
Di perairan selatan Pulau Tomia, enam pos penjagaan Wakatobi Dive Resort berdiri seperti penjaga senyap. Hampir dua ratus orang bergiliran bekerja menjaga terumbu karang lima belas hari kerja sebulan. Mereka bukan sekadar karyawan; mereka menjadi mata dan tangan yang menolak molestasi terhadap ekosistem yang telah memberi hidup kepada pulau ini. WDR, yang sudah lama mendatangkan wisatawan mancanegara untuk menikmati keindahan bawah laut Tomia, juga menyalurkan dukungan finansial sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada desa dan kelurahan. Ini adalah taburan yang tampak sederhana: menjaga karang berarti menjaga sumber kehidupan, sumber wisata, dan sumber pendapatan masyarakat.

Namun di darat, di Usuku, taburan lain sedang berlangsung. Masjid Tua yang dulu megah dan termewah di Wakatobi telah digusur oleh generasi muda. Masyarakat menggalang dana untuk mendirikan Masjid Raya yang lebih besar. Niatnya suci: mengagungkan tempat ibadah. Namun setiap batu yang dipindahkan dari bangunan lama membawa pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Apakah pembongkaran itu dilakukan dengan penuh perhitungan terhadap sejarah, terhadap orang-orang yang pernah menanam benih spiritual di sana, atau sekadar semangat “baru” yang menganggap yang lama harus diganti?
Di sisi lain, di Kelurahan Tongano Timur, drama lain sedang berlangsung. TK Lakamali yang selama ini dikelola Yayasan Lakamali diduduki, dirusak, ditutup paksa, lalu diganti menjadi TK Negeri Pembina Tomia Timur. Kekuatan jaringan pemerintahan digunakan untuk mengambil alih ruang pendidikan anak-anak. Polsek Tomia Timur masih mempelajari apakah ada unsur pidana di dalamnya, ataukah ini sekadar “budaya” yang sudah lama berjalan. Anak-anak yang seharusnya menjadi penerima taburan ilmu malah menjadi saksi bagaimana kekuasaan bisa menyingkirkan yang lemah dengan dalih legalitas formal.
Di sinilah hukum tabur tuai bekerja, bukan sebagai takhayul, melainkan sebagai sistem sebab-akibat yang ilmiah dan sosial.
Ilmu ekologi mengajarkan bahwa terumbu karang adalah fondasi. Ketika karang dijaga, ikan berkembang, pantai terlindung dari erosi, dan wisata berkelanjutan. Ketika karang dirusak, seluruh rantai makanan dan ekonomi lokal ikut goyah. WDR menabur perlindungan; hasilnya adalah ekosistem yang masih mampu menopang kehidupan. Ini tabur yang berbuah nyata.
Agama, dalam bentuknya yang paling dalam, adalah taburan makna. Masjid bukan hanya bangunan. Ia adalah ruang di mana masyarakat belajar keadilan, kesabaran, dan tanggung jawab. Ketika generasi muda merubuhkan yang lama tanpa mempertimbangkan akar sejarah dan proses yang adil, mereka menabur semangat “mengganti” yang bisa berubah menjadi budaya meremehkan warisan. Pembangunan Masjid Raya yang megah bisa menjadi berkah, tetapi hanya jika fondasinya adalah penghormatan, bukan sekadar keinginan untuk lebih besar dan lebih mewah.
Keadilan hukum adalah jembatan di antara keduanya. Ketika lembaga pendidikan lokal diambil alih dengan cara yang kasar, ketika gedung dirusak dan ditutup paksa, yang ditabur adalah ketidakpercayaan. Anak-anak yang menyaksikan bagaimana kekuasaan bisa menyingkirkan yang lebih lemah akan belajar bahwa hukum bisa menjadi alat, bukan pelindung. Polsek yang sedang mempelajari kasus ini sedang berdiri di titik krusial: apakah mereka akan menabur kebenaran, atau membiarkan “budaya” yang merusak terus tumbuh?
Tabur tuai di Tomia bukan cerita tentang hukuman gaib. Ia adalah hukum sistemik. Menjaga karang menumbuhkan kesejahteraan. Merusak lembaga pendidikan lokal menumbuhkan luka sosial. Membangun masjid tanpa menghormati proses yang adil menumbuhkan keretakan spiritual. Semua saling terkait karena manusia, alam, dan institusi berada dalam satu jaring yang sama.
Bayangkan suatu pagi di Tomia. Seorang penjaga karang dari pos selatan pulang cuti. Ia melewati lokasi Masjid Raya yang sedang dibangun, lalu melihat anak-anak bermain di dekat bangunan TK yang masih menyimpan bekas konflik. Ia berhenti sejenak. Di dalam dirinya bertemu tiga hal: tanggung jawab terhadap laut yang ia jaga, rasa hormat terhadap tempat ibadah yang sedang dibangun, dan keprihatinan terhadap keadilan yang masih digantungkan.
Itulah titik di mana tabur tuai menjadi nyata. Setiap tindakan—baik menjaga karang, membangun masjid, maupun mengambil alih lembaga pendidikan—adalah benih. Yang tumbuh kemudian tidak selalu sesuai keinginan penabur. Kadang yang tumbuh adalah kepercayaan, kadang kecurigaan. Kadang keberlanjutan, kadang kerusakan yang tersembunyi di balik formalitas.
Tomia sedang menabur. Lautnya, masjidnya, dan lembaga pendidikannya sedang menjadi saksi. Yang akan dituai bukan hanya oleh generasi sekarang, tetapi oleh anak-anak yang hari ini masih kecil, dan oleh terumbu karang yang diam-diam mencatat setiap pilihan manusia.