1000519881

Perpisahan yang indah dan menyakitkan sekaligus — tentang bagaimana kebersamaan singkat di reuni alumni 1982 SMPN 1 Tomia justru meninggalkan luka kerinduan yang dalam, namun juga menghidupkan kembali cinta dan ikatan yang sempat tertidur puluhan tahun.

Di pelabuhan Waiti’i, angin laut berhembus pelan seolah ikut menahan perpisahan. Kapal Fungka sudah siap berangkat. Di atas geladaknya berdiri lima sosok yang baru saja meninggalkan hangatnya pelukan kampung: Hj. Dartini, Hj. Hasna, Wd. Rusmi yang akrab disapa Ibu Dewan, H. Aladin, dan Sahirsan. Mereka mengibarkan tangan pelan-pelan, mata masih basah menatap daratan yang semakin menjauh. Di pelabuhan Onemay, Abdul Halik dan Siti Hajra sudah duduk di atas kapal wisata yang akan membawa mereka ke Baubau pagi ini, tiba di hari yang sama, membawa pulang kenangan yang terlalu berat untuk diucapkan.

Di sudut posko yang masih berantakan di rumah La Joo, Usuku, Asria menatap layar ponselnya. Tangannya gemetar saat mengetik pesan di grup WA Alumni 1982 SMPN 1 Tomia:

“Pak Dafid… selamat jalan. Semoga tiba dengan selamat di Ternate. Maaf aku tak sempat mengantar saat engkau berangkat. Pak Sahirsan… maaf juga. Aku benar-benar menyesal tidak bisa mengantar. Semoga kita bisa bersua lagi di reuni berikutnya.”

Pesan itu terkirim, tapi air matanya sudah lebih dulu jatuh.

Hari keempat reuni telah usai. Acara yang digelar sejak tanggal 3 hingga 8 Oktober 2026 di posko sederhana itu kini hanya menyisakan jejak tawa yang masih menggantung di dinding rumah La Joo. Kursi-kursi kosong, piring-piring yang belum sempat dibersihkan, dan foto-foto lama yang masih tersebar di meja. Peserta dari luar daerah Tomia satu per satu meninggalkan kampung. Ada yang sudah di atas kapal, ada yang masih menunggu di dermaga dengan tas yang terasa jauh lebih berat dari isi sebenarnya.

Mereka datang membawa cerita masa kecil, membawa tawa yang sempat hilang, membawa pelukan yang sudah puluhan tahun tak terasa. Dan kini mereka pergi membawa sesuatu yang lebih berat: kerinduan yang baru saja dibangunkan lagi.

Di dermaga, suara mesin kapal mulai menggeram. Seseorang melambaikan tangan dari jauh. Seseorang lagi hanya menunduk, takut air matanya terlihat. Angin laut seolah berbisik, “Sampai jumpa lagi… meski tak ada yang tahu kapan.”

Kampung Usuku kini sunyi. Rumah La Joo kembali menjadi rumah biasa. Tapi di hati setiap orang yang baru saja pergi, ada ruang kecil yang tetap terbuka—ruang yang hanya bisa diisi oleh nama-nama yang sama: Dartini, Hasna, Rusmi, Aladin, Sahirsan, Abdul Halik, Siti Hajra, Dafid, Asria… dan semua yang pernah duduk bersama di bangku SMPN 1 Tomia tahun 1982.

Selamat tinggal, kawan-kawan di kampung.

Semoga laut yang membawa kalian pergi, suatu hari nanti juga membawa kalian pulang lagi.