foto aumi

Minggu, 14 Juni 2026 – Suasana kekeluargaan yang hangat terasa sejak siang hari di kediaman Aumi Wameo. Keluarga besar Sabangka mulai berdatangan sejak pukul 15.00 untuk memenuhi undangan silaturahmi dari Dian. Namun, satu sosok terlihat lebih awal: Lusi. Dengan setia, ia menunggu sendirian sejak siang, memilih tak pulang ke rumah usai menghadiri beberapa undangan pernikahan keluarga. "Daripada bolak-balik, sekalian saja di sini sambil menunggu yang lain," ujarnya santai.

Namun siapa sangka, di balik acara kumpul biasa ini, Aumi—pemilik rumah—menyimpan momen istimewa. Dengan mata berbinar penuh syukur, Aumi mengumpulkan seluruh anggota keluarga yang hadir. Beliau ingin memanjatkan doa sebagai wujud terima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pasalnya, cucu putri kesayangan Aumi baru saja berhasil lulus dalam upaya mencari pekerjaan yang selama ini menjadi keinginannya.

“Ini rezeki yang tak ternilai,” ujar Aumi haru. Beliau pun membagikan Al-Qur’an kecil kepada para hadirin dan mengajak seluruh keluarga Sabangka memanjatkan doa: agar cucu kesayangan itu senantiasa mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa, dipanjangkan umur, dan dimudahkan meraih rezeki halal.

Lantunan Yasin yang Harmonis

Selesai berdoa, Aumi mengajak semua membaca Surat Yasin bersama-sama. Suara sayup-sayup mulai terdengar, lalu dengan kompak mengalun merdu. Di tengah bacaan, Samna menonjol dengan suaranya yang nyaring mendominasi, namun tetap selaras dengan jamaah lain yang turut bersuara sesuai dengan gaya vokal masing-masing—menciptakan harmoni yang khas dan mengharukan.

Tak lama kemudian, suasana bertambah istimewa. Darma bergabung di tengah jalan, langsung melanjutkan lantunan Yasin dengan suara merdu dan—yang mengejutkan—tanpa membuka teks sama sekali. Ternyata, ibu Darma telah menghafal penuh Surat Yasin selama ini. Kelancarannya membuat yang lain terpana dan ikut khusyuk.

Doa yang Sempat Tersendat

Usai Yasin, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat. Suasana sempat tegang haru ketika pembaca doa terbata-bata karena ada bait yang terlupa. Namun, Hajra dengan sigap mengarahkan dan membenarkan bacaan. Doa pun kembali lancar, ditutup dengan “Aamiin” yang menggema dari seluruh ruangan.

Makanan Organik dan Foto Bareng yang 'Dipaksa'

Tak lengkap rasanya silaturahmi tanpa santap bersama. Tuan rumah menyediakan aneka hidangan organik ala kampung yang menggugah selera. Menu bakso dan baruasa menjadi primadona—rasanya yang autentik membuat semua orang ketagihan. Suasana makan jadi cair, penuh tawa dan cerita.

Di penghujung acara, tradisi keluarga Sabangka yang sudah mengakar kembali digelar: foto bersama. Meski selalu ada saja anggota keluarga yang ogah-ogahan dan malu-malu, kebiasaan ini akhirnya tetap terlaksana—kadang dengan cara setengah dipaksa, tapi berujung tawa bersama.

Pesan dari kisah ini:
Kebersamaan keluarga, doa yang dipanjatkan dengan tulus, serta syukur atas rezeki sekecil apa pun—itulah kekayaan sejati yang tak ternilai harganya.


Syukur dan Gelak Tawa di Rumah Aumi Wameo: Ketika Yasin Dilantunkan, Pantun Berselip, dan Foto ‘Dipaksa’

Minggu, 14 Juni 2026 – Senja itu enggan berlalu begitu saja dari halaman rumah Aumi Wameo. Sebab, di sanalah keluarga besar Sabangka berkumpul sejak pukul 15.00, memenuhi undangan silaturahmi dari Dian. Namun sebelum yang lain berdatangan, telah hadir lebih awal seorang diri Lusi. Ia duduk sendiri sejak siang, memilih setia menunggu seraya enggan pulang ke rumah. Bukannya tanpa sebab—beberapa undangan pesta nikah telah ia singgahi, dan hatinya berkata, “Ah, lebih baik bertahan di sini sambil menanti Sabangka yang lain.”

Anak ayam turun ke halaman,
Ibu itik berenang-renang.
Lusi datang duluan sendirian,
Bukan galau, cuma malas balik dan pulang.


Aumi dan Doa untuk Cucu Tersayang

Di tengah keriuhan yang masih samar, Aumi—tuan rumah yang bijaksana—menangkap sebuah momen sakral. Dengan mata berkaca-kaca namun bibir tersenyum, beliau mengumpulkan seluruh keluarga. Ternyata, cucu putri kesayangannya baru saja berhasil lulus dalam upaya mencari pekerjaan yang selama ini diidam-idamkan. Maka dijadikanlah kumpul itu sebagai wujud syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aumi membagikan Al-Qur’an kecil kepada semua yang hadir. Beliau berpesan, "Marilah kita panjatkan doa, agar cucuku ini senantiasa dalam lindungan-Nya, dipanjangkan umur, dan dimurahkan rezeki halal."

Buah cempedak di dalam peti,
Kelapa muda santan penuh.
Kalau doa sudah dipanjatkan sejati,
Rezeki datang walau tak diundang sungguh.


Samna Bersuara Nyaring, Darma Hafal di Luar Kepala

Maka bacaan Surat Yasin pun dilantunkan serentak. Suara mereka bertaut indah, naik turun bak ombak selat Kabaena-Talaga dimusim barat. Namun satu suara tampak menonjol: Samna, yang melantun dengan nyaring menguasai ruang. Bukan sekadar keras, tapi penuh penghayatan. Yang lain mengikuti dengan suara vokal masing-masing—merdu, walau kadang selang-seling bagaikan koor kampung di Batulo beberapa hari lalu yang penuh cinta.

Di tengah jalan, pintu terbuka. Darma datang. Tanpa banyak bicara, ia langsung menyatu dalam alunan Yasin. Namun yang membuat takjub, Darma tidak menyentuh teks Al-Qur’an kecil sekalipun. Lantunannya lancar, merdu, dan fasih. Ibu Darma, rupanya, telah menghafal Surat Yasin sejak bertahun-tahun lalu. Para hadirin saling berpandangan, tersenyum kagum.

Durian jatuh dari dahan,
Jangan lupa makan ketan.
Darma baca Yasin tanpa teks Al-Qur’an,
Hafalnya bukan mainan, bikin keluarga heran!


Hajra Penyelamat Doa yang Tersendat

Usai Yasin, acara beranjak pada doa selamat. Namun saat pembacaan doa dimulai, terjadi sesuatu yang menggelitik: sang pembaca doa tersendat. Sebuah bait terlupa di lidah, seketika hening menyergap. Untunglah Hajra dengan sigap mengarahkan. Seperti nahas yang tahu arah angin, ia membetulkan bacaan pelan-pelan. Doa pun kembali lancar, ditutup dengan "Aamiin" yang mengguncang atap rumah—namun tak ada yang marah, hanya tawa kecil dan haru bercampur menjadi satu.

Pergi ke rawa menangkap belut,
Jangan lupa bawa serok.
Doa tersendat, Hajra membetulkan tut,
Mirip tukang parkir yang tahu titik belok.


Makan Bersama: Bakso dan Baruasa yang Menggoda

Selepas doa, perut mulai bersuara. Tuan rumah telah menyediakan aneka hidangan organik ala kampung. Bakso hangat berkuah bening dan baruasa—makanan khas yang legit dan pulen—menjadi bintang utama. Saking nikmatnya, tak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya suara sendok dan senyuman yang berbicara. Suasana makan bersama itu terasa seperti pesta kecil, tapi penuh arti.

Kalau ada sumur di ladang,
Boleh kita menumpang mandi.
Baruasa dan bakso terasa sangat,
Sampai lupa kata 'diet' di hati.


Foto Bersama: Tradisi yang Kadang ‘Dipaksa’

Dan seperti biasa, keluarga Sabangka tak pernah lepas dari satu tradisi terakhir: foto bersama. Sebagian dengan antusias berpose. Sebagian lain bersembunyi di belakang lemari, atau pura-pura asyik menekan ponsel. Tapi foto tetap terjadi—kadang dengan cara setengah dipaksa, ada yang ditarik paksa, ada yang diiming-iming sepiring baruasa lagi. Pada akhirnya, semua tertawa. Sorot kamera menangkap raut bahagia yang tak sempat dibuat-buat.

Pohon kelapa di tepi kolam,
Buahnya jatuh ke dalam rawa.
Ada yang ogah foto dengan diam-diam,
Ujung-ujungnya dipaksa—fotonya malah lucu semua!


Di penghujung senja, keluarga Sabangka pulang dengan hati tersenyum. Mereka membawa pulang bukan hanya oleh-oleh cerita, tetapi juga doa yang tak terputus, gelak tawa yang tersimpan di setiap sudut rumah Aumi, dan sebuah pelukan hangat dari kehidupan itu sendiri.

Terbang tinggi burung merpati,
Hinggap sebentar di pohon jati.
Bila silaturahmi terjalin sejati,
Rezeki dan bahagia datang mengganti.