Pengorbanan diam-diam orang kecil di balik semangat swadaya membangun rumah ibadah — tentang bagaimana niat suci kadang dibangun di atas air mata dan pilihan sulit antara berdoa dan bertahan hidup.
Di Usuku, di sudut pulau Tomia yang sunyi, sebuah niat besar sedang ditabur.
Masjid Tua yang dulu megah telah digusur. Generasi muda memutuskan bahwa tempat ibadah harus lebih besar, lebih indah, lebih pantas bagi kebesaran Tuhan. Maka dimulailah pembangunan Masjid Raya Al-Hikmah Usuku. Bukan dengan anggaran pemerintah. Bukan dengan bantuan orang kaya dari luar. Tapi dengan swadaya murni masyarakat.
Setiap keluarga yang berdomisili di Usuku dan Patipelong dihimbau menyumbang dua puluh lima ribu rupiah untuk setiap hari jumat. Setiap minggu. Tidak ada yang dibayar. Tukang-tukang yang datang setiap hari bekerja tanpa upah. Mereka bangun sebelum subuh, mengangkat batu, merangkai besi, mengecor semen, hingga malam kadang masih terdengar suara palu. Masyarakat bergiliran memasak. Ada yang membawa nasi, ada yang membawa ikan asin, ada yang hanya membawa air panas dan sepiring sayur. Semua dilakukan dengan keyakinan yang sama: ini adalah amal, ini adalah tabur.
Namun di balik semangat yang tampak indah itu, ada pagi yang tidak pernah ditulis di berita mana pun.
Seorang ibu berdiri di depan pintu rumahnya yang kecil. Di tangannya hanya ada uang lima belas ribu rupiah. Sisa dari penjualan kelapa kemarin. Hari itu penagih swadaya datang, seperti biasanya. Ia meminta dua puluh lima ribu untuk pembangunan Masjid Al-Hikmah.
Ibu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka telapak tangannya pelan-pelan, memperlihatkan lima belas ribu yang sudah kusam. Suaranya hampir tak terdengar:
“Kalau saya menyumbang sekarang, saya akan mati. Tapi kalau saya tidak menyumbang, saya masih bisa hidup… karena saya masih bisa membeli beras untuk hari ini.”
Penagih itu terdiam. Ia bukan orang jahat. Ia hanya utusan. Ia hanya bilang, “Saya disuruh ketua kelompok. Kalau Ibu tidak bayar, saya yang dianggap gagal. Terserah Ibu mau bayar berapa saja.”
Dengan tangan yang gemetar, ibu itu menyerahkan lima ribu. Sisanya ia genggam erat-erat. Lima ribu itu akan menjadi seperempat kilogram beras. Cukup untuk hari ini. Mungkin cukup untuk dua hari jika dimasak dengan sangat hati-hati.
Ia tidak menangis di depan penagih. Ia menunggu sampai langkah kaki itu menjauh, baru kemudian duduk di lantai kayu yang sudah aus. Ia menatap uang yang tersisa di telapak tangannya, lalu menatap arah masjid yang sedang dibangun di kejauhan.
Di lokasi pembangunan, para tukang terus bekerja. Ada yang memotong besi, ada yang mengaduk semen, ada yang menaikkan bata satu per satu. Mereka tidak dibayar. Mereka hanya diberi makan. Kadang pagi, kadang sore, kadang malam jika pekerjaan masih panjang. Mereka percaya bahwa setiap tetes keringat adalah benih. Setiap batu yang diletakkan adalah doa.
Tapi di rumah kecil itu, ibu itu sedang menabur benih yang lain: bertahan hidup.
Ia memasak beras lima ribu rupiahnya dengan sangat pelan. Ia mengaduk hati-hati agar nasi tidak terlalu lengket, agar bisa dibagi untuk anak-anaknya. Ia tidak membenci masjid. Ia tidak membenci Tuhan. Ia hanya tahu, di tengah semangat membangun rumah Allah yang megah, ada orang-orang yang harus memilih antara menyumbang dan makan hari ini.
Masjid Al-Hikmah terus naik. Tiangnya semakin tinggi. Kubahnya mulai terlihat dari jauh. Orang-orang berkata, “Ini akan menjadi masjid termegah di Tomia.”
Tapi di balik setiap batu yang dipasang, ada cerita yang tidak terlihat.
Ada ibu yang menyerahkan lima ribu dengan air mata yang ditahan.
Ada tukang yang bekerja tanpa upah, hanya dengan sepiring nasi dari tetangga.
Ada anak-anak yang melihat ibu mereka diam-diam menahan lapar demi sebuah bangunan yang belum selesai.
Itulah tabur yang sedang terjadi di Usuku.
Bukan hanya semen dan pasir yang ditabur. Bukan hanya niat baik yang ditabur. Tapi juga air mata, pengorbanan, dan luka yang diam-diam disimpan.
Dan suatu hari, ketika Masjid Al-Hikmah sudah berdiri megah, ketika azan pertama berkumandang dari menara barunya, mungkin ada yang akan bertanya:
Apa yang sebenarnya kita tuai dari semua ini?
Apakah hanya keindahan bangunan?
Atau juga jejak-jejak pengorbanan orang-orang kecil yang turut menabur, meski hanya dengan lima ribu rupiah dan sepiring nasi yang hampir tidak cukup?
Karena di Usuku, setiap batu yang diletakkan di Masjid Al-Hikmah bukan sekadar batu.
Ia adalah saksi.