis di jalur pelayaran.


BAB 5: MERDEKA DAN PERUBAHAN ADMINISTRASI

Setelah kemerdekaan Indonesia (1945), Tomia sempat menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur (1946–1950) sebelum akhirnya bergabung penuh dengan Republik Indonesia. Pada awal kemerdekaan, Tomia masih berada di bawah Kabupaten Buton.

Perjalanan administrasinya terus berubah:

  • 1959 — menjadi bagian dari Kecamatan Kaledupa,

  • 1999 — menjadi kecamatan tersendiri,

  • 2003 — Wakatobi resmi menjadi kabupaten baru melalui UU No. 29 Tahun 2003,

  • 2005 — Tomia terbagi menjadi dua kecamatan: Tomia dan Tomia Timur.


BAB 6: KEINDAHAN BAWAH LAUT DAN PARIWISATA

Pada 1996, perairan Tomia dan Kepulauan Wakatobi lainnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Wakatobi. Dengan lebih dari 750 spesies karang dan 942 spesies ikan, kawasan ini menjadi surga bagi penyelam dan ilmuwan kelautan.

Memasuki awal 2000-an, Tomia mulai dikenal sebagai destinasi wisata bahari dunia:

  • 2001 — resort penyelaman pertama dibuka,

  • 2005 — UNESCO menetapkan Wakatobi sebagai Cagar Biosfer Dunia,

  • 2012 — Bandara Maranggo di Tomia diresmikan, membuka akses lebih mudah bagi wisatawan mancanegara.


BAB 7: WARISAN BUDAYA YANG HIDUP

Tomia tidak hanya kaya akan laut, tetapi juga tradisi. Beberapa kesenian dan budaya yang masih lestari:

  • Lariangi — tarian yang menggambarkan kehidupan pesisir,

  • Kabanti — syair sastra lisan yang dinyanyikan,

  • Dhola-mbololo — seni bela diri tradisional,

  • Kain Mbola dan Sinanto — tenun khas Tomia,

  • Tari Sajo Moane (Eja-eja), Kadandio, dan Wakenta — tarian adat yang sarat makna.

Mata pencaharian tradisional masyarakat Tomia bertumpu pada:

  • Nelayan (menangkap ikan karang dan teripang),

  • Pertanian (jagung, ketela, kelapa),

  • Pembuatan perahu tradisional,

  • Kerajinan tenun.


BAB 8: KEARIFAN LOKAL DAN TOKOH BESAR

Masyarakat Tomia dikenal dengan kearifan lingkungannya, seperti Sistem Sara—hukum adat yang mengatur pengelolaan laut dan darat secara berkelanjutan, melarang penggunaan racun untuk menangkap ikan.

Tokoh-tokoh penting yang mewarnai sejarah Tomia:

  • La Ode Ngkadiri — pemelihara tradisi Patiya dan kearifan lokal,

  • Para Sangia — pemimpin spiritual pra-Islam yang menjaga harmoni alam,

  • La Ode Hadi dan La Ode Kala — tokoh perlawanan anti-kolonial dalam cerita rakyat,

  • Pengrajin tenun dan pembuat perahu — pewaris kemahiran maritim yang terus dijaga hingga kini.


PENUTUP: TOMIA, PUSAKA LAUT NUSANTARA

Sejarah Tomia adalah cermin dinamika sosial, politik, dan budaya yang kaya. Dari masa prasejarah, kejayaan Kesultanan Buton, tekanan kolonial, hingga kebangkitan sebagai destinasi wisata dunia—Tomia tetap memegang erat identitas budayanya. Masyarakatnya, yang dikenal sebagai pelaut ulung dan penjaga tradisi, terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Tomia bukan sekadar pulau. Tomia adalah pusaka laut Nusantara yang hidup.