
Baubau, 25 Juni 2026 – Sinar matahari siang seakan ikut meriah saat keluarga besar mempelai menggelar pesta perjamuan syukur di Lorong Taksi, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, mulai pukul 12.30 hingga 15.00 WITA. Acara ini adalah puncak kebahagiaan setelah prosesi akad nikah yang khidmat digelar pagi tadi pukul 07.00, yang sukses menyatukan Hajrawati, S.H., M.H. (putri kesayangan Pak La Uza, S.Pd., MMPd. dan Ibu Dahiana) dengan Maulana Imam Ma'ruf, S.Pd., perjaka asal Jakarta Timur yang sudah lama tinggal di Kota Baubau karena kuliah dan bekerja.
Meskipun Ibu Siti Mariah telah almarhum, kehadiran sang ayah, Bapak Yatimo, bersama kakak kandung Maulana yang sengaja datang dari Jakarta, membuat suasana kian hangat. Bapak Yatimo tak henti-henti tersenyum dan menikmati setiap prosesi—terutama saat melihat putranya kini resmi menyandang gelar "menantu orang Buton."
"Dari Jakarta bawa batik,
di Baubau sambut dengan gending,
Yang pagi akad mantap betul,
siang jamuan bikin kenyang dan pending!"
Pantun jenaka pun mengalir di tengah hidangan khas Buton dan lauk khas Betawi yang berpadu harmonis. Para tokoh masyarakat (warga setempat) dan warga Tomia yang berdomisili di sekitar Lorong Taksi turut membanjiri lokasi dengan riang, menikmati santap siang, nasi, ketupat, opor, hingga ikan bakar bumbu kuning.
Di tengah riuhnya pesta perjamuan, tak kalah meriah kehadiran Bapak K. H. Ahmad Syarif, S.Sos.I., M.Pd. dan keluarga besarnya yang hadir memeriahkan acara. Sang MC, pemandu acara pun dengan sigap mengundang khusus pak kiyai untuk naik ke pelaminan berfoto bersama kedua mempelai. Dengan santai mengikuti arahan, setelah menikmati hidangan siang dan cukup beristirahat, pak kiyai pun melangkah ke pelaminan didampingi istri tercinta dan seluruh keluarga besarnya. Mereka berpose dengan gaya bebas, penuh keceriaan, sesekali tertawa lepas—seolah lupa sedang difoto—menunjukkan betapa hangat dan akrabnya suasana undangan perjamuan kali ini.
"Ada kiyai bersorban putih,
foto bareng gaya bebas dan ceria,
Bukan hanya saksi, tapi juga penghibur,
bikin semua tamu makin bahagia!"
Bahkan, ketika Pak La Uza berbicara sambil bercanda, "Anak saya sudah sah jadi istri orang Jakarta, tapi jangan lupa, kalau pulang kampung harus bawa oleh-oleh rendang!", semua tamu pecah tawa. Bapak Yatimo pun menjawab santai, "Rendang mah bisa, asal nanti cucu pertama lahir di Baubau, biar bisa baca doa pakai bahasa Wolio!" Pak Kiyai pun ikut menimpali dari kursi kehormatan, "Bahasa Wolio boleh, tapi doanya tetap pakai arab, ya!"—pecah lagi gelak tawa seluruh undangan.
"Ada kue lapis di atas piring,
jangan dimakan sambil terburu-buru,
Selamat kepada Hajra & Maulana,
Semoga rumah tangganya awet, rukun, dan lucu!"
Hingga pukul 15.00, gelak tawa masih terdengar, makanan habis licin, dan foto bersama dihiasi gaya kocak ala keluarga. Pesta perjamuan ini bukan sekadar syukur, tetapi juga bukti bahwa cinta lintas pulau (Jakarta–Buton) bisa berakhir manis—dan penuh canda tawa, apalagi dengan kehadiran tokoh agama yang justru jadi "bintang dadakan" sesi foto bergaya santai!