
Hari itu, 8 Oktober 2026, ponselku bergetar. Grup WA “Alumni SMPN 1 Tomia Angkatan 1982” menampilkan nama Hardi Gini. Biasanya grup itu hanya ramai foto acara joget, ucapan mantap, dan pantun lucu. Tapi malam itu, Hardi mengirim untaian yang membuat ruang grup mendadak hening:
“Terkenang wajahmu kembali Kasih yang kini telah pergi Sedih yang kini kurasa Semenjak kita berpisah.”
Di bawahnya ia menulis: Syair lagu Musailama Adam.
Aku membaca sekali. Dua kali. Tiga kali. Ada nama yang lama tidak kusebut, tapi tidak pernah benar-benar hilang: Nur. Teman sebangku kelas 2B, yang dulu suka menyembunyikan pensilku, yang tawanya seperti ombak kecil di Pantai Waha.
Reuni lalu di Tomia masih hangat dalam ingatan. Kita yang dulu anak-anak berambut tebal, kini datang dengan rambut memutih, kacamata, dan cerita masing-masing. Nur datang dari Makassar. Aku dari Jakarta. Di halaman sekolah, kita berfoto di bawah pohon kelapa yang masih berdiri meski keriput. Nur berkata, “Kau masih sama, tapi lebih tua.” Aku tertawa, “Kau masih sama, tapi lebih cantik.” Dia mencubit lenganku seperti tahun 1982.
Malam reuni, kita duduk berhadapan di acara makan malam. Ada lagu lama. Ada tawa. Ada mata yang bicara lebih banyak dari mulut. Ketika acara selesai, kita berjalan ke pelabuhan kecil. Angin dari laut membawa bau garam. Nur berkata, “Besok aku pulang.” Aku hanya mengangguk. Perpisahan selalu begitu: datang sebagai jadwal, pergi sebagai luka.
Pagi-pagi menanam keladi, Keladi tumbuh di tepi kali; Kalau memang masih rindu abadi, Mengapa tak kirim kabar sekali-kali?
Aku tersenyum pahit. Dulu, setelah reuni, kita sempat bertukar pesan. “Sudah sampai?” “Sudah.” “Jaga kesehatan.” “Kamu juga.” Lalu percakapan itu seperti perahu kehabisan bensin. Diam. Bukan karena benci, tapi karena hidup terlalu sibuk, dan kata rindu terlalu berat diucapkan oleh orang dewasa.
Hardi Gini mengetik lagi: “Yang masih ingat first love, angkat tangan.” Grup pun ramai. Aku memberanikan diri membalas:
Menanam pandan di tepi kolam, Kolam berisi ikan tenggiri; Jangan kau pandang aku dalam diam, Aku masih bisa tersipu sendiri.
Tidak lama, sebuah nama muncul. Nur. Dia mengetik pelan. “Masih ingat janji di bawah pohon?” Aku menatap layar. Jantung yang sudah lima puluh tahun lebih ini berdegup seperti anak SMP yang baru pertama kali jatuh cinta.
Aku jawab:
Ke Tomia membeli teri, Teri dibakar di tepi pantai; Jangan tanya aku masih sendiri, Aku masih menunggu meski rambut memutih di ujung pantai.
Nur membalas:
Anak ikan di dalam kolam, Kolam luas di tepi kali; Jangan kau tanya mengapa aku diam, Aku masih cinta, tapi malu sekali.
Grup alumni makin ramai. “Wah, ada yang mau reuni lanjutan nih!” “Jangan cuma pantun, undang nikah!” Aku tidak membalas. Nur juga tidak. Tapi aku tahu, di suatu tempat di Makassar, dia mungkin tersenyum membaca syair Musailama Adam yang dikirim Hardi Gini.
Malam makin larut. Aku membuka foto reuni. Ada foto kami berdua: aku dan Nur, berdiri di depan papan nama SMPN 1 Tomia. Senyum kami tua, tapi mata kami masih menyimpan masa muda. Di bawah foto itu, Hardi Gini menulis: “Terkenang wajahmu kembali, kasih yang kini telah pergi.” Ah, Hardi, kau tidak tahu apa yang kau buka malam ini.
Aku menatap langit Wakatobi dari jendela. Bintang-bintang kecil berkelip seperti kenangan. Perpisahan reuni bukan hanya tentang pulang ke kota masing-masing. Ia tentang menyadari bahwa beberapa orang ditakdirkan singgah, bukan tinggal. Tapi kalau boleh meminta satu hal pada waktu, aku ingin kembali ke bangku kelas 2B, mencuri pandang ke arah Nur, dan mengatakan yang dulu tak sempat kukatakan.
Pohon pinang di tepi kolam, Daunnya jatuh ke dalam kali; Jangan kau pandang aku dalam diam, Nanti kukira kau cinta sekali.
Malam itu, sebelum tidur, aku mengetik pesan singkat ke Nur: “Masih ingat pohon kelapa?” Tidak lama kemudian, ponselku bergetar.
“Masih. Besok kita ketemu lagi, ya? Kali ini jangan berpisah di pelabuhan.”
Aku tersenyum. Tetapi pagi datang membawa kenyataannya sendiri.
Pagi berikutnya, pukul sembilan tepat, matahari Tomia sudah naik sejengkal di ufuk timur. Di Pelabuhan Waitii, kapal Fungka bersandar dengan mesin yang berdebar pelan, seperti ikut menahan perasaan. Tali-tali mulai dilepas satu per satu. Nur berdiri di geladak bersama beberapa sahabat alumni SMPN 1 Tomia angkatan 1982. Aku di dermaga, bersama Hardi Gini dan kawan-kawan lain, hanya bisa memandang.
Angin laut membawa bau garam. Ombak memukul lambung kapal, menimbulkan buih putih yang indah, tapi justru membuat dada semakin sesak. Ketika tali terakhir terlepas, serentak tangan-tangan melambai. Ada yang tersenyum, ada yang menyeka mata. Aku melambaikan tangan juga, tapi tenggorokanku tercekat. Sedih dan rindu bercampur jadi satu, persis seperti syair yang Hardi kirim semalam: “Terkenang wajahmu kembali, kasih yang kini telah pergi, sedih yang kini kurasa, semenjak kita berpisah.”
Kapal Fungka mulai bergerak perlahan. Buih putih di buritan memanjang, membelah Laut Banda yang biru. Lambaian tangan dari atas kapal semakin jauh. Aku tetap berdiri di tepi dermaga, menyaksikan kapal itu makin lama makin kecil, lalu tinggal titik hitam yang akhirnya tenggelam ditelan samudra, menuju Pulau Wangi-Wangi. Di pelabuhan, kami masih belum beranjak, seolah kaki enggan mengakui bahwa perpisahan benar-benar terjadi.
Pagi-pagi ke Pelabuhan Waitii, Membeli ikan di tepi dermaga; Jangan kau lambaikan tangan begitu, Nanti aku menangis di depan semua.
Buah pinang di atas peti, Peti diangkat ke atas kapal; Kalau memang masih cinta sejati, Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.
Aku tersenyum pahit. Di grup alumni, syair Musailama Adam masih terpampang. Malam tadi ia menyalakan rindu; pagi ini Pelabuhan Waitii mengajarkanku bahwa rindu bisa berlayar jauh sebelum kita sempat mengucapkannya. Kapal Fungka sudah hilang di Laut Banda, tetapi lambaian tangan Nur masih terasa di udara—seperti ombak yang tak pernah benar-benar selesai menyentuh pantai.
Dan aku tahu, di suatu tempat di atas kapal menuju Wanci, Nur mungkin juga sedang menatap laut, menyimpan pantun yang tak sempat dikirim, dan merasakan hal yang sama: sesak, rindu, dan cinta yang terlambat diucapkan.