asmoni foto

Langit Kampung Usuku sore itu kelabu, tapi bukan warna awan yang membikin dada sesak. Asmoni, lelaki tua dengan punggung mulai membungkuk, baru saja kehilangan separuh jiwanya. Tiga puluh dua tahun ia berumah tangga dengan Wa Ani—bukan sekadar istri, tapi adik letting yang sejak kecil tinggal bertetangga dengannya di Usuku, Tomia. Mereka tumbuh dalam satu lingkungan, bermain di halaman yang sama, lalu dewasa dan dinikahi. Sebuah cinta yang dimulai dari pekarangan rumah.

Wa Ani, semasa hidupnya, tak pernah alpa menyiapkan kopi tubruk tanpa gula setiap pagi untuk suaminya. Setiap malam, tangannya yang mulai keriput dengan sabar mengusap punggung Asmoni yang pegal karena usia. Tak pernah sekalipun ia membiarkan suaminya tidur tanpa doa yang dipanjatkan dalam bisik lirih.

Hari ini adalah hari ketujuh. Tutumbu'a. Masyarakat Usuku percaya bahwa pada hari ini, roh yang meninggal akan melintasi batas terakhir menuju alam baka. Dan adat mewajibkan seekor kambing disembelih untuk mengantarkan kepergiannya.

Beberapa hari sebelum ajalnya, Wa Ani masih sempat tersenyum lemah di atas dipan kayu. Tangannya yang dingin meraba wajah Asmoni untuk terakhir kalinya. Batuk yang setahun terakhir menggerogoti dadanya akhirnya membungkam suara yang dulu merdu membisikkan kata cinta setiap subuh.

"Pak Asmoni, ini dari kawan-kawan rantau."

La Joo masuk bersama Asraru, Hardi, dan Asria. Rambut mereka telah ditaburi uban, punggung sedikit membungkuk, tapi persahabatan angkatan 1982 SMPN 1 Tomia masih utuh seperti karang di pantai Sokkoa' P. Lentea'. La Joo menyerahkan amplop coklat berisi dua juta tujuh ratus ribu rupiah.

Asmoni bangkit dengan badan bergetar. "Terima kasih," katanya parau. "Dengan ini saya bisa membeli kambing. Wa Ani, adik lettingku, istriku, pasti tersenyum di sana."

La Joo mengangguk. Sebagai seorang penulis buku-buku adat Tomia—tentang prosesi pernikahan, kedukaan, dan tata cara pemakaman di Kampung Usuku—La Joo paham betul bahwa ritual ini adalah penghormatan terakhir. Buku-buku karyanya selama bertahun-tahun menjadi rujukan warga, meski ia sendiri rendah hati dan tak pernah mengaku sebagai tokoh adat.

Namun di mata warga, terutama La Adzi—seorang pembeli setia buku-buku La Joo yang rajin mengkaji setiap halamannya—La Joo tetap dianggap sebagai tokoh adat utama. La Adzi sering berkata, "Apa yang saya tahu tentang adat Tomia, semuanya saya baca dari tulisan La Joo." Ironisnya, La Adzi justru lebih sering disebut-sebut orang sebagai "tokoh adat" karena ia kerap tampil di depan. Tapi La Joo tak pernah mempermasalahkan. Baginya, menulis sudah cukup.

"Insya Allah berkah, Mon," ujar Hardi lirih.

Di sudut ruangan, Asria yang dikenal tegar dan tak pernah canggung menggalang sumbangan dari perantauan, kali ini matanya berkaca-kaca. Ia menatap Asmoni lama, lalu berkata dengan suara yang bergetar meski ditahannya sekuat tenaga:

"Buah cempedak di luar pagar,

Ambil galah tolong jolokkan.

Kalau tidak ada yang abadi di dunia,

Hanya kenangan yang kita simpan."

Asmoni terdiam. Air matanya mulai jatuh.

"Mon," sambung Asria, "Wa Ani itu dulu hanya mau duduk di sebelahmu. Dia tolak semua lelaki lain. Kalian sudah seperti saudara sejak lahir, lalu Tuhan takdirkan jadi suami-istri. Kau tahu, cinta seperti itu hanya datang sekali seumur hidup."

Seketika isak tangis memecah sunyi. Bahkan La Joo yang selama ini sibuk menulis tentang duka orang lain, kini harus merasakan duka sedekat ini. Ia menunduk lama.

Dengan sumbangan yang dikumpulkan Asria, seekor kambing jantan gemuk dibeli. Ritual pemotongan dilakukan sore itu di halaman rumah. Darah kambing mengalir ke tanah Usuku—iringan terakhir untuk Wa Ani.

Saat daging mulai direbus dalam kuali besar, Asmoni duduk di depan tungku. Matanya kosong menatap api. "Wa Ani selalu bilang, kalau dia mati, minta disembelihkan kambing," bisiknya pada La Joo. "Dia suka bagian paha. Katanya lembut. Tapi dia juga berpesan, 'Mon, jangan sedih. Kalau aku pergi, artinya aku sudah terlalu lama mencintaimu—dari kecil sampai tua—sampai Tuhan pun cemburu.'"

La Joo hanya memegang pundaknya. Ia ingin menuliskan semua ini nanti—tentang air mata seorang suami, tentang cinta yang tak sempat terbalas. Tapi untuk saat ini, pena tak berarti apa-apa.

Malam tiba. Seluruh tetangga dan kawan-kawan lama menyantap gulai kambing. Asria ikut makan, tapi matanya tak lepas dari Asmoni yang duduk sendiri di sudut. Asmoni tak menyentuh sepiring pun. Ia hanya menatap kursi kosong di sebelahnya—tempat Wa Ani biasa duduk bercerita tentang masa-masa sekolah, tentang La Joo yang ternyata pandai menulis, tentang Asria yang paling cepat bergerak membantu teman yang kesusahan.

Lalu Asria berdiri. Dengan suara yang pecah, ia melantunkan pantun kedua:

"Pisang emas dibawa berlayar,

Masak sebiji di atas peti.

Hidup cuma sekadar berlayar,

Yang tinggal hanya rasa di hati."

Seisi ruangan terdiam. Beberapa perempuan mulai menyeka air mata. Seorang tetua menarik napas panjang. La Joo mencatat semua ini dalam ingatannya—untuk suatu hari nanti ditulis dalam bukunya yang baru, tentang duka yang tak pernah selesai.

Daging kambing itu habis dalam dua jam. Tapi duka Asmoni tak habis-habisnya. Bukan kematian Wa Ani yang paling menyayat hati—melainkan bahwa kambing yang tak sempat ia nikmati bersama adik letting, Istri Asmoni yang sangat mencintainya itu mengingatkannya pada satu fakta pahit: Wa Ani telah pergi sebelum ia sempat membalas semua kasih sayang yang selama tiga puluh dua tahun ia terima setiap hari, sejak mereka masih kanak-kanak bermain di halaman kampung Usuku.

Di tengah keramaian makan malam itu, Asmoni menangis dalam diam. La Joo menggenggam tangannya erat—tangan yang sama yang dulu memegang pena menulis adat pemakaman, kini memegang tangan sahabat yang sedang terkubur duka. Asria dari seberang ruangan berdoa dalam hati, "Wa Ani, kau beruntung. Tidak semua orang bisa mencintai dan dicintai seutuh itu—apalagi oleh suami yang juga laksana saudara sedari kecil."

Sebab di Usuku, kambing korban bisa dibeli dengan uang sumbangan—yang dikumpulkan sahabat setegar Asria. Tapi hati yang patah karena ditinggal sebaik Wa Ani, adik letting yang menjadi belahan jiwa? Tak ada sumbangan sebesar apa pun yang bisa menyembuhkannya.

Hanya doa yang tersisa.

Dan daging kambing yang dingin di piring.

Serta kursi kosong yang tak akan pernah terisi lagi.

Bahkan La Joo, yang telah menulis puluhan halaman tentang adat kedukaan, tak pernah menemukan satu kata pun yang cukup untuk menggambarkan hampa di mata Asmoni malam itu.