Rindu dan doa tulus dari kejauhan — tentang bagaimana kasih sayang dan kebersamaan bisa tetap terasa kuat meski tubuh tak mampu hadir, serta betapa doa yang sederhana dari seorang kawan yang terpisah jarak justru menjadi yang paling menggetarkan hati.
Di sebuah grup WhatsApp, nama Bapak Dayat masih sering muncul. Ia yang dulu selalu mengirim pesan motivasi singkat dan canda ringan yang membuat hati lega. Tapi hari ini, pesan-pesannya berbeda. Ada getar rindu yang tak bisa disembunyikan.
Reuni akbar angkatan 1979–1982 SMPN 1 Tomia Usuku akhirnya digelar. Di kampung halaman, di rumah La Joo yang terletak tepat di pinggir jalan utama Kota Usuku. Rumah itu strategis, halaman luas, sound system sudah tersusun rapi. Setiap malam, joget budaya pesisir Wakatobi mengisi malam. Tawa, pelukan, dan cerita-cerita lama memenuhi udara.
Tapi tidak semua bisa datang.
Dari Pulau Buru yang jauh, La Pou mengirim pesan. Ia tidak menulis panjang. Hanya doa yang sederhana, tapi berat:
“Semoga kawan-kawan rantau yang datang ikut reuni kembali dengan selamat, tak kurang suatu apapun. Tiba di kota masing-masing dengan selamat, selalu sehat dan bahagia kembali dengan keluarga. Allah menyertai kalian. Saya rindu kalian.”
Pesan itu diam-diam membuat banyak orang terdiam.
Ada yang sedang duduk di depan layar, tiba-tiba mata basah. Ada yang sedang di perjalanan, harus menepi dulu karena air mata mengaburkan pandangan. Ada yang sudah tua, duduk di teras rumah di rantau, memegang ponsel dengan tangan yang gemetar.
La Pou tidak bisa datang. Jarak, usia, dan keadaan tidak mengizinkan. Tapi dari jauh, ia masih mengirim doa. Doa yang tidak meminta apa-apa untuk dirinya sendiri. Hanya meminta keselamatan bagi yang lain. Hanya mengatakan “saya rindu kalian.”
Dan di rumah La Joo yang ramai itu, ketika musik budaya pesisir mulai mengalun, pasti ada yang akan menatap ke arah laut, ke arah jauh, dan berbisik pelan:
“La Pou… kami juga rindu.”
Karena ada yang hadir tubuhnya, tapi hatinya masih menyimpan ruang kosong untuk yang tidak bisa datang.
Karena ada yang mengirim doa dari jauh, dan doa itu lebih berat daripada semua hadiah yang dibawa.
Reuni memang tentang bertemu kembali. Tapi terkadang, yang paling menggetarkan hati justru adalah mereka yang hanya bisa hadir lewat doa… dan rindu yang tak pernah padam.
Doa dari Pulau Buru (Ucapan Selamat Jalan)
Hari sudah berganti. Tanggal 9 Oktober 2026. Reuni akbar angkatan 1979–1982 SMPN 1 Tomia Usuku telah berakhir sejak dua hari yang lalu. Rumah La Joo yang semula ramai oleh tawa, pelukan, dan alunan joget budaya pesisir Wakatobi, kini mulai kembali sepi. Sound system yang dulu tersusun rapi sudah dibongkar. Halaman yang sempat penuh kaki-kaki yang menari, kini hanya menyisakan jejak langkah dan kenangan.
Sebagian kawan sudah meninggalkan Usuku Tomia. Sebagian lagi masih tertahan, belum pulang ke kota tempat tinggal masing-masing.
Dari kejauhan, di Pulau Buru, La Pou kembali mengetik. Bukan lagi doa untuk yang datang, melainkan doa untuk yang pulang.
Pesannya sederhana, tapi terasa dalam sekali:
“Selamat jalan, kawan-kawan…Semoga kalian tiba dengan selamat di kota asal. Berkumpul kembali dengan keluarga tanpa ada rasa kurang. Allah menyertai setiap langkah kalian. Saya rindu kalian… dan akan selalu merindukan.”
Di grup WhatsApp yang dulu sering diisi pesan motivasi dan canda ringan dari Bapak Dayat, pesan La Pou itu membuat banyak yang diam. Ada yang sedang duduk di pelabuhan, menunggu kapal, tiba-tiba menunduk. Ada yang sudah di dalam bus, memandang jendela yang gelap, air mata menggenang. Ada yang sudah tiba di rumah, tapi masih membuka pesan itu berulang-ulang, seolah takut doa itu hilang.
Reuni memang sudah usai. Tapi ada yang tak ikut berakhir: rindu. Karena ada yang hadir tubuhnya di Usuku, lalu harus kembali. Dan ada yang tak pernah datang, tapi terus mengirim doa dari jauh.
La Pou tidak meminta apa-apa. Ia hanya ingin kawan-kawannya tiba dengan selamat, sehat, utuh, dan segera memeluk keluarga masing-masing tanpa kekurangan sedikit pun.
Dan di malam yang sama, di berbagai kota yang berjauhan, banyak yang berbisik pelan ke layar ponsel:
“Kami juga rindu, La Pou…Doamu kami bawa pulang.”
Karena kadang, doa yang paling indah bukan yang diucapkan di tengah keramaian,
melainkan yang dikirim dari kejauhan… saat semua sudah mulai berpisah.