Angin laut bertiup perlahan, Membawa kabar dari negeri seberang; Sahabat lama kini berjumpa kembali, Di tanah Usuku kita bersimpuh sayang.
Sepotong Rindu yang Berlayar
Di atas kapal yang membelah tenangnya Laut Banda, Rusdin Haludin duduk termenung sambil menatap layar ponselnya. Sebuah video baru saja masuk—dikirim oleh sahabatnya, Abd Halik, dari posko reuni di Pulau Tomia.
Tampak dalam video itu, ibu-ibu cantik yang tak lain adalah teman-teman seangkatan SMP Usuku 1982, tengah sibuk menyiapkan hidangan siang. Tawa riang mereka pecah, bercampur aroma masakan yang menggoda. Di kolom komentar, Pak Halik menulis dengan penuh semangat: "Masya Allah, sahabat-sahabatku yang baik hati, senang sekali lihatnya! Tetap semangat semua!"
Rusdin tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
Ombak kecil menari pelan, Menghantar perahu ke Pulau Tomia; Hati ini terasa ringan, Karena sahabat lama menyambut gembira.
Burung Camar pun Menyambut
Hari itu, 21 Rabiulakhir 1448 H, langit begitu biru. Matahari belum terlalu tinggi—baru pukul sepuluh pagi—namun hangatnya sudah menyapa lembut. Di atas lautan yang tenang, burung-burung camar terbang rendah, seolah melambai menyambut rombongan yang sedang menuju Pulau Tomia.
"Lihat itu," bisik Rusdin kepada teman sebangku di kapal, "burung camar pun tahu kita sedang menuju reuni. Seperti mereka ikut bahagia."
Rombongan Rusdin bukan satu-satunya. Masih ada teman-teman lain yang baru tiba di Kota Baubau. Hari ini juga mereka akan berangkat menuju Pulau Tomia—tempat reuni akbar yang akan dikenang sepanjang masa.
Udara laut sejuk berhembus, Membelai wajah para pelaut; Hawa laut Banda tenang dan bagus, Membawa damai di hati yang kalut.
Generasi yang Beruntung
Usia mereka kini 60 hingga 61 tahun. Rambut mulai memutih, namun semangat tak pernah pudar. Mereka adalah generasi yang beruntung—masih diberi kesempatan untuk berkumpul kembali, mengulang kenangan masa muda di kampung halaman tercinta.
"Kita ini luar biasa," ujar Rusdin dalam hati. "Setelah puluhan tahun berpisah, kita masih bisa bersatu. Masih bisa menikmati reuni di kampung sendiri."
Di posko, Abd Halik terus mengabarkan suasana. Ia memotret ibu-ibu yang cantik-cantik—teman-teman lama yang dulu duduk di bangku SMP Usuku—kini sibuk memasak bersama. Sajian makan siang itu bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kebersamaan yang telah lama dirindukan.
Riuh cerita kegembiraan pun bertautan sejak beberapa hari belakangan. Ada yang bercerita tentang anak dan cucu, ada yang mengenang kenakalan masa remaja, ada pula yang hanya tersenyum mendengar suara-suara yang dulu akrab di telinga.
Air laut tenang memantulkan cahaya, Burung camar menari di angkasa; Reuni ini bagai obat segala luka, Menghapus rindu yang lama terasa.
Menuju Tomia, Menuju Kenangan
Kapal terus melaju. Pulau Tomia semakin dekat. Di kejauhan, tampak garis pantai yang mulai terlihat jelas. Rusdin berdiri di dek, menghirup udara laut dalam-dalam.
"Sahabat-sahabatku," bisiknya, "tunggu aku. Kita akan tertawa bersama lagi, seperti dulu."
Di Kota Baubau, rombongan terakhir bersiap. Mereka membawa oleh-oleh, cerita, dan rindu yang tak terhingga. Hari ini, semua akan berkumpul. Reuni alumni SMP Usuku angkatan 1982—sebuah momen bersejarah yang akan dikenang kelak oleh anak cucu.
Laut Banda tenang bersahabat, Menyambut kami dengan senyuman; Mari bergabung, jangan terlambat, Reuni ini penuh kenangan.
Jika engkau membaca kisah ini, dan engkau adalah bagian dari keluarga besar SMP Usuku 1982—maka dengarkanlah panggilan rindu ini.
Tidak ada yang lebih indah daripada berkumpul kembali dengan mereka yang pernah mengisi hari-harimu. Mereka yang tahu tawamu sebelum kau tertawa, yang tahu ceritamu sebelum kau bercerita.
Udara Tomia masih sama, Hawa lautnya ramah menyapa; Ayo sahabat, jangan ragu lama, Kita reuni, bersatu kembali semua.
Pulau Tomia menanti. Sahabat-sahabatmu menanti. Rindu ini terlalu indah untuk dilewatkan.
Salam hangat dari atas kapal,
Rusdin Haludin & seluruh keluarga besar Alumni SMP Usuku 1982 🌊💙