Di tengah hamparan biru Laut Banda yang memeluk gugusan pulau Wakatobi, tersimpan sebuah warisan rasa yang tak pernah usang oleh waktu: Kasoami dan Parende. Dua sajian ini bukan sekadar makanan. Mereka adalah bahasa tubuh leluhur Tomia yang masih berbicara hingga hari ini—bahasa tentang ketahanan, kecerdasan adaptasi, dan keharmonisan antara manusia dengan alam.
Kasoami lahir dari proses panjang dan penuh kehati-hatian. Umbi ubi kayu (Manihot esculenta) yang dipanen dari kebun-kebun kering pulau diekstrak, disangrai hingga menjadi serbuk halus, lalu dikukus di atas anyaman daun kelapa di dalam Periuk —belanga tanah khas Buton yang telah diwariskan lintas generasi. Hasilnya adalah tumpeng putih keabuan yang tampil sederhana di atas nyiru, namun menyimpan kompleksitas kimia yang tak boleh diabaikan. Ubi kayu mengandung glikosida sianogenik dalam konsentrasi rendah. Senyawa ini, bila tidak dikelola dengan tepat, dapat melepaskan hidrogen sianida. Itulah sebabnya proses sangrai dan pengukusan menjadi kritis: panas dan oksigen bekerja bersama untuk mengurangi residu beracun hingga tingkat yang aman dikonsumsi.
Sementara itu, Parende hadir sebagai penyeimbang sempurna. Ikan segar dimasak dengan asam, garam, daun serei, dan kunyit—bumbu-bumbu yang tidak hanya menekan bau amis, tetapi juga menciptakan lapisan aroma yang kompleks. Saat disajikan, perasan jeruk nipis yang ditambahkan di atasnya membebaskan minyak esensial limonene dan asam sitrat, yang sekaligus memperkuat keharuman dan merangsang produksi air liur. Parende bukan sekadar lauk. Ia adalah medium biologis yang membawa yodium alami dari laut ke dalam tubuh.
Di sinilah keajaiban kombinasi itu terjadi. Masyarakat Tomia sejak lama memahami—meski tanpa istilah ilmiah modern—bahwa kuah Parende dan Kasoami saling menetralkan. Residu sianida dalam konsentrasi rendah pada Kasoami bertemu dengan yodium yang terkandung dalam kuah ikan. Reaksi ini, dalam pemahaman lokal yang diwariskan turun-temurun, menciptakan keseimbangan yang membuat sajian tersebut tidak hanya lezat, tetapi juga “aman secara alamiah.” Kombinasi ini menjadi metafora sempurna tentang kehidupan di kepulauan: dua elemen yang tampak berbeda, ketika disatukan dengan tepat, menghasilkan sesuatu yang lebih unggul daripada masing-masingnya.
Makan Kasoami dengan lauk lain dianggap kurang afdol oleh penikmat sejati. Bukan karena dogma, melainkan karena pengalaman indrawi dan pemahaman turun-temurun bahwa hanya Parende yang mampu menyempurnakan profil rasa sekaligus menjaga keselarasan kimiawi sajian. Di wilayah Buton dan Muna, pasangan Kasoami-Parende telah lama menempati posisi yang mirip dengan gado-gado di Jawa—sajian lokal yang merdeka dari batasan geografis, dikenal hingga jauh di luar tanah asalnya.
Pada 5–8 Oktober 2026, ketika Alumni SMPN 1 Tomia angkatan 1982 dan 1979 berkumpul kembali, Kasoami dan Parende tidak hanya akan mengisi piring. Mereka akan menjadi saksi bisu tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di tengah laut mampu menjaga warisan rasa yang ilmiah sekaligus puitis, sederhana namun penuh kecerdasan, lokal namun mampu berbicara kepada siapa saja yang pernah merasakan harmoni antara bumi dan laut.
Dalam setiap suapan Kasoami yang dilumuri kuah Parende, tersimpan cerita tentang ketahanan, pengetahuan, dan cinta terhadap tanah yang melahirkan kita.