La Uza

Langit sore di Jalan Latsitarda 2 mulai jingga ketika azan Ashar baru saja usai. Di rumah sederhana bercat hijau pudar itu, La Uza, S.Pd., MMPd, dan Ibu Dahiana menyambut satu per satu keluarga yang datang. Bukan sekadar silaturahmi biasa—ini adalah pertemuan yang dinanti, sekaligus yang membuat dada berdebar. Sebab, di balik pintu rumah itulah, mimpi besar sedang dirancang: pernikahan putra-putri mereka, yang akan digelar sembilan hari lagi, tepat pada Kamis, 25 Juni 2026.

Jam menunjukkan pukul 15.30. Kursi-kursi di ruang teras rumah mulai penuh. Para tamu keluarga Bapak dan Ibu mencari tempat duduk, Bapak-bapak duduk di kursi teras dan ibu ibu duduk melingkar di atas karpet di ruang tengah. Ada yang sibuk mencatat di buku tulis, ada yang mengusap kening karena udara sore yang terik, dan tak sedikit yang tertawa kecil mengenang masa lalu—karena di rumah ini, setiap pertemuan selalu terasa hangat, seperti kembalinya ke kampung halaman di masa kecil.

La Uza berdiri di depan, memegang secarik kertas yang sudah lusuh karena bolak-balik ditulis ulang. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, tapi karena haru.

"Bapak dan Ibu sekalian, kami sekeluarga tidak bisa membalas kebaikan semua yang hadir hari ini. Kami hanya punya niat tulus, agar anak-anak kami bisa memulai hidup baru dengan berkah. Dan untuk itu, kami butuh tangan-tangan kalian."

Ia lalu membacakan poin-poin penting. Rapat kecil itu berjalan alot namun penuh canda. Hasilnya bulat: dibentuk panitia kecil keluarga. Sederhana. Tanpa jabatan megah. Hanya orang-orang yang saling percaya. Tugasnya jelas—mengurus akad nikah yang akan berlangsung di rumah ini, calon mempelai perempuan, serta perjamuan di halaman tetangga dekat yang sudah mereka sewa.

Saat nama-nama mulai ditulis di kertas kecil, Ibu Dahiana tak kuasa menahan air mata. Ia menyeka pipinya dengan ujung kerudung, lalu tersenyum.

Dari kursi teras bapak-bapak dihimbau agar masuk di ruang tamu duduk bersila di atas karpet yang telah disediakan untuk membahas kepanitiaan dalam rangka renacana pernikan anak putri kesayangan Bapak La Uza ini.

Sekarang, kami ingin memberi yang terbaik untuk anak kami. Dan kalian semua... kalian adalah hadiah terbesar, ungkap La Uza."

Tak ada yang menyahut. Tapi semua mengangguk. Di mata para hadirin, tergambar janji sunyi: apapun yang terjadi, pernikahan ini akan berjalan lancar.

Menjelang sore, aroma harum mulai menyeruak dari dapur belakang. La Uza mempersilahkan semua tamu untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan—bukan makanan mewah, tapi justru itulah yang paling menyentuh. Tukkulamba, jagung tumbuk ala kampung yang gurih penuh santan dan campuran kacang merah lembut di lidah. Parende, sayur khas yang mengingatkan pada masa kecil di pelosok kampung di Tomia. Dan yang paling istimewa: aneka seafood segar: ikan goreng dan ikan bakar yang masih mengepulkan asap, ditangkap pagi hari oleh kerabat nelayan mereka.

Saat suapan pertama masuk, suasana berubah. Para tamu yang tadinya serius membahas anggaran dan konsumsi untuk acara akad nikah dan perjamuan, kini terdiam menikmati. Kemudian satu per satu mulai bergumam:

"Wah... ini rasa kampungku dulu."

"Ibu Dahiana, rahasia bumbunya apa sih? Ini beda banget."

"Tukkulamba ini mengingatkan aku pada almarhumah ibu..."

Tawa dan tangis bercampur menjadi satu. Ada yang bercerita tentang kebun jagung zaman dulu, tentang nenek yang menumbuk jagung dengan lesung kayu setiap pagi, tentang laut yang masih biru dan jernih tempat mereka mencari ikan kecil-kecil. Makanan sederhana itu telah menjelma menjadi mesin waktu—membawa semua orang pulang ke masa lalu yang indah, sekaligus menguatkan tekad mereka untuk menyambut masa depan yang baru bagi generasi berikutnya.

Ibu Dahiana tersenyum dari balik dapur. Matanya basah, tetapi hatinya lapang. Inilah balasan paling manis, pikirnya. Bukan karena pujian, tapi karena rasa itu—rasa kebersamaan yang tumbuh lagi, di antara keluarga yang kadang terlupakan karena kesibukan.

Saat azan Maghrib mulai berkumandang, para tamu satu per satu pamit. Ada pelukan yang lama, ada jabat tangan yang erat, dan ada janji: "Nanti kami datang lagi untuk cek tenda." "Saya yang bawa sound sistem besar." "Jangan lupa, saya siap jadi koordinator konsumsi."

Mereka pergi dengan langkah ringan, membawa oleh-oleh kecil berupa bungkusan Tukkulamba dan seafood yang sengaja dibungkus Ibu Dahiana. Di pintu, La Uza dan Dahiana berdiri berdampingan, melambai sampai kehadiran terakhir menghilang di tikungan jalan.

Malam itu, setelah rumah sunyi dan pintu terkunci, La Uza duduk di teras rumahnya. Di tangannya, selembar SK Panitia sederhana yang baru ditandatangani. Di atasnya tertulis nama-nama yang hadir tadi—bukan sekadar daftar, melainkan rekaman cinta.

Dia menatap langit yang mulai dipenuhi bintang, lalu berbisik pelan:

"Terima kasih, Tuhan. Kami tidak kaya. Tapi kami kaya akan mereka."

Sembilan hari lagi, rumah di Jalan Latsitarda 2 ini akan ramai kembali. Tapi sekarang, malam ini, yang ada hanya rasa syukur yang menggantung di udara—sama manisnya dengan jagung tumbuk, sama hangatnya seperti pelukan keluarga yang datang dari jauh, dan sama dalamnya seperti laut yang menyimpan kenangan.

Karena pernikahan bukanlah sekadar gaun putih dan pesta meriah. Pernikahan, bagi La Uza dan Dahiana, adalah saat semua orang yang mereka cintai berkata:

"Aku di sini. Untukmu."

Dan di situlah cerita sebenarnya dimulai.

Cerita ini terinspirasi dari suasana kekeluargaan yang hangat, di mana kesederhanaan justru menjadi sumber kebahagiaan yang paling dalam.