
Bayangkan pagi yang masih sejuk di Tomia. Uap tipis mengepul dari bakul kasoami yang baru diangkat dari kukusan. Di sebelahnya, semangkuk ikan parende — mungkin korapu merak dengan bintik birunya yang cantik, kakap putih bersih, atau boronang yang gurih — baru saja matang dengan kuah bening yang menggoda. Inilah sarapan yang tak lekang oleh waktu, warisan leluhur orang Buton dan Muna yang hingga kini tetap setia menemani hari-hari orang Tomia.
Kasoami: Keajaiban dari Ubi Kayu
Kasoami bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita tentang kesabaran dan ketelitian. Ubi kayu yang telah disangrai hingga hancur, lalu dikukus sampai matang, menghasilkan hidangan yang sederhana namun mengenyangkan.
Yang menarik, ada dua "wajah" kasoami:
Kasoami Hitam — dibuat dari ubi kayu yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Proses ini memberi warna dan tekstur khas, dengan rasa yang lebih dalam dan legit.
Kasoami Putih — dibuat dari ubi kayu segar yang baru dipetik dari kebun. Disangrai, diperas airnya hingga kering, lalu dikukus. Hasilnya lebih lembut dengan aroma ubi yang masih segar.
Ikan Parende: Kuah Hangat yang Menyempurnakan
Tidak lengkap rasanya kasoami tanpa ikan parende. Parende adalah hidangan ikan berkuah khas Tomia — ikan segar yang dimasak dengan bumbu sederhana, menghasilkan kuah bening yang segar, gurih, dan sedikit asam. Tiga ikan yang paling cocok:
· Korapu Merak (korapu bintik biru) — ikan dengan penampilan menawan dan daging yang lembut
· Ikan Kakap — klasik, gurih, dan selalu memuaskan
· Boronang — mungkin terdengar asing di luar Tomia, tapi inilah kelezatan lokal yang tak tergantikan
Yang membuat kombinasi ini istimewa adalah momennya: kasoami yang sudah dingin di pagi hari, disantap bersama ikan parende yang masih hangat berkuah. Dinginnya kasoami berpadu dengan hangatnya kuah parende — kontras yang justru menciptakan harmoni rasa. Kasoami yang sedikit keras dan kenyal, dicelupkan ke kuah parende yang bening, seakan melebur menjadi satu suapan yang sempurna.
Filosofi di Balik Sepiring Sarapan
Bagi orang Tomia, kasoami dan ikan parende bukan hanya soal mengisi perut. Ini adalah cara menghormati alam yang telah memberi ubi kayu dan ikan, menghormati leluhur yang mewariskan resep, dan menghormati diri sendiri dengan sarapan yang jujur dan bergizi.
Di tengah gempuran makanan modern, kasoami dan ikan parende tetap bertahan. Bukan karena kemewahannya, tapi karena keasliannya. Karena setiap suapan membawa pulang kenangan — pada pagi-pagi di Tomia, di mana laut dan kebun berbicara dalam satu bahasa: rasa kenikmatan dalam satu rumah.