Kendari, 28 Agustus 2025 – Dr. La Ode Fendi, M.Pd, dalam pertemuan singkat di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kendari, mengungkapkan rencana ambisius untuk mengintegrasikan pengembangan pariwisata Kabupaten Wakatobi melalui pendidikan berbasis muatan lokal. Inisiatif ini merupakan bagian dari tugas yang diberikan oleh Dinas Pariwisata untuk memajukan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Dalam upaya mewujudkan visi ini, Dr. La Ode Fendi mengundang para aktivis Wakatobi untuk berdialog dan melakukan asesmen pariwisata. Tujuannya adalah merancang materi muatan lokal untuk siswa SMA/SMK di Wakatobi. Materi ini diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan menciptakan produk pariwisata berbasis sumber daya lokal yang memiliki nilai ekonomis dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Produk Pariwisata Berbasis Lokal
Materi muatan lokal yang akan dikembangkan mencakup berbagai aktivitas dan produk khas Wakatobi, seperti:
Diving: Memperkenalkan siswa pada potensi wisata bawah laut yang menjadi daya tarik utama Wakatobi.
Souvenir Kreatif: Pembuatan gantungan kunci dan tempat asbak rokok dari kerang-kerang laut, memanfaatkan kekayaan alam setempat.
Atraksi Budaya: Pengenalan prosesi adat perkawinan seperti Tambukela dan Sirau di Pulau Tomia, untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menarik wisatawan.
Teknik Tradisional: Pelestarian teknik penangkapan ikan tradisional, seperti di Pulau Kapota, Wangi-Wangi, dengan membuat pagar betis muda-mudi untuk menangkap ikan di tepi pantai. Di Pulau Tomia, teknik Kevu—mengaduk pasir hingga keruh untuk menangkap ikan dengan tangan—juga akan diajarkan.
Dampak untuk Wakatobi
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kekayaan budaya dan alam Wakatobi, tetapi juga diajarkan untuk menciptakan produk yang mendukung perekonomian lokal. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap potensi pariwisata sekaligus memperkuat identitas budaya Wakatobi.
Dr. La Ode Fendi menegaskan bahwa kolaborasi dengan aktivis dan pemangku kepentingan lokal akan menjadi kunci keberhasilan program ini. "Kami ingin siswa tidak hanya menjadi penutur budaya, tetapi juga pelaku ekonomi kreatif yang mampu memasarkan Wakatobi ke dunia," ujarnya.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan Wakatobi sebagai destinasi pariwisata yang berkelanjutan, berbasis pendidikan, dan berakar pada kearifan lokal.