Reuni Angkatan 1979 & Alumni 1982 SMP Usuku

Sore itu, teras restoran Hotel Wisata Wanci bersinar keemasan. Matahari mulai merunduk di ufuk barat, memantulkan cahaya jingga di permukaan laut yang tenang. Hajra—yang akrab disapa Wa Haji sejak zaman SMP—sibuk mengatur meja. Tangannya cekatan menyusun cangkir-cangkir kopi susu, sementara para pelayan restoran berlarian mengikuti perintahnya.

"Cepat sedikit, pisang gorengnya jangan sampai dingin!" perintah Wa Haji kepada pelayan yang membawa sepiring pisang goreng hangat. "Kopi susunya juga, jangan terlalu manis. Rusdin itu tidak suka manis berlebihan!"

Pelayan restoran sibuk menyiapkan apa yang diperintahkan Hajra. Meja bundar di sudut teras telah ditata indah—taplak putih bersih, vas kecil berisi bunga plumeria, dan lampu meja yang memancarkan cahaya lembut. Di sekeliling meja, kursi-kursi rotan telah tersusun rapi.

Wa Haji mengangguk puas. Ia memang terlahir sebagai pemimpin—sejak SMP dulu, dialah yang selalu mengatur segalanya. Dulu mengatur kelompok belajar, sekarang mengatur reuni. Tak ada yang berubah, kecuali usia yang telah merambah senja.

Satu per satu tamu datang. Rusdin, mantan pejabat tinggi BKI, tiba dengan kemeja lengan pendek. Abdul Halik, pegawai bank ternama di Kendari, menyusul dengan senyum khasnya. Salma Kasim datang anggun dengan selendang sutra biru laut. Tiga peserta lainnya—yang sudah lama tak bertemu—turut hadir: Has yang kini berprofesi sebagai guru, Karim yang menjadi petani sukses, dan Mur yang membuka usaha kue tradisional di Baubau.

Mereka duduk melingkar di meja restoran yang indah itu. Kopi susu mengepul, pisang goreng tersaji hangat, dan senyum pun mengembang.

"Tanggal 3 sampai 8 Oktober ini, kita harus sukseskan reuni angkatan 1979 dan alumni 1982 SMP Usuku," ujar Wa Haji membuka pembicaraan. "Sudah lebih empat puluh tahun kita tidak berkumpul!"

Rusdin menyeruput kopinya. "Saya sudah hubungi beberapa teman. Ada yang sudah jadi kakek, ada yang masih jomblo, ada juga yang katanya sibuk mengurus kebun."

Abdul Halik tertawa kecil. "Yang penting jangan lupa bawa foto lama. Biar kita lihat siapa yang dulu paling ganteng!" Ia melirik ke arah Salma dan Wa Haji. "Tapi sepertinya bukan kami yang paling dicari, ya. Kalian berdua ini dulu bintang kelas. Banyak yang berebut mendekati!"

Salma Kasim tersenyum tipis, pipinya sedikit memerah meski usia tak lagi muda. "Ah, itu cerita lama, Halik. Kami juga tidak tahu siapa yang paling serius, semua hanya cinta monyet."

Wa Haji menambahkan sambil tertawa, "Betul! Kalian dulu seperti ayam jago memperebutkan jagung. Ada yang kirim surat, ada yang traktir es lilin, ada juga yang pura-pura pinjam buku catatan padahal tidak pernah mencatat!"

Has ikut menyambar, "Yang paling lucu itu, ada yang sengaja menjatuhkan pensil di dekat meja kami, lalu merangkak mengambilnya sambil tersenyum. Padahal pensilnya masih di tangan!"

Tawa pecah di teras restoran. Pelayan yang sedang menuang kopi hampir menumpahkan isinya karena menahan tawa.

Pak Boa, yang sedari tadi mendengarkan sambil sesekali mengangguk, menunjuk langit yang mulai gelap. Bulan sabit tipis menggantung, ditemani bintang-bintang yang mulai bermunculan.

"Malam ini 19 Rabiul Akhir 1448 Hijriah," ujar Pak Boa. "Waktu yang tepat untuk mengenang masa lalu, sekaligus bersyukur masih diberi umur panjang."

Pisang goreng hotel wisata itu memang lezat—renyah di luar, lembut di dalam. Tapi bagi mereka, pisang goreng ini mengingatkan pada pisang goreng Wahida di Tomia, yang dulu selalu jadi rebutan anak-anak SMP Usuku.

Abdul Halik menyambar pantun:

Pisang goreng di hotel Wanci, Kopi susu menemani senja. Salma dan Wa Haji bintang kelas sejati, Banyak yang naksir tapi tak berjodoh juga!

Tawa kembali memenuhi teras. Salma dan Wa Haji ikut tertawa, mengenang masa-masa ketika mereka menjadi pusat perhatian tanpa harus berusaha.

Karim, yang sedari tadi hanya tersenyum, angkat bicara. "Saya dulu termasuk yang naksir Salma. Tapi tidak berani mengungkapkan. Cuma bisa melihat dari jauh sambil pura-pura belajar."

Mur menambahkan, "Dan saya dulu naksir Karim! Tapi dia tidak pernah lihat ke arah saya. Matanya selalu ke Salma!"

Kini tawa mereka semakin lepas. Ternyata cinta monyet tak hanya menjangkiti para lelaki. Para perempuan pun menyimpan kisahnya sendiri.

Obrolan mengalir deras. Cerita demi cerita bermunculan—tentang upacara bendera yang selalu jadi ajang melirik, tentang jam istirahat yang dipakai untuk pura-pura lewat di depan kelas yang diincar, tentang surat-surat cinta yang ditulis di kertas sobek dan diselipkan di buku catatan.

Rusdin tertawa mengenang masa bodohnya. "Saya dulu pinjam buku 'Cara Menulis Surat Cinta' dari Jabarudin. Saya menyalin isinya sampai tiga surat, lalu saya kirimkan kepada tiga wanita yang saya naksir!"

"Dan?" tanya Has penasaran.

"Tak satu pun dibalas! Ha ha ha!" Rusdin tertawa sampai matanya berair. "Mungkin surat saya dikira tugas bahasa Indonesia!"

Pak Boa ikut tertawa. "Sama! Saya pernah menulis surat cinta buat adik kelas. Tidak dibalas juga! Barangkali tukang antar suratnya tidak dikasihkan, atau suratnya dimakan ayam!"

Abdul Halik menambahkan cerita. "Setelah saya jadi pegawai bank ternama di Kendari, pakaian saya selalu neces dan berkualitas. Suatu hari saya bertemu kawan kelas yang dulu saya naksir. Dia langsung berkata, 'Saya kira kamu Abdul Halik sudah meninggal! Kenapa tidak pernah hubungi saya?'"

Rusdin terkekeh. "Lalu?"

"Maklum, saat itu belum ada SMS seperti sekarang. Bagaimana mau muncul menampakkan diri di depannya? Saya dulu dianggap tidak rapi dan tidak mentereng!" Abdul Halik tertawa getir, tapi lucu.

Salma Kasim menimpali, "Kalau saya ingat, dulu itu banyak yang mengaku rapi, tapi sebenarnya tidak. Ada yang sisir rambutnya saja pinjam, ada yang sepatunya pinjam. Tapi semangatnya luar biasa!"

Wa Haji menambahkan, "Dan yang paling rajin mengantar surat itu, sekarang malah tidak datang reunian. Mungkin masih malu karena suratnya tidak pernah dibalas!"

Pak Boa menambahkan pantun:

Menulis surat pakai tinta biru, Dikasih nama tapi salah alamat. Cinta monyet memang begitu, Ditunggu balasan tapi tak datang, tobat!

Matahari telah tenggelam sepenuhnya. Langit Wanci kini gelap, dihiasi bulan sabit dan bintang-bintang. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan kenangan.

Rusdin menatap meja yang mulai kosong—pisang goreng tinggal remah, kopi susu tinggal ampas. Ia lalu berdiri, menepuk meja pelan.

"Diskusi kita lanjutkan di rumah Pak Boa," perintahnya. "Biar lebih akrab. Saya minta tolong belikan kasoami, ikan bakar, sayur bening, dan ketupat. Kita makan malam bersama di sana!"

"Saya yang atur pembeliannya. kamu temani saya ke pasar malam, bantu memilih ikan yang segar." pinta Pak Rusdin

Pak Boa "Bagus! Saya kirim armada mobil menjemput kalian semua. Jangan ada yang berjalan kaki. Malam ini kita bersenang-senang!"

Tak lama, mobil datang ke halaman hotel. Semua peserta diskusi berpindah ke mobil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Pak Boa, tawa masih terdengar dari dalam mobil. Cerita-cerita lucu terus mengalir.

Sesampainya di rumah Pak Boa, meja makan telah tertata panjang. Ketupat yang dibungkus rapi, sayur bening ala kampung dengan daun kelor dan jagung muda, kasoami—makanan khas Wakatobi dari singkong yang difermentasi—serta ikan bakar yang masih mengepul, aromanya menggoda.

"Masya Allah, ini baru makanan kampung yang bikin kangen!" seru Rusdin.

Abdul Halik sudah tidak sabar. "Dulu waktu SMP, kita makan apa saja lahap. Sekarang, makan enak pun harus hati-hati kolesterol!"

Pak Boa tertawa. "Makanya, sebelum makan, kita baca doa dulu. Biar berkah dan sehat!"

Mereka pun makan bersama, sesekali menyendok sayur bening, menggigit ikan bakar, dan menikmati kasoami yang legit. Suasana hangat, penuh tawa, seperti masa muda yang tak pernah benar-benar pergi.

Di sela makan, Rusdin teringat sesuatu. "Kalian masih ingat, dulu kita sering ke warung Wahida beli pisang goreng?"

Pak Boa mengangguk. "Tentu! Ada teman kita, lupa saya namanya—posturnya kecil dan lincah. Kalau saya masuk warung, dia ikut di belakang saya. Begitu saya ambil pisang goreng, dia langsung kabur! Entahlah apa dia bayar atau tidak!"

Abdul Halik tertawa sampai tersedak. "Itu mungkin si Anu! Larinya seperti kancil dikejar pemburu!"

Wa Haji menambahkan, "Dan kalau kalian lihat kami di kelas, kalian semua seperti kehilangan akal. Ada yang sengaja menjatuhkan buku di dekat meja kami, ada yang pura-pura bertanya soal padahal sudah tahu jawabannya!"

Salma Kasim tertawa kecil. "Yang paling lucu itu yang menulis surat cinta tapi salah alamat. Surat untuk saya, tapi dikasih ke Wa Haji. Surat untuk Wa Haji, tapi dikasih ke saya!"

Rusdin menambahkan pantun: Ketupat diiris empat persegi, Kasoami dimakan bersama. Salma dan Wa Haji jadi rebutan sejati, Sampai sekarang jadi bahan tawa!

Selesai makan, Pak Boa menyajikan kopi hitam yang cukup menggugah malam itu. Aroma kopi robusta khas Wakatobi memenuhi ruang makan tamu. Mereka duduk melingkar. Rusdin menunjuk satu foto. "Lihat ini! Ini foto kita waktu kelas dua SMP. Rambut masih lebat, badan masih kurus!"

Abdul Halik menyela, "Dan yang paling lucu, kita semua pernah kena cinta monyet!"

"Kalian ini," kata Pak Boa sambil menunjuk Salma dan Wa Haji, "dulu benar-benar bintang kelas. Siapa yang tidak kenal? Bahkan kawan dari sekolah lain pun tahu."

Salma Kasim tersenyum. "Tapi bintang kelas pun akhirnya menua juga."

Wa Haji menambahkan, "Dan bintang kelas pun akhirnya menikah dengan orang biasa, bukan dengan teman sekelas yang dulu berdebar-debar menulis surat!"

Tawa kembali pecah. Malam semakin larut, kopi hitam semakin habis, tapi obrolan tak kunjung usai.

Pak Boa berkata, "Kita sudah tua, tapi cerita cinta monyet kita tak pernah tua!"

Rusdin menambahkan, "Tanggal 3 sampai 8 Oktober nanti, kita kumpulkan semua teman angkatan 1979 dan alumni 1982. Kita makan ketupat, kasoami, ikan bakar, dan pisang goreng lagi!"

Abdul Halik menutup dengan pantun: Bulan sabit di langit Wanci, Bintang bertabur menemani malam. Reuni angkatan penuh nostalgia sejati, Tawa cinta monyet takkan pernah padam!

Salma Kasim dan Wa Haji tersenyum, mengenang masa ketika mereka menjadi bintang kelas, dikelilingi teman-teman yang berusaha menarik perhatian. Kini, semua sudah berubah—rambut mulai memutih, badan mulai sedikit membungkuk—tapi kenangan itu tetap indah.

Mereka pun tertawa bersama, membelah kesunyian malam Wanci. Di bawah langit 19 Rabiul Akhir 1448 H, tujuh sahabat itu bersyukur—masih diberi kesempatan mengenang masa muda, dan masih bisa tertawa bersama.

Dan kopi hitam Pak Boa malam itu, sungguh menggugah—bukan hanya karena aromanya, tapi karena ditemani cerita-cerita yang tak pernah habis.

Semoga cerita ini menghibur, mengingatkan kita pada masa-masa indah, dan membuat kita tersenyum mengenang cinta monyet yang tak pernah terlupakan.