
Pagi itu, sekitar pukul setengah sebelas, lima armada mobil pelan-pelan menembus jalan beraspal yang relatif licin dari Usuku menuju Desa Kulati. Sopir-sopir berhati-hati, terutama saat menghadapi penurunan bukit yang tajam menuju Pantai Hu’untete. “Utamakan keselamatan,” gumam mereka sambil tersenyum. Di balik kaca, para alumni SMPN 1 Tomia—yang kini sudah memasuki usia lansia—saling bertukar candaan. Ada yang rambutnya sudah putih, ada yang gigi sudah longgar, tapi tawa mereka masih sama nyaring seperti dulu.
Pantai dengan pasir putih seakan turut menjemput. Lima armada antri di piket penjaga pantai, masing-masing membayar Rp 5.000 per orang. Begitu pintu mobil terbuka, keluarlah peserta dengan pakaian merah bergaris-garis krem. Warna merah itu bersilau di bawah sinar matahari pagi, seolah pantulan semangat yang belum padam. Gazebo-gazebo indah yang rapat berdekatan segera dipenuhi tawa dan pelukan. Kendaraan memuntahkan muatan manusia yang sudah lama terpisah oleh jarak, waktu, dan kesibukan hidup.
Tak lama kemudian, para ibu yang masih sigap menurunkan bekal dari pickup khusus yang datang dari posko reuni. Nasi kuning, ikan goreng, dan ikan bakar tersaji rapi di atas dahan-dahan kelapa mati yang dikumpulkan para pria. Bau harum makanan menyatu dengan angin laut. Semua duduk melingkar, menyantap dengan lahap sampai kenyang dan puas. Di antara suapan, candaan mengalir deras: “Wah, dulu kita rebutan bangku, sekarang rebutan tempat duduk yang paling dekat dengan hembusan agin sepoi!”

Lalu musik mulai dilantunkan di pojokan. Badan yang sudah kaku karena usia perlahan bergerak. Ada yang masih bisa berjoget lincah, ada yang hanya mengayunkan tangan sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi semua sama-sama bahagia. Di usia yang sudah tak muda lagi, reuni ini seperti obat yang menyehatkan jiwa sekaligus menggelitik perut.
Di sela-sela tawa dan joget, pantun-pantun mengalun—ada yang mengharukan, ada pula yang bikin semua orang tertawa sampai air mata:
Pergi ke pantai mencari kerang, Kerang dipetik di pasir putih. Walau rambut sudah beruban, Reuni tetap membuat hati cerih.
Naik bukit turun ke lembah, Hati-hati jangan sampai jatuh. Meski kaki sudah tak lincah, Bertemu kawan membuat semangat tumbuh.
Nasi kuning di atas dahan kelapa, Ikan bakar harum memenuhi udara. Usia boleh sudah tua, Tapi persahabatan tak pernah pudar.
Lima mobil antri di gerbang, Bayar tiket lima ribu saja. Jangan tunggu sampai terlambat, Reuni di lansia adalah harta. Musik berdentum di pojok gazebo,
Tangan diayun meski lutut gemetar. Hidup ini singkat, jangan sia-sia, Kumpul lagi sebelum terlalu larut malam.
Pergi ke pasar beli terong, Terong digoreng sama tempe. Rambut sudah putih, gigi longgar, Tapi jogetnya masih kaya orang gila!
Naik ojek ke desa Kulati, Jalan licin bikin jantung deg-degan. Dulu kita rebutan pacar, Sekarang rebutan kursi yang ada sandarannya!
Ikan goreng di atas daun, Nasi kuning dimakan sampai habis. Aku bilang “Aku kenyang,” Tapi perutku bilang “Masih kurang, tambah lagi!”
Pantai Hu’untete pasirnya putih, Gazebo rapat bikin mobil ngantri. Dulu kita takut dihukum guru, Sekarang takut lupa bawa obat darah tinggi!
Joget-joget di tepi pantai, Pinggang kaku tapi semangat membara. Kalau jatuh jangan ditertawakan, Nanti aku bilang “Ini gaya baru, namanya goyang lansia!”
Hingga matahari semakin tinggi, tawa masih bergema di pantai Hu’untete. Mereka yang dulu sebangku, kini duduk berdampingan lagi—bukan sebagai anak sekolah, melainkan sebagai orang-orang yang sudah melewati badai kehidupan, namun masih mampu saling menggelitik dan menguatkan. Reuni ini bukan sekadar kumpul-kumpul. Ini adalah pengingat bahwa di usia lansia, pertemuan dengan sahabat lama adalah salah satu anugerah terindah yang masih bisa kita rayakan… sambil tertawa sampai perut sakit!
Semoga reuni-reuni berikutnya terus menghidupkan semangat yang sama: bahwa selama napas masih ada, selalu ada alasan untuk bertemu, tertawa, berpantun, dan mengingat bahwa kita pernah muda bersama—dan ternyata masih bisa gila bareng sampai sekarang!